HUT Sleman

Gerakan Akar Rumput Jadi Kekuatan Nyata Penanganan Sampah di Sleman

Wijatma T S
13 June 2025
.
Gerakan Akar Rumput Jadi Kekuatan Nyata Penanganan Sampah di Sleman

(PM-kus)

Patmamedia.com (SLEMAN) – Penanganan sampah di Sleman tak lagi bisa hanya mengandalkan program dari atas. Dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, gerakan masyarakat kini muncul sebagai kekuatan nyata. 

Hal itu tergambar jelas dalam pertemuan Jaringan Penggiat Sampah Mandiri (JPSM) Sehati di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (12/6/2025).

Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, Susmiarto, hadir langsung dan mengajak masyarakat untuk mengelola sampah mulai dari rumah. 

“Tujuan utamanya adalah masyarakat peduli. Sampah harus dikelola dari sumbernya, bukan dibuang sembarangan,” tegasnya.

Susmiarto menyampaikan, Pemkab Sleman saat ini menerapkan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang dalam pengelolaan sampah. Salah satunya, rencana pembangunan insinerator berskala besar untuk menyelesaikan sampah residu yang tak bisa didaur ulang.

Namun ia mengakui, keberadaan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) saat ini masih belum maksimal. 

"Biaya pembangunan insinerator memang mahal, tapi kami berkomitmen untuk menjadikan Sleman lebih bersih, sehat, dan nyaman," ujarnya.

Di hadapan pejabat Pemkab dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Ketua JPSM Sehati Hijrah Purnama Putra menyuarakan realitas di lapangan: kerja para relawan lingkungan yang kerap sunyi tapi berdampak besar.

“Kami bukan siapa-siapa, tapi kami percaya bahwa perubahan dimulai dari tangan sendiri,” ucap Hijrah.

JPSM Sehati saat ini menaungi lebih dari 200 kelompok penggiat sampah, mulai dari Bank Sampah, komunitas sedekah sampah, sekolah ramah lingkungan, hingga pengrajin daur ulang dan TPS3R. 

Mereka mengelola sampah, mengubahnya jadi produk bernilai ekonomi, dan menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini.

Namun perjuangan itu bukan tanpa tantangan. Hijrah memaparkan betapa banyak kelompok yang masih bekerja dengan keterbatasan: tenda plastik sebagai tempat kerja, karung bekas yang ditambal ulang, gerobak manual, hingga mimpi punya mesin pencacah yang belum kesampaian.

"Produk kerajinan daur ulang kami sering mandek di gudang. Pengepul lambat menjemput, sementara jaringan pasar belum terbangun," tambahnya.

Untuk itu, JPSM mendorong dukungan pelatihan terpadu, akses ke koperasi atau BUMDes, pameran produk daur ulang, serta regulasi pemilahan sampah dari sumber, termasuk di sekolah dan instansi pemerintah.

Sekretaris DLH Sleman, Sugeng Riyanto, menyampaikan apresiasi atas gerakan JPSM dan mencatat berbagai kebutuhan yang diajukan. 

“Kami mendukung wacana pembentukan Bank Sampah Induk Sleman. Itu bentuk komitmen kami terhadap sinergi masyarakat dan pemerintah,” ucapnya.

Hijrah juga mengusulkan penghargaan tahunan “Anugerah Lingkungan Sleman” bagi para pejuang kebersihan dan penggiat lingkungan. Sebab, katanya, “Tidak semua kerja kami dibayar dengan uang. Tapi kadang, pengakuan saja cukup untuk menyalakan semangat.”

Pertemuan ini jadi momentum penting: suara warga didengar langsung oleh pemegang kebijakan. Di akhir pertemuan, Hijrah menegaskan satu pesan: “Jika rakyat bergerak, pemerintah tak boleh diam.”

Dan seperti yang mereka yakini, perubahan tak dimulai dari atas meja. Tapi dari dapur, dari gang kecil, dari semangat yang terus menyala.

HUT Sleman

Baca Juga