Platinum

Seribu Porsi Bakso, Cara Sederhana Condongcatur Merawat Ikatan Sosial

Wijatma T S
28 December 2025
.
Seribu Porsi Bakso, Cara Sederhana Condongcatur Merawat Ikatan Sosial

Warga Condongcatur menikmati sajian bakso di GOR Condongcatur, Jumat (26/12). (PM-ist)

DI banyak perayaan, makanan hanyalah penutup acara. Di Condongcatur, semangkuk bakso justru menjadi inti perayaan. Bukan sekadar pengganjal lapar selepas kirab dan upacara, melainkan cara paling membumi untuk merawat ikatan sosial di tengah masyarakat yang kian majemuk.

Jumat Pahing, 26 Desember 2025 siang, puncak Hari Jadi ke-79 Kalurahan Condongcatur ditutup dengan pemandangan yang hangat: warga duduk berdampingan, menyesap kuah bakso yang masih mengepul, bercakap tanpa jarak, tanpa titel.

Baca Juga: Empat Menjadi Satu: Condongcatur Merayakan Sejarah, Merawat Guyup Rukun 

Seribu porsi bakso disiapkan pihak kalurahan. Jumlah yang dengan sengaja dilebihkan, agar tak ada yang merasa sungkan atau tertinggal. Warga umum, tamu undangan, petugas lapangan, relawan kebencanaan, tenaga kesehatan, awak media, hingga anggota bregada, semua berada dalam lingkar yang sama.

“Bakso ini memang kami siapkan untuk siapa saja yang hadir. Kami ingin semua merasa diterima,” kata Wasana, Humas Kalurahan Condongcatur.

Mangkuk-mangkuk bakso sudah tertata rapi sejak sebelum acara dimulai. Isinya sederhana: empat butir bakso ukuran sedang, pangsit, mi, bihun, dan kuah hangat. Penyajiannya cepat, tanpa antre panjang, tanpa suasana tegang. Ketertiban tumbuh bukan karena aturan, melainkan karena rasa saling menghargai.

“Bakso itu makanan merakyat. Semua kalangan suka. Dari anak-anak sampai simbah-simbah. Di situ kami melihat bakso sebagai alat pemersatu,” lanjut Wasana.

Di GOR Condongcatur, momen makan bersama itu menjelma ruang sosial. Pamong kalurahan tak lagi berdiri sebagai pejabat, tetapi duduk sebagai tetangga. Petugas keamanan dan relawan berbagi cerita lapangan. Anak-anak, orang tua, dan lansia menyatu dalam ritme yang sama: sendok yang beradu pelan dengan mangkuk.

Lurah Condongcatur, Dr. Reno Candra Sangaji, menegaskan bahwa bakso gratis bukan sekadar bentuk jamuan atau kemurahan hati panitia.

“Ini upaya membangun kebersamaan. Saat makan bersama, jarak sosial hilang. Warga merasa dekat, merasa dihargai, dan akhirnya mau terlibat. Itulah yang kami harapkan dari setiap peringatan Hari Jadi,” ujarnya.

Bagi Condongcatur yang terus tumbuh sebagai kawasan urban, ikatan sosial menjadi tantangan sekaligus kebutuhan. Di tengah ritme hidup yang cepat, semangkuk bakso hangat menjadi jeda, ruang untuk saling menyapa dan mengingat bahwa mereka masih satu komunitas.

Seribu porsi bakso itu mungkin habis dalam hitungan jam. Namun rasa kebersamaan yang tercipta darinya diharapkan bertahan jauh lebih lama, menempel dalam ingatan warga, dan tumbuh menjadi partisipasi di hari-hari berikutnya.


 

Dilarang

Baca Juga