.
Lurah Wonokromo, Machrus Hanafi (baju putih) bersama lemper yang sudah dipotong. (PM-Wagino)
Patmamedia.com (BANTUL) — Tradisi Rebo Pungkasan di Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, berlangsung meriah dengan kirab lemper raksasa sepanjang dua meter, Selasa (11/8/2026) malam.
Lemper berdiameter sekitar 50 sentimeter itu diarak bersama gunungan berisi hasil bumi dari Masjid Taqwa Wonokromo menuju Balai Kalurahan Wonokromo. Kirab diikuti warga dari sejumlah padukuhan.
Sesampainya di balai kalurahan, lemper raksasa tersebut kemudian dipotong. Ratusan lemper berukuran kecil selanjutnya dibagikan kepada warga yang telah menunggu di lokasi.
Lurah Wonokromo, H Machrus Hanafi, mengatakan Rebo Pungkasan merupakan tradisi warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan.
“Upacara adat Rebo Pungkasan merupakan salah satu aset yang telah dikukuhkan dan dikeluarkan sertifikatnya dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2019,” ujar Machrus.
Menurutnya, Rebo Pungkasan bukan sekadar kegiatan untuk bergembira dan berkumpul.
Tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk bermunajat dan mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi, kesehatan, serta memanjatkan doa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai bala.
“Semoga kita semua tetap diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah,” katanya.
Tradisi Rebo Pungkasan sendiri digelar setiap Rabu terakhir pada bulan Sapar. Selain menjadi bagian dari pelestarian budaya, tradisi ini juga menjadi ruang kebersamaan masyarakat Wonokromo.
Sementara itu, sambutan Bupati Bantul yang dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Yanatun Yunadiana, S.Si., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Wonokromo yang konsisten mempertahankan nilai-nilai budaya.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bantul, saya mengapresiasi dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada masyarakat Wonokromo yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan,” katanya.
Bupati mengajak masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan Rebo Pungkasan sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang diterima.
Ia menegaskan, tradisi tersebut bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi juga sarana memperkuat persatuan dan kesatuan antarwarga Wonokromo maupun masyarakat Bantul secara umum.
“Semoga warga Wonokromo selalu diberi kesehatan, rezeki lancar, masyarakat adem ayem, golong gilik, serta gotong royong tetap dijaga,” pesannya. (Wag)