Platinum

Saparan Ki Ageng Wonolelo Tebar 1,5 Ton Apem, Harda: Bukti Lestarinya Budaya Sleman

Wijatma T S
24 July 2026
.
Saparan Ki Ageng Wonolelo Tebar 1,5 Ton Apem, Harda: Bukti Lestarinya Budaya Sleman

Bupati Harda Kiswaya dan Wabup Danang Maharsa (tenngah) menebarkan kue apem Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo. (PM-ist)

Patmamedia.com (SLEMAN) — Tradisi rebutan sekitar 1,5 ton kue apem menjadi puncak kemeriahan Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59 yang digelar di Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Jumat (24/7) sore.

Ribuan warga memadati lokasi untuk mengikuti tradisi tahunan yang sarat makna spiritual dan budaya tersebut.

Upacara adat yang rutin digelar setiap bulan Sapar ini turut dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya dan Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa.

Tradisi tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Wonolelo yang dikenal berjasa dalam pembangunan spiritual maupun sosial masyarakat setempat.

Selain mengenang jasa tokoh leluhur, Saparan Ki Ageng Wonolelo juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah, rezeki, dan keselamatan yang diterima masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Widodomartani yang terus menjaga tradisi warisan leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

"Tradisi Saparan Wonolelo ini menjadi sarana kita untuk selalu ingat akan asal-usul dan sejarah, sekaligus mempererat tali silaturahmi serta memperkokoh semangat gotong royong antarwarga," ujar Harda.

Menurutnya, penyelenggaraan Saparan Wonolelo menjadi bukti nyata komitmen masyarakat dalam melestarikan budaya adiluhung yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu prosesi yang paling ditunggu adalah tradisi sebar dan rebutan apem. Tahun ini, sekitar 1,5 ton kue apem dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Ribuan warga tampak antusias berebut apem yang dipercaya membawa berkah.

Ketua Trah Ki Ageng Wonolelo, Kawit Sudiyono, menjelaskan apem bukan sekadar sajian tradisional, tetapi memiliki filosofi mendalam.

Kata apem berasal dari bahasa Arab afwun yang berarti memohon ampunan kepada Allah SWT.

Ia mengatakan, tradisi sebar apem mengandung pesan agar setiap orang senantiasa bersikap rendah hati (andhap asor) serta memperkuat nilai-nilai kasih sayang, kerukunan, dan persaudaraan di tengah kehidupan bermasyarakat.

"Tradisi sebar dan rebutan apem merupakan lambang agar kita senantiasa bersikap rendah hati (andhap asor). Menebar apem juga melambangkan penyebaran harapan, rasa kasih sayang, kerukunan, serta persaudaraan di tengah masyarakat," jelas Kawit.

Selain rebutan apem, rangkaian Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59 juga diisi dengan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo, pembacaan doa tahlil, serta ziarah ke makam Ki Ageng Wonolelo sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat Widodomartani. (atm)

Dilarang

Baca Juga