HUT Sleman

Ki Bambang Widodo: Malam 1 Sura Momentum Merawat Jawa, Jiwa, dan Jawi

Muh Sugiono
16 June 2026
.
Ki Bambang Widodo: Malam 1 Sura Momentum Merawat Jawa, Jiwa, dan Jawi

Ketua RK Gamelan, Endang Mulatsih mengeduk tumpeng disaksikan Drs. Sumardani (PM - RBW).

Patmamedia.com (YOGYAKARTA) - Dalam rangka menyambut Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah, Rukun Kampung (RK) Gamelan menyelenggarakan Kendhuren Suran di Sasana Jemparingan "Kridhatama", Namburan Lor No. 16, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, Senin (15/6/2026) malam.

Ketua RK Gamelan, Endang Mulatsih, mengatakan kegiatan Kendhuren Suran digelar untuk menjalin silaturahmi antarwarga dalam menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura. Kegiatan tersebut mengusung tema "Jawa Jiwa Jawi" dengan narasumber Ki Bambang Widodo, wartawan sekaligus tokoh Tamansiswa Yogyakarta.

Acara diawali dengan pembacaan Kidung Pambuka oleh budayawan Yogyakarta, Ki Detik Wicaksono, dilanjutkan dengan kedhuk tumpeng oleh Ketua RK Gamelan Endang Mulatsih yang diserahkan kepada Mantri Pamong Praja Kemantren Kraton, Drs. Sumardani.

Drs. Sumardani mengapresiasi dan mengucapkan selamat atas digelarnya Kendhuren Suran sebagai wahana nguri-uri tradisi Jawa dalam menyambut Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan Tahun Baru Jawa 1 Sura 1960 Jimakir.

Dalam paparannya, Ki Bambang Widodo mengemukakan, malam 1 Sura bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Menurutnya, malam tersebut merupakan momentum perenungan untuk kembali pada tiga hal yang saling mengikat, yakni Jawa, Jiwa, dan Jawi.

"Jawa mengingatkan kita pada identitas dan nilai luhur yang diwariskan leluhur, seperti gotong royong, tepa selira, dan nguwongke uwong. Jiwa mengajak kita hening sejenak, mawas diri, dan bertanya tentang makna hidup yang sedang kita jalani. Sedangkan Jawi, melalui aksara dan sastra warisan leluhur, menjadi jembatan agar nilai dan kesadaran itu tidak putus ditelan zaman," ujarnya.

"Di malam hening ini, mari kita tidak hanya merayakan, tetapi juga merenung: apakah kita masih menjadi orang Jawa yang berjiwa Jawa, yang hidup dalam bahasa dan laku Jawa?" ungkap Ki Bambang Widodo, yang juga menjabat Ketua Bidang Ikatan Alumni UST Yogyakarta.

Lebih lanjut, Ki Bambang Widodo mengajak masyarakat untuk nguri-uri aksara Jawa dengan membaca kembali berbagai karya sastra klasik, seperti Serat Wedhatama, Serat Centhini, dan Sastra Gendhing karya Sultan Agung Hanyokrokusumo yang memuat ajaran filsafat serta kebudayaan tentang harmoni kehidupan.

Menurutnya, pitutur luhur Sultan Agung yang terkenal, "Mangasah Mingising Budi, Mamasuh Malaning Bumi", mengajarkan keserasian hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam. Pitutur tersebut mengingatkan Kawula Mataram untuk mempertajam olah rasa, lantip ing panggraita, pandai membaca yang tersirat, serta sadar memelihara lingkungan hidup sehingga tercipta keseimbangan antara manusia dan bumi tempat berpijak.

Ki Bambang Widodo berharap, pada Tahun Baru Jawa yang ditetapkan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1 Sura Tahun Alip 1555 Saka, masyarakat tidak hanya menambah hitungan hari, tetapi juga menambah kedalaman rasa.

"Menjadikan 1 Sura sebagai awal untuk merawat Jawa dalam identitas, menghidupkan Jiwa dalam laku, dan menjaga Jawi dalam tutur bahasa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan asal-usul dan nilai-nilai yang menjadikannya manusia seutuhnya," tuturnya.

Acara  dihadiri Danramil dan Kapolsek Kemantren Kraton, Lurah Panembahan, pengurus kampung, serta warga masyarakat. Diakhiri dengan lampah ratri mengelilingi Kampung Gamelan, Yogyakarta. (RBW).***

Dilarang

Baca Juga