‘Warsa lan Mbak Desi’: Sabtu Migunani yang Menumbuhkan Berkah dari Lahan Sempit
Wijatma T S
17 October 2025
.
Lahan KWT Dewi Sri menjadi tujuan anak-anak PAUD Asparagus I saat melakukan Edutrip. (PM-ist)
SETIAP Sabtu pagi, aroma bumbu pecel dan brambang goreng menyeruak dari halaman kecil di depan Balai RW 50–51 Babadan Baru, Kentungan. Di sana, para ibu anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Sri Kentungan menata meja, menyiapkan produk, dan menyambut warga yang datang. Mereka menyebut kegiatan rutin itu dengan nama yang unik: “Warsa lan Mbak Desi”, singkatan dari Warung Sabtu Migunani lan Mberkahi Dewi Sri.
Nama yang terdengar sederhana itu kini menjadi simbol semangat dan kemandirian para perempuan Kentungan dalam mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Dari Keterpaksaan Jadi Keberkahan
Tiga tahun lalu, ketika program ketahanan pangan digulirkan, sebagian warga Kentungan menganggap mustahil bertani di lingkungan padat penduduk. Lahan kosong nyaris tak ada, halaman rumah sempit, dan tanah yang tersisa hanya di pinggir gang. Tapi bagi Sulistiyani, ketua KWT Dewi Sri, tantangan itu justru jadi pemantik semangat.
“Awalnya kami melakukan kegiatan ini dengan rasa keterpaksaan. Tapi lama-lama justru jadi berkah. Kami belajar menanam sayur di pot, bertanam vertikal, dan memelihara ikan lele di ember,” tutur Sulistiyani dengan senyum lebar.
Dari lahan sempit itu lahirlah ide urban farming, pertanian perkotaan yang menyesuaikan ruang terbatas dengan kreativitas tinggi. Kini, halaman-halaman rumah di Kentungan hijau oleh bayam brazil, cabai, hingga daun kelor.
Setiap Sabtu, kegiatan Warsa lan Mbak Desi menjadi titik temu warga. Para anggota membawa hasil panen atau olahan sendiri, keripik bayam brazil, brambang goreng, bumbu pecel, hingga sambal kemasan. Hasil penjualan tidak hanya menambah penghasilan keluarga, tapi juga mempererat rasa kebersamaan.
“Kami ingin kegiatan ini bukan hanya untuk ekonomi, tapi juga sosial. Ada kebersamaan, ada semangat gotong royong. Kami saling membantu, saling belajar,” kata Sulistiyani.
Menariknya, warung Sabtu itu juga menjadi tempat belajar bagi banyak pihak. Anak-anak PAUD hingga mahasiswa UGM, UPN, dan UNY sering datang untuk observasi dan belajar pertanian urban.
“Kami bangga bisa jadi tempat belajar masyarakat. Artinya, yang kami lakukan bermanfaat lebih luas,” tambahnya.
Dukungan dan Harapan
Pada peringatan tiga tahun KWT Dewi Sri, Jumat (17/10/2025), Ulu-Ulu Condongcatur, Murgiyanta, SE, menyampaikan apresiasinya atas konsistensi kelompok ini.
“KWT Dewi Sri telah menjadi contoh bagaimana program ketahanan pangan bisa hidup di tengah masyarakat. Semoga tetap kompak dan terus berinovasi,” ucapnya.
Ari Indriyani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Condongcatur, menambahkan bahwa pengelolaan bantuan kini dilakukan melalui BUMKal agar lebih efisien dan transparan.
“Kami berharap bantuan seperti bibit, jamur, dan polybag dimanfaatkan sebaik-baiknya dan didokumentasikan dengan baik,” katanya.
Kini, dengan 40 anggota aktif dan prestasi sebagai Juara II Evaluasi Kelompok Tani Berprestasi Kelas Pemula Dinas Pertanian Sleman 2025, KWT Dewi Sri membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk tumbuh.
“Yang penting mau bergerak. Dari halaman kecil pun bisa lahir manfaat besar,” kata Sulistiyani menutup obrolan.
Dari Babadan baru dan Kentungan, para perempuan tangguh ini menanam bukan hanya sayur dan rempah, tapi juga menanam inspirasi, bahwa kerja bersama, semangat belajar, dan rasa syukur bisa membuat lahan sempit tumbuh menjadi sumber berkah yang luas.