Platinum

Tradisi Ketupat Lebaran di Pasar Kolombo, Pedagang Tiban Mengais Rezeki

Wijatma T S
19 March 2026
.
Tradisi Ketupat Lebaran di Pasar Kolombo, Pedagang Tiban Mengais Rezeki

"Pasar tiban" penjual selongsong ketupat menjelang hari lebaran di pasar Kolombo. (PM-ist)

PAGI itu, Kamis (19/3/2026), denyut kehidupan terasa lebih cepat di Pasar Kolombo, Desa Condongcatur, Sleman. Lorong-lorong pasar di Jl. Kaliurang Km 7 dipenuhi langkah tergesa, suara tawar-menawar, dan aroma bumbu dapur yang khas menjelang Lebaran.

Namun di antara hiruk pikuk itu, ada cerita lain yang tak kalah kuat: kisah para pedagang tiban selongsong ketupat yang datang dari berbagai daerah, membawa harapan sederhana, rezeki musiman yang dinanti setahun sekali.

Sejak sehari sebelumnya, Rabu (18/3), sebagian dari mereka sudah tiba. Ada yang menggelar tikar seadanya, bahkan menginap di sudut pasar demi mendapatkan tempat strategis. Mereka datang dari Godean, Prambanan, Magelang, Klaten, hingga wilayah Sleman seperti Besi, Candi, dan Pakem.

Bagi mereka, Pasar Kolombo bukan sekadar tempat berdagang, melainkan ruang pertemuan antara tradisi dan penghidupan.

Di antara para penjual itu, Koidin, warga Klidon, Ngaglik, tampak sibuk melayani pembeli. Tangannya cekatan menyusun selongsong ketupat dari janur. Ia mengaku telah bertahun-tahun menjalani rutinitas ini.

“Lumayan, Mas. Ini kerja musiman, tapi hasilnya bisa buat tambahan kebutuhan Lebaran,” ujarnya sambil tersenyum.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, mulai Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per 10 selongsong, tergantung ukuran. Tak hanya itu, beberapa pedagang juga menjajakan ketupat matang siap santap, dibanderol sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per 10 biji.

Menurut Wasana, Humas Kalurahan Condongcatur, kehadiran para pedagang tiban ini bukan hal baru. Justru sudah menjadi tradisi tahunan yang melekat kuat.

“Setiap Lebaran, ketupat itu wajib. Tanpa ketupat dan opor, rasanya seperti ada yang kurang,” jelasnya saat memantau langsung situasi pasar.

Di sisi lain pasar, antrean panjang mengular di lapak daging dan bumbu giling. Wajah-wajah lelah bercampur semangat terlihat dari para pembeli yang rela menunggu demi mendapatkan bahan terbaik untuk hidangan Lebaran.

Suyatini, warga Sengkan Joho, Condongcatur, menjadi salah satunya. Ia harus bersabar di tengah kerumunan demi mendapatkan daging sapi segar.

“Harganya memang naik dari Rp150 ribu jadi Rp160 ribu per kilo, tapi tetap dibeli. Lebaran itu momen kumpul keluarga, jadi harus ada hidangan spesial,” tuturnya.

Keramaian yang memuncak juga membawa kewaspadaan tersendiri. Dari pengeras suara, petugas keamanan pasar, Harsono, terus mengingatkan pengunjung agar menjaga barang bawaan.

“Mohon tas diletakkan di depan, waspada di kerumunan. Pedagang juga kalau meninggalkan kios, titipkan ke tetangga,” suaranya menggema di antara riuh pasar.

Di balik padatnya Pasar Kolombo, tersimpan cerita tentang tradisi yang terus hidup, tentang tangan-tangan yang merangkai janur dengan harapan, dan tentang orang-orang yang rela berdesakan demi menghadirkan kebahagiaan sederhana di meja makan Lebaran.

Di tempat inilah, ketupat bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan, kerja keras, dan harapan yang tak pernah putus.

Dilarang

Baca Juga