.
Kepala Dinas KEsehatan Sleman, dr. Cahya Purnama, M.Kes, (kiri) saat jumpa pers di Loby gedung lama Setda Sleman, Selasa (28/10). (PM-Jatmo)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam menekan angka stunting terus menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data terbaru tahun 2025, prevalensi stunting di Sleman turun menjadi 4,29 persen atau sekitar 4,2 persen, menurun dari 4,41 persen pada tahun 2024.
Meski secara umum mengalami penurunan, masih terdapat empat wilayah yang menempati posisi tertinggi dalam kasus stunting, yaitu Pakem (6,5%), Minggir (6,2%), Seyegan (6,0%), dan Turi (5,9%).
“Empat wilayah ini menjadi fokus utama intervensi kami karena angka stuntingnya masih di atas rata-rata kabupaten,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr. Cahya Purnama, M.Kes., Selasa (28/10/2025).
Menurut Cahya, persoalan utama di wilayah tersebut adalah akses air bersih dan pola asuh gizi anak.
“Di beberapa titik, air masih mengandung bakteri coli. Kalau air seperti itu dikonsumsi, anak akan sering diare dan pertumbuhannya terganggu,” jelasnya.
Baca Juga: Kasus Leptospirosis Masih Terkendali, Dinkes Sleman Imbau Warga Waspada Aktivitas di Lingkungan
Sementara itu, wilayah dengan angka stunting terendah berada di Berbah (3,2%), disusul Gamping (3,4%), Cangkringan (3,6%), dan Mlati (3,3%).
Cahya menyebut penurunan ini menunjukkan hasil dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk CSR, lembaga masyarakat, dan pemerintah kalurahan.
“Kami terus melakukan intervensi di wilayah rawan dengan program edukasi gizi, kelas menyusui, pemberian makanan tambahan, serta kampanye bebas asap rokok di rumah,” ujarnya.
Asupan gizi dan rokok masih jadi faktor dominan
Dinkes Sleman mencatat dua faktor utama yang paling memengaruhi stunting, yakni asupan gizi yang tidak adekuat dan perilaku merokok di dalam rumah.
“Asupan gizi yang kurang memengaruhi sekitar 80 persen kasus stunting, sedangkan perilaku merokok di rumah berkontribusi 66,5 persen,” terang Cahya.
Ia menegaskan pentingnya perhatian sejak remaja putri hingga masa kehamilan.
“Remaja tidak boleh anemia, ibu hamil harus cukup energi, dan bayi wajib mendapat asupan seimbang. Kalau anak diasuh kakek-nenek atau ART, mereka juga harus paham pola makan yang benar,” katanya.
Menurutnya, kebiasaan merokok di dalam rumah memperburuk kondisi anak.
“Partikel asap rokok menempel di sofa atau pakaian. Kalau bayi diletakkan di situ, partikel halusnya bisa masuk ke paru-paru dan menyebabkan anak sering sakit,” ungkapnya.
Cahya menjelaskan, pemerintah daerah terus memperkuat berbagai program pencegahan, di antaranya:
- Kelas menyusui dan edukasi gizi seimbang
- Program pemberian makanan tambahan (PMT)
- Gerakan Keluarga Sehat Tanpa Asap Rokok (Gasbro)
- Peningkatan layanan berhenti merokok
- Intervensi sanitasi dan air bersih di daerah rawan coli
“Kami ingin memastikan intervensi ini berjalan di seluruh wilayah, terutama Pakem, Minggir, Seyegan, dan Turi,” tegasnya.
Waspada lonjakan ISPA di musim pancaroba
Selain fokus pada stunting, Cahya juga mengingatkan adanya peningkatan kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) pada musim pancaroba tahun ini.
“Kasus ISPA di Sleman memang naik, tapi masih dalam kategori aman. Biasanya sembuh dalam lima sampai tujuh hari kalau daya tahan tubuh baik,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga ventilasi rumah, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam, batuk, atau sesak napas.
“Kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis kami sarankan melakukan vaksinasi influenza agar lebih terlindungi,” tambahnya.
Menutup keterangannya, Cahya menegaskan, keberhasilan menurunkan stunting tidak bisa dilepaskan dari peran masyarakat dan media.
“Peran media sangat penting untuk menyebarluaskan pesan tentang gizi seimbang dan bahaya asap rokok di rumah. Stunting itu irreversible, kalau sudah terjadi, tidak bisa kembali,” tegasnya. (atm)