Platinum

Syawalan Ex Duabhe SMPN 6 Yogya: Saat Persahabatan Lama Menjadi Gizi Rohani

Wijatma T S
31 March 2026
.
Syawalan Ex Duabhe SMPN 6 Yogya: Saat Persahabatan Lama Menjadi Gizi Rohani

Beberapa anggota Ex Duabhe yang sempat hadir di acara Syawalan. (PM-Heny)

Oleh: Jatmo

SUASANA siang itu terasa berbeda. Di tengah hiruk-pikuk Kota Yogyakarta yang kembali menggeliat usai Idul Fitri, sekelompok sahabat lama berkumpul dalam suasana hangat penuh makna. Mereka bukan sekadar reuni biasa, tetapi merajut kembali benang persaudaraan yang telah terjalin puluhan tahun. Itulah yang terasa dalam acara Syawalan Grup Ex Duabhe SMP Negeri 6 Yogyakarta yang digelar di Resto Lalawuh Sunda, Selasa (31/3/2026).

Syawalan kali ini tidak hanya meriah, namun juga berlangsung khidmat. Di balik canda tawa dan cerita nostalgia masa sekolah, terselip suasana sakral yang menghadirkan pesan-pesan menyejukkan hati. Bagi para anggota grup, pertemuan ini bukan sekadar temu kangen, melainkan juga menjadi "gizi rohani" yang menguatkan ikatan batin mereka.

Satu per satu anggota datang dengan wajah sumringah. Ada yang sudah puluhan tahun tak bertemu, ada pula yang rutin berkomunikasi melalui grup WhatsApp namun baru kali ini bisa bertatap muka kembali. Saat mereka saling bersalaman, suasana haru pun tak terelakkan. Tangan yang saling menggenggam terasa lebih erat, seolah menegaskan bahwa waktu tak mampu menghapus persahabatan mereka.

Fasilitator acara, Djoko Erwan yang akrab disapa Djoker, membuka kegiatan dengan suasana santai namun penuh makna. Dengan gaya khasnya yang hangat dan bersahaja, ia mengajak seluruh anggota untuk kembali mengingat falsafah yang menjadi pegangan grup: “Seduluran sak lawase”.

"Kalau ini kita hayati benar-benar, saya yakin besar manfaatnya bagi kelestarian grup kita. Apapun tidak akan terasa berat untuk kita lalui," ujar Djoker dengan suara yang tenang namun penuh penekanan.

Ucapan itu membuat suasana mendadak hening. Para anggota tampak mengangguk pelan, merenungi makna kalimat sederhana yang ternyata memiliki kedalaman luar biasa.

Menurut Djoker, slogan tersebut memang terdengar sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan mendalam tentang komitmen menjaga persahabatan tanpa batas waktu. Bukan sekadar hubungan masa lalu, tetapi persaudaraan yang terus tumbuh hingga usia senja.

"Slogan ini nampaknya sepele, tapi maknanya cukup mendalam. Kita ini sudah melewati berbagai fase kehidupan, ada yang sukses, ada yang menghadapi tantangan. Tapi kalau kita benar-benar seduluran, semua itu bisa kita jalani bersama," lanjutnya.

Suasana semakin hangat ketika beberapa anggota mulai berbagi cerita kehidupan masing-masing. Ada yang menceritakan perjalanan karier, pengalaman keluarga, hingga kisah perjuangan menghadapi berbagai ujian hidup. Di tengah cerita itu, terlihat betapa mereka saling menyimak dengan penuh empati.

Sesekali terdengar tawa pecah saat mengingat kenakalan masa sekolah dulu. Namun tak jarang pula mata berkaca-kaca saat mengenang teman yang sudah lebih dulu berpulang. Momen-momen itu menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan, dan kebersamaan seperti ini menjadi semakin berharga.

Menu khas Sunda yang tersaji di meja pun seolah menjadi pelengkap suasana kekeluargaan. Mereka makan bersama, saling menyuapi, dan berbagi cerita tanpa sekat. Tak ada lagi jabatan, status sosial, atau latar belakang berbeda. Yang ada hanyalah sahabat lama yang kembali dipersatukan oleh kenangan.

Beberapa anggota mengaku bahwa pertemuan seperti ini memberikan energi baru bagi mereka. Di tengah rutinitas dan dinamika kehidupan, syawalan ini menjadi ruang untuk kembali menguatkan diri, memperbaiki hubungan, serta mempererat silaturahmi.

"Kita ini mungkin sudah tidak muda lagi. Tapi justru di usia seperti ini, persahabatan menjadi semakin berarti," ujar salah satu anggota dengan senyum hangat.

Di penghujung acara, para anggota kembali saling bersalaman. Senyum dan pelukan hangat mengiringi perpisahan siang itu. Meski waktu kebersamaan terasa singkat, namun makna yang mereka bawa pulang terasa begitu dalam.

Menjelang acara berakhir, ternyata masih ada kejutan yang telah disiapkan Djoker. Sebelum pulang, para anggota mendapatkan bingkisan untuk dibawa pulang. Kejutan sederhana itu justru menghadirkan rasa haru yang mendalam. Satu per satu anggota mengucapkan terima kasih, bahkan beberapa terlihat menahan haru atas perhatian yang diberikan.

Ucapan terima kasih pun tak henti-henti terdengar. Kebersamaan yang hangat siang itu terasa semakin lengkap dengan bingkisan penuh makna tersebut.

Menariknya, suasana haru itu tidak berhenti saat acara selesai. Setelah masing-masing anggota kembali ke rumah, grup WhatsApp Ex Duabhe kembali ramai. Ucapan terima kasih, doa, dan ungkapan kebahagiaan mengalir tanpa henti. Seolah pertemuan siang itu masih berlanjut dalam ruang digital yang tetap hangat.

Pesan demi pesan bermunculan, memperlihatkan betapa kuatnya ikatan persaudaraan yang telah terjalin. Syawalan ini bukan sekadar pertemuan, tetapi momentum yang kembali menghidupkan rasa memiliki satu sama lain.

Syawalan Grup Ex Duabhe SMPN 6 Yogya akhirnya menjadi lebih dari sekadar acara tahunan. Ia menjelma menjadi ruang refleksi, tempat menguatkan hati, sekaligus menjaga nilai-nilai persaudaraan yang telah terjalin sejak bangku sekolah.

Dan seperti yang diingatkan Djoker, persahabatan mereka bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk selamanya, seduluran sak lawase.

Dilarang

Baca Juga