.
Peleton Inti Putri SMA Negeri 1 Mlati. (PM-Dok. pribadi)
YOGYAKARTA — Derap langkah menggema keras di aula Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) pagi itu. Suara hentakan kaki, aba-aba lantang para komandan, serta sorak-sorai penonton melebur dalam suasana penuh energi. Sabtu (8/11/2025) yang biasanya tenang berubah menjadi arena pembuktian disiplin dan kekompakan dalam Lomba Kreasi Baris-Berbaris (LKBB) tingkat nasional.
Di antara puluhan pasukan yang tampil, dua barisan berseragam merah maroon menjadi pusat perhatian. Mereka adalah Peleton Inti SMA Negeri 1 Mlati, hadir dengan dua formasi: Pasukan A (putra) dan Pasukan B (putri). Semangat yang mereka bawa tidak hanya soal lomba, tetapi juga nama sekolah yang mereka panjang di dada.
Perjalanan menuju panggung nasional ini bukan hal yang instan. Selama tiga minggu hingga satu bulan, kedua pasukan menjalani latihan intensif setiap sore. Berulang kali mereka mengulang formasi, memperbaiki kesalahan, menata kekompakan dan keberanian. Di bawah terik matahari, diiringi tawa, teguran pelatih, hingga rasa lelah yang tak terhitung, pelan-pelan mereka tumbuh menjadi satu kesatuan yang solid.
"Jujur rasanya gugup, takut salah kata kalau lagi variasi. Apalagi ini pertama kalinya buat aku," ujar Syifa Athalia Nugrahati Putri, Danton Pasukan B, mengenang bagaimana dadanya berdebar sebelum tampil.
Pada hari lomba, suasana bergemuruh. Pasukan Inti Putra tampil pada urutan ke-8 sekitar pukul 11.00 WIB. Tidak lama kemudian, Pasukan Putri menyusul pada urutan ke-10. Langkah mereka serentak, formasi tertata, suara komando bergelora, variasi dilakukan tanpa ragu. Sorakan penonton naik bersama hentakan kaki pasukan Mlati, membentuk ritme yang membuat suasana di GOR UMBY semakin panas.
Meski baru pertama kali turun di lomba tingkat nasional, Pasukan B tampil dengan percaya diri. Seluruh anggota berasal dari kelas 10, pasukan muda yang berani menantang panggung besar. Sementara itu, Pasukan A yang dihuni siswa kelas 10–11 menunjukkan ketangguhan dan pengalaman yang mereka kumpulkan selama latihan.
Momen Puncak: Air Mata dan Kebanggaan
Menjelang pengumuman, rasa tegang terasa hingga ke sisi tribun. Ketika suara juri menyebut nama Syifa Athalia Nugrahati Putri sebagai Danton Putri Terbaik Nasional, suasana pecah. Sorak gembira terdengar, beberapa anggota tak kuasa menahan haru. Syifa berdiri dengan mata berkaca-kaca, menerima sertifikat dan hadiah uang pembinaan Rp750.000—buah dari kerja keras dan keberanian yang ia bawa sejak latihan pertama.
"Aku nggak nyangka bisa jadi danton putri terbaik. Aku merasa masih kurang, tapi ternyata usaha kami membuahkan hasil. Makasih untuk semua pelatih. Sukses terus Sahitya Abhijaya!" ucap Syifa, suaranya bergetar namun penuh bahagia.
Di sisi lain, Bagas Almalika, Danton Pasukan Putra, mengakui perjalanan timnya belum selesai.
"Seneng dan sedih campur jadi satu. Seneng bisa ikut lomba ini, sedih karena belum bisa juara. Tapi kami dapat pengalaman besar. Besok harus lebih kompak, lebih niat latihannya," ucapnya tegar.
Kalimat sederhana itu disambut tepukan hangat seluruh anggota, seolah berkata bahwa kemenangan terbesar bukan hanya piala, melainkan perjuangan yang mereka jalani bersama.
Sore itu, saat matahari mulai turun di langit Yogyakarta, pasukan merah Mlati berjalan pulang dengan langkah tegap. Mereka membawa lebih dari sekadar penghargaan; mereka membawa cerita tentang disiplin, tentang kebersamaan, tentang keberanian menghadapi panggung besar untuk pertama kali.
LKBB UMBY 2025 bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari banyak peluang lain. Pada setiap hentakan kaki mereka, tertanam pesan bahwa kemenangan adalah hasil dari keyakinan dan usaha yang dilakukan bersama.
Dengan seragam merah yang terus berkibar, Peleton Inti SMA Negeri 1 Mlati telah membuktikan satu hal: kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Dan hari itu, mereka pulang sebagai kebanggaan. (Queensa/Ailsa/Dian)