Empat Menjadi Satu: Condongcatur Merayakan Sejarah, Merawat Guyub Rukun
Wijatma T S
27 December 2025
.
Gunungan dari Bregada Sastra Diharjan kring Gejayan. (PM-Wasana)
JUMAT Pahing, 26 Desember 2025, halaman Kalurahan Condongcatur tak sekadar menjadi ruang upacara. Ia menjelma panggung ingatan, tempat sejarah berjalan pelan dalam irama genderang bregada, disambut sorak warga dari segala usia. Di usia ke-79, Condongcatur kembali merayakan dirinya, sebuah perayaan yang tak hanya seremonial, tetapi hidup, hangat, dan penuh makna kebersamaan.
Kirab dan Upacara Bregada Hadeging Kalurahan Condongcatur Kaping 79 menjadi puncak rangkaian peringatan hari jadi. Empat pasukan bregada tampil gagah, merepresentasikan empat kring kalurahan lama yang dahulu berdiri sendiri, kini bersatu dalam satu nama: Condongcatur.
Bregada Hadi Manggala dari Kring Gorongan melangkah mantap membawa Gunungan hasil bumi dari Padukuhan Gempol, Dero, Ngringin, Ngropoh, dan Dabag. Disusul Bregada Paksi Jayeng Katon Kring Manukan yang diwakili Tiyasan, Manukan, Pondok, dan Sanggrahan. Dari Kring Gejayan, Bregada Sastra Dihardjan hadir bersama warga Gejayan, Kaliwaru, Soropadan, dan Pringwulung. Sementara Kring Kentungan diwakili Bregada Krama Yudha yang membawa semangat warga Kentungan, Kayen, Pikgondang, Joho, dan Gandok. Barisan Bregada Lembaga Kalurahan melengkapi kirab, menegaskan sinergi pamong dan masyarakat.
Di antara derap langkah bregada, sejarah Condongcatur kembali disuarakan. Lurah Condongcatur, Dr. Reno Candra Sangaji, mengingatkan bahwa kalurahan ini lahir pada 26 Desember 1946, sebagai hasil kesepakatan empat kelurahan lama: Manukan, Gorongan, Gejayan, dan Kentungan, atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
“Secara etimologis, Condongcatur mencerminkan peristiwa sejarah tersebut. Condong berarti setuju, catur berarti empat. Empat wilayah yang sepakat untuk bersatu,” ujarnya.
Tema peringatan tahun ini, “Guyub Rukun Kerta Raharja”, terasa nyata, bukan sekadar slogan. Sebelum puncak kirab, warga telah terlibat dalam beragam kegiatan: Funwalk, senam lansia, jemparingan, Porkal bulutangkis, Condongcatur Expo, Condongcatur Moeslim Competition, pengajian, hingga parade hadroh bersholawat. Semua dirangkai dengan semangat partisipasi, dari anak-anak hingga lansia.
Rasa syukur pun mengalir atas berbagai prestasi yang diraih Condongcatur di tingkat nasional hingga kapanewon. “Ini menandakan sinergi yang baik antara Pemerintah Kabupaten Sleman dan Pemerintah Kalurahan Condongcatur, dengan dukungan luar biasa dari masyarakat,” kata Lurah Reno.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, SE, yang hadir mewakili Bupati Sleman, menyampaikan apresiasi dan pesan kebersamaan. Ia mengajak pamong kalurahan untuk terus mendengar aspirasi warga dan menjaga pemerataan pembangunan dengan semangat gotong royong, sembari melestarikan seni budaya seperti Kirab Bregada.
Prosesi pemotongan tumpeng menjadi simbol syukur bersama. Namun momen paling ditunggu warga terjadi sesaat setelahnya: Rebutan Empat Gunungan. Halaman kalurahan berubah riuh. Ibu-ibu, anak-anak, hingga orang tua bersemangat berebut sayuran hasil bumi Condongcatur. Kantong plastik terangkat tinggi, tawa pecah, dan kebahagiaan sederhana terpancar dari wajah-wajah yang merasa ikut memiliki perayaan ini.
Di situlah Condongcatur menemukan maknanya yang paling utuh. Bukan hanya pada usia yang bertambah, bukan pula pada barisan bregada yang rapi, melainkan pada warga yang tetap setia menjaga warisan persatuan: empat yang sepakat menjadi satu, dan terus melangkah bersama menuju kesejahteraan.