Platinum

Pesan Segenggam Pasir di Tangan Faizan

03 April 2022
.
Pesan Segenggam Pasir di Tangan Faizan

Faizan dengan latar belakang karya-karyaya. (PM/Nur Cholis)

Yogyakarta (PM ) -Di tangan Faizan Zuhairi Muakhadatu, segengggam pasir pantai sanggup mengungkapan kebesaran Tuhan, sekaligus menghasilkan gemerincing pundi-pundi  bagi keluarganya. Bermodal adonan pasir, cat minyak dan lem perekat, dengan lincah seniman kaligrafi asal Lampung ini mengguratkan pesan-pesan "langit" yang sarat estetika dan menyejukkan jiwa.  

Pada karya bertajuk Asmaul Husna, misalnya, tergambar jalinan pesan ritmis pasir terselip di balik semburat komposisi warna lembayung.  Meski kesan memucat pada hampir setiap karyanya ini sulit ditampik, toh pesan kemanusiaan yang hendak disampaikan lewat Asmaul Husna ini  terlihat begitu lugas, tapi tandas tanpa batas. 

"Yang ingin saya sampaikan, Tuhan itu Maha Indah. Dan manusia tanpa peduli melihat agama yang dipeluknya, sama-sama punya kewajiban untuk saling mengindahkan-Nya,  kapan dan di manapun," ujar mantan crosser Marlboro Mail Amerika-Canada (1997) saat ditemui patmamedia.com di galeri workshop  Pasir Bertasbih (Aqil al Akhyar Art) Karanganom, RT.05/RW.03, Karangmojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Jogja. 

Di mata Bang Ojan, begitu sapaan akrabnya, guratan indah Asmaul Husna termasuk karya favorit kebanggaanya. Dibilang favorit, sebab padanya tersimpan kisah  pribadi yang pelik dan sulit dilupakan. 

"Kala itu, saya kuliah susah banget. Menghidupi diri sendiri saja sudah repot, masih mikir kepiye carane sekolah (kuliah-red) kudu kelar," tutur alumni Fakultas Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Sunan Kalijaga seraya menambahkan akan keyakinannya bahwa Tuhan itu Maha Penyayang. "Alhamdulillah, kuliah kelar tidak mengecewakan orang tua," kenangnya.

Mulai debutnya tahun 1996. Ada rasa jengah resah dan terkesan monoton selama menggunakan cat minyak dan media kanvas. Tantangannya nyaris hanya berkutat itu-itu saja. "Tiba-tiba saya ingat pasir putih di pantai daerah saya, Lampung. Nah, dari situlah muncul ide pasir bertasbih", papar Ojan. 

Berbekal optimisme, tahun 2002 Ojan banting setir. Pasir laut dijadikan sebagai basis kreasinya dalam berkesenian. "Susah susah gampang. Kendala awalnya, saat memadukan warna. Nggak seperti cat bisa gampang ditimpa. Ini harus sekali jadi tidak bisa salah," jelasnya.

Alternatifnya, Ojan lalu bereksperimen. Supaya pasir dan cat bisa menyatu maka Ojan memakai lem sebagai perekatnya. Sedang komposisi warnanya didapat dengan cara bikin adonan lem dengan cat seusai kebutuhan. "Tapi adakalanya adonannya dibuat sesuai naluri saja, sesuai dengan desain dan huruf-huruf (Hijaiyah) yang hendak saya poles," katanya. 

Hanya saja, lanjut Ojan, kendalanya pada sumber pasir itu sendiri. Diakui Ojan, setiap wilayah memiliki spesifikasi pasir dengan corak serta karakternya masing masing. Tidak semua pasir bisa nyambung dengan ide dasar atau gagasan awal yang dibangun sejak semula. Makanya ia tidak mau ambil resiko dengan mengambil pasir di sembarang tempat. 

Demi utuhnya pesan estetis yang hendak ditabuhnya, pasir yang digunakan untuk melukis kaligrafi berasal dari berbagai pantai yang ada di Indonesia. Di antaranya ada yang diambil dari Lampung, Bangka, Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur, Kalimantan, Lombok, Sumbawa, Kutai, Manado, dan lain-lain. 

"Pemilihan pasir laut dari berbagai daerah ini semata demi mendapatkan warna dan karakter material pasir yang berbeda-beda," ungkap suami dari wanita bernama Upik Sukowati.

Hanya saja, imbuh Ojan,  khusus pasir pantai Parangtritis sebenarnya sangat bagus.  Corak warna dan karakternya nyaris tak berbeda dengan pasir daerah lain.  

Malas Transaksi di Pameran
Jerih payahnya tak sia-sia. Dari tangannya, Ojan telah  menghasilkan lebih dari ratusan lebih karya. Salah satu karya kaligrafi yang terbilang monumental adalah Al-Fatihah dan Asmaul Husna. Nilai rupiah karya bertajuk Asmaul Husna ini pun fantastis. "Lumayanlah, pokoknya di atas Rp 100 juta. Sedang yang Al-Fatihah masih di bawah Rp 100 juta," kenangnya.

Sebagian besar karya Ojan bisa dinikmati lewat serangkaian pameran anjangsana yang digeber pada even organizer tertentu atau pihak terkait seperti Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sleman. "Mereka memfasilitasi setengah tahun ini," tambah Faizan yang mengaku sudah mengikuti beberapa kali pameran dengan bantuan dinas setempat," ungkapnya.

Kendati rencana pameran tunggal belum terlaksana, kreasi kaligrafi pasir bertasbih Aqil Al-Akhyar Art (sands of calligraphy) ini berkali sudah mendapat lirikan para pembeli asing. Saat gelaran pameran Inacraft 2012  misalnya, ada buyers China, Dubai dan Canada yang berminat membeli. 

Hanya saja, kata Ojan, mereka enggan melakukan transaksi di tempat pameran. "Mereka tidak cuma ingin barangnya saja, tapi juga bermaksud melihat proses kreativitas pasir bertasbih itu berlangsung. Jadi pinginnya gitu, setuju ketemu di showroom"  jelas Ojan. ***g

 

Dilarang

Baca Juga