.
Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, S.Hut., M.T., (kiri) dalam jumpa pers di Aula Dinas Pertanian Sleman, Selasa (3/3). (PM-Jatmo)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Pemerintah Kabupaten Sleman memperkuat ketahanan pangan dengan pendekatan berbasis potensi lokal, mulai dari optimalisasi pertanian hingga pengembangan perikanan sistem bioflok serta percepatan regenerasi petani muda.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, S.Hut., M.T. menegaskan, ketahanan pangan bukan sekadar soal ketersediaan bahan pangan, tetapi juga mencakup akses, pemanfaatan, dan stabilitas pasokan secara berkelanjutan.
“Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup, aman, bergizi, merata, dan terjangkau bagi masyarakat dari waktu ke waktu,” ujarnya.
Menurut Rofiq, penguatan ketahanan pangan di Sleman masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti produktivitas yang belum optimal, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia (SDM), belum kuatnya kelembagaan kelompok tani, hingga rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
Karena itu, diperlukan langkah strategis dan terpadu melalui pemberdayaan pertanian dan perikanan berbasis sumber daya lokal.
Pada sektor pertanian, peningkatan ketersediaan pangan dilakukan dengan penggunaan benih unggul, pola tanam tepat, pemupukan berimbang, serta pengendalian hama terpadu.
Sementara di sektor perikanan, penguatan dilakukan melalui budidaya skala rumah tangga dan kelompok dengan kolam terpal, sistem bioflok, serta pola pertanian terintegrasi seperti mina padi. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan produksi sekaligus memperbaiki asupan gizi keluarga melalui ketersediaan protein.
Pendampingan petani dilakukan lewat penyuluhan teknis budidaya, pelatihan manajemen usaha tani, serta peningkatan akses pembiayaan dan pasar.
Kelompok tani dan Gapoktan didorong menjadi pusat pembelajaran, unit produksi, sekaligus wahana kerja sama.
Penguatan kelembagaan ini diharapkan mampu meningkatkan daya tawar petani, efisiensi produksi, serta akses terhadap permodalan, teknologi, dan informasi pasar.
Strategi lain yang dikedepankan adalah optimalisasi pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lumbung pangan kedua.
Pekarangan dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran, buah, tanaman obat keluarga, hingga budidaya ternak dan ikan skala kecil.
Langkah ini dinilai menjadi solusi atas berkurangnya luas lahan sawah di Sleman sekaligus membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga dan menambah pendapatan keluarga.
Penguatan ketahanan pangan juga diarahkan pada peningkatan kapasitas SDM dan percepatan regenerasi petani muda.
Pelatihan teknis budidaya, manajemen usaha, literasi keuangan, hingga pemasaran digital menjadi fokus agar petani mampu mengelola usaha secara profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Pertanian harus dipandang sebagai sektor yang menjanjikan. Dengan pelatihan, akses modal, dan pendampingan, generasi muda diharapkan tertarik terlibat aktif dalam pembangunan pertanian,” pungkasnya. (atm)