HUT Sleman

Joglo Singodikaran Gelar Sarasehan 200 Tahun Perang Jawa, Angkat Sejarah, Priyayi, dan Raden Saleh

Wijatma T S
03 December 2025
.
Joglo Singodikaran Gelar Sarasehan 200 Tahun Perang Jawa, Angkat Sejarah, Priyayi, dan Raden Saleh

Raden Saleh. (PM-ist)

Patmamedia.com (SLEMAN) – Joglo Singodikaran akan menjadi pusat refleksi sejarah dalam rangka memperingati 200 tahun Perang Jawa. Serangkaian kegiatan bertajuk “Sarasehan 200th Perang Jawa: Narasi Peristiwa” akan diselenggarakan pada Minggu, 14 Desember 2025 di Kadisono, Margorejo, Tempel, Sleman.

Panitia penyelenggara, Harjuno mengatakan, acara utama diisi oleh R. Chaerul Wardana dan Yoga WR, serta monolog “Berita dari Jauh” persembahan Totok Suryo Nugroho.

Sarasehan ini, lanjut Harjuno, bersifat khusus undangan, namun masyarakat umum dapat menghadiri Gelar Pusaka dan Manuskrip yang berlangsung pada 14–16 Desember 2025 pukul 16.00–21.00 WIB.

“Kegiatan ini merupakan kerja bersama Singodikaran, Pandanwangi Project, dan Samankejaning sebagai bentuk pelestarian nilai sejarah bangsa, khususnya semangat perjuangan di masa Perang Jawa (1825–1830),” terangnya.

Harjuno mengungkapkan, Joglo Singodikaran merupakan bagian dari kompleks nDalem Singodikoro, bangunan bersejarah yang berdiri sekitar tahun 1790–1800 oleh R.M. Puspo Wijoyo (Kyai Sentani Singodikoro I), ketika menjabat sebagai glondong di Kadisono.

Hingga tahun 1948, bangunan ini menjadi kantor Kalurahan Kadisono dan jabatan lurah diwariskan turun-temurun selama tiga generasi.

Sejumlah peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah nDalem Singodikoro antara lain: Menjadi tempat berkumpulnya laskar prajurit Diponegoro dalam sub-peristiwa Perang Mloko (1826). Tahun 1883 menjadi tempat persinggahan putra lelaki satu-satunya Sultan HB V, Gusti Timur Muhammad Suryaningalogo, dan GKR Sekar Kedaton sebelum tertangkap di Balerante.

Selain itu, menjadi markas tentara kelas kedua dan Heiho Keibodan masa Jepang. Lalu pada awal kemerdekaan dimanfaatkan sebagai sekolah SMEP Negeri Tempel, dan kini menjadi pusat kegiatan budaya seperti upacara adat dan dolanan anak.

Warisan sejarah tersebut menjadikan lokasi ini sangat relevan sebagai ruang edukasi perjuangan Nusantara.

Raden Saleh dan Perang Jawa: Narasi Sejarah yang Saling Bertemu

Sarasehan juga mengangkat sosok Raden Saleh, pelukis Jawa berkelas dunia yang lahir Mei 1811 di Semarang, hanya beberapa bulan sebelum invasi Inggris di Jawa.

Perjalanannya meninggalkan tanah air pada masa pecahnya pemberontakan Diponegoro (1825), kemudian bermukim di Eropa (Amsterdam, Paris, Dresden) dan berkontemplasi tentang identitasnya yang “setengah Jawa, setengah Arab, atau setengah Belanda?”

Persoalan identitas dan pergolakan era kolonial ini menjadi bagian penting refleksi pada peringatan dua abad Perang Jawa.

Bandit atau Ksatria: Memulihkan Narasi Para Prajurit

Dalam diskursus Perang Jawa, para mantan kombatan prajurit Sultan HB II seperti Singoborong dan Singoyudho kerap mendapat stempel negatif. Padahal, mereka berperan dalam sejumlah aksi penyerbuan besar di Pisangan dan Lengkong.

Tidak satu pun bantuan dari Turki Utsmani datang untuk Diponegoro. Seluruh panglima justru bertempur dengan tekad kuat menghancurkan pasukan kolonial Belanda.

Formasi pasukan berkuda dalam peperangan pun ditata layaknya ornamen pada batu nisan: pasukan pendobrak membentuk segitiga di depan, disusul barisan Tumenggung dan pengawal, kemudian pasukan inti sebagai penusuk dari dua sisi.

Narasi ini menjadi upaya meluruskan sejarah: mereka bukan brandal, melainkan ksatria bangsa.

Pusaka dan Manuskrip: Warisan yang Bernapas

Gelar pusaka dan manuskrip dalam rangkaian acara ini menjadi sarana edukasi nilai historis benda-benda adat peninggalan leluhur.

Manuskrip yang berasal dari abad ke-17 diyakini memiliki daya magis yang memancarkan kekuatan spiritual bagi para pembacanya.

Sementara pusaka karya empu menghadirkan energi simbolik yang terpatri dalam setiap lipatan pamor dan bilah logam, warisan estetika dan filosofi yang masih hidup hingga kini.

Peringatan ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran lintas generasi untuk terus menjaga kebudayaan, sejarah perjuangan, dan identitas bangsa.

Dilarang

Baca Juga