Platinum

Menunggu Pulang ke Pasar Godean

Muh Sugiono
23 October 2025
.
Menunggu Pulang ke Pasar Godean

Jembatan penyeberangan yang menghubungkan lambung pasar dengan area parkir non tunai sebagai salah satu fasilitas baru Pasar Induk Godean. (PM-Muh Sugiono)

PAGI itu, Rabu 22 Oktober 2025, udara lembap menyelimuti Pasar Induk Godean. Hujan semalam masih menyisakan genangan di beberapa sudut bangunan. Di lantai dua, tampak talang air menetes pelan dari sambungan yang belum rapat. Di bawahnya, para pekerja sibuk memanjat tangga, mengganti seng bocor dengan lembaran baru.

Di sela hiruk-pikuk itu, datang rombongan DPRD Sleman yang dipimpin Wakil Ketua II, Hasto Karyanto. Mereka ingin memastikan,  apakah pasar yang dibangun dengan dana ratusan miliar rupiah ini sudah siap digunakan? Jawabannya, ternyata belum.

Pasar Induk Godean sebenarnya sudah diresmikan dengan gegap gempita oleh Presiden Joko Widodo pada Agustus 2024. Namun setahun lebih berselang, bangunan megah di jantung Sleman barat itu masih kosong. Para pedagang yang seharusnya menjadi nyawa pasar belum juga bisa menempatinya.

Mereka masih bertahan di pasar penampungan di Dusun Berjo, Kalurahan Sidoluhur, sekitar  5 kilometer dari lokasi asli. Di sana, kios-kios darurat berderet sempit di bawah atap seng panas, sementara pengunjung tak seramai dulu.

“Kalau boleh jujur, kami sudah ingin sekali pindah,” kata Kurniyanto, bendahara Paguyuban Pedagang Pasar Godean, saat ditemui di sela sidak DPRD. “Biar bagaimanapun, tempat di penampungan  cuma sementara. Kami rindu pasar kami sendiri.”

Pasar yang Tak Selesai Diceritakan

Rencana pemindahan pedagang sebenarnya sudah disusun rapi. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman bahkan sempat menjadwalkan relokasi pada 15 Oktober 2025. Namun dua hari sebelum tanggal itu, jadwal boyongan tiba-tiba dibatalkan. Alasannya sederhana, tapi penting:  pasar belum benar-benar siap.

“Masih ada beberapa titik bocor di talang dan atap,” ujar Aris Herbandang, Sekretaris Disperindag Sleman. “Kalau hujan deras, air bisa langsung kena dagangan. Kami tidak mau ambil risiko.”

Selain masalah bocor, jalan akses menuju pasar juga masih dalam perbaikan berat. Truk pengangkut barang dan pembeli belum bisa keluar-masuk dengan lancar. Bangunan pun belum diserahterimakan sepenuhnya kepada Pemkab Sleman.

“Lebih baik ditunda sedikit daripada nanti ramai masalah di lapangan,” tambah Aris.

Namun di sisi lain, para pedagang sudah kehilangan kesabaran. Lebih dari setahun mereka bertahan di penampungan dengan omzet menurun tajam. Mereka tak lagi sabar menunggu kata “siap”.

“Kami maunya pindah dulu saja, yang belum sempurna diperbaiki sambil jalan,” ujar Kurniyanto. “Yang penting bisa jualan di tempat yang lebih tertata. Bocor sedikit, bisa disiasati.”

Nada serupa datang dari Ketua Paguyuban, Sri Kundari, yang menilai 90 persen pedagang sudah siap. “Kalau bisa kami ingin sebelum Natal dan Tahun Baru sudah pindah. Itu musim ramai,” ujarnya.

Bagi mereka, bangunan pasar yang sudah berdiri megah itu bukan sekadar tempat jualan, melainkan simbol kehidupan yang tertunda.

Kehati-hatian Pemerintah

Namun bagi pemerintah, pasar bukan sekadar gedung. Ia adalah sistem besar yang harus bekerja rapi: mulai dari drainase, manajemen parkir, hingga keamanan.

Bupati Sleman Harda Kiswaya menyebut, relokasi baru akan dilakukan setelah semua fasilitas, terutama sistem parkir nontunai, benar-benar siap.

“Saya tidak mau ada kebocoran, baik di atap maupun di sistemnya,” ujarnya berkelakar saat meninjau lokasi beberapa waktu lalu.

Sikap hati-hati ini diamini DPRD Sleman. Dalam sidak 22 Oktober, Hasto Karyanto menegaskan agar pemindahan tidak dipaksakan sebelum benar-benar siap. “Ini menyangkut hajat hidup banyak orang,” katanya. “Kalau hujan dan masih bocor, yang repot nanti pedagang juga.”

Dari hasil peninjauan dewan, masih ditemukan beberapa kios tergenang air. Perbaikan sudah dilakukan, dengan dana sekitar Rp500 juta dari APBD, namun kemungkinan perlu tambahan anggaran lagi.

Namun penantian panjang ini membuat sebagian pedagang mulai pesimis. Mereka merasa pembangunan pasar yang sudah diresmikan seharusnya bisa segera dimanfaatkan, tidak dibiarkan kosong lebih dari setahun.

“Bangunannya sudah megah, tapi kalau tidak segera digunakan, kan mubazir,” keluh seorang pedagang sayur yang menolak disebut namanya.

Namun di balik keluhan itu, ada harapan yang tak padam,  bahwa ketika pasar baru benar-benar dibuka, mereka bisa kembali bernapas lega. Dagangan tertata, pengunjung ramai, dan roda ekonomi Godean kembali berputar.

Lebih dari Sekadar Revitalisasi

Revitalisasi Pasar Godean bukan hanya proyek fisik. Ia menyentuh jantung ekonomi rakyat di Sleman barat. Dari total 1.600 pedagang yang akan menempati gedung baru, ada 186 kios, sekitar 1.200 los, dan 300 lapak lesehan. Setiap los itu menyimpan cerita perjuangan, modal, dan keluarga yang bergantung padanya.

Kini, semua cerita itu masih tertahan di pasar penampungan yang sempit dan panas, menunggu lampu hijau dari pemerintah. Dan entah mengapa, penantian itu terasa lebih panjang dari jarak 5 kilometer yang memisahkan mereka dengan pasar yang sudah mereka sebut “rumah” itu.

Pasar Godean adalah cermin kecil dari tantangan pembangunan publik di banyak daerah: di atas kertas rampung, di lapangan masih perlu waktu. Antara kehati-hatian birokrasi dan harapan rakyat kecil, selalu ada jeda yang panjang.

Dan, dalam jeda itu para pedagang terus menunggu, sembari menggantung doa mereka di bawah atap seng pasar penampungan: “Semoga kali ini, benar-benar jadi pindah.” *

Dilarang

Baca Juga