HUT Sleman

Santri Cilik Condongcatur Teguhkan Semangat Kebangsaan di Hari Santri Nasional 2025

Wijatma T S
24 October 2025
.
Santri Cilik Condongcatur Teguhkan Semangat Kebangsaan di Hari Santri Nasional 2025

Lurah Reno menjadi inspektur upacara Hari Santri 2025 di Pendopo Condongcatur, Kamis (23/10) sore. (PM-ist.)

SORE itu, Kamis (23/10/2025), halaman Pendopo Kalurahan Condongcatur perlahan dipenuhi warna keceriaan. Suara anak-anak berpadu dengan semilir udara sejuk karena langit mendung, menciptakan suasana yang syahdu. Di tengah barisan rapi, puluhan santri kecil dengan peci hitam dan kerudung putih bersih berdiri tegak. Mereka menatap khidmat ke arah bendera Merah Putih yang berkibar di Pendopo Kromoredjan Condongcatur.

Tak seperti upacara sekolah biasa, ada getar yang berbeda kali ini. Di bawah tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, Forum Komunikasi TKA-TPA Kalurahan Condongcatur menggelar peringatan Hari Santri Nasional 2025. Sebanyak 65 santri dari 21 TPA masjid se-Kalurahan hadir, didampingi 28 pembimbing, 15 pengurus Forum TPA, perwakilan Dewan Masjid Indonesia (DMI), serta Lurah dan Kamituwa Condongcatur.

Mereka datang bukan hanya membawa Al-Qur’an dan semangat belajar, tetapi juga tekad menjaga nilai-nilai Islam dan kebangsaan di tengah zaman yang kian berubah.

Ketika mikrofon diserahkan, suara lantang seorang santriwan memecah keheningan: “Kami Santri TPA, demi baktiku kepada Ilahi dan cintaku kepada Al-Qur’an Suci…”

Serentak, puluhan suara kecil menirukan. Kalimat-kalimat dalam Ikrar Santri itu menggema di seluruh pendopo: tentang salat di awal waktu, berbakti kepada orang tua, menghormati guru, hingga tekad mengabdi untuk negeri. Tak sedikit orang tua dan pengurus yang menundukkan kepala, mata mereka berkaca-kaca. Di benak mereka, anak-anak inilah penerus estafet nilai, yang kelak harus berdiri tegak di tengah dunia yang serba cepat namun rawan kehilangan arah.

Meneguhkan Peran Santri Sejak Dini

Dalam laporannya, Suyitno, M.Pd., Ketua Forum Komunikasi TKA-TPA Condongcatur, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar upacara seremonial.

“Peringatan ini adalah cara kami meneguhkan kembali peran santri dalam menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan akhlak mulia. Mereka bukan hanya belajar membaca Al-Qur’an, tapi belajar menjadi manusia yang beradab,” ujarnya.

Bagi Suyitno, santri TPA adalah pilar bangsa, pondasi yang harus kuat sebelum menanggung beratnya zaman. Di antara gemerlap digital dan derasnya budaya instan, santri tetap diajarkan untuk menunduk dalam ilmu dan menatap jauh dengan iman.

Sebagai pembina upacara, Lurah Condongcatur, Dr. Reno Candra Sangaji, S.IP., M.IP., berdiri di hadapan barisan santri dengan mata yang teduh. Suaranya dalam dan tenang, tapi setiap katanya menyentuh hati.

“Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa santri TPA di Condongcatur bukan hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga belajar menanamkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa santri memiliki peran penting sebagai penjaga moral bangsa, yang mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri.

“Hormati guru dan orang tua, karena dari merekalah keberkahan ilmu bermula. Jadilah generasi yang disiplin, jujur, dan cinta tanah air agar kelak mampu menjadi pemimpin yang membawa keberkahan bagi bangsa dan umat,” pesannya.

Reno menutup amanatnya dengan komitmen bahwa Pemerintah Kalurahan akan terus mendukung kegiatan keagamaan dan pendidikan karakter. “Santri adalah bagian penting dari pembangunan masyarakat yang beriman, mandiri, dan berakhlak mulia,” katanya tegas.

Menjelang senja, suasana menjadi semakin hening. Mustholih, pengurus Dewan Masjid Indonesia Condongcatur sekaligus Rois Padukuhan Soropadan, memimpin doa penutup. Suaranya bergetar lembut, membawa setiap santri dan hadirin ke dalam suasana khusyuk.

Setiap kalimat doa seolah menjadi pengikat antara langit dan bumi, antara cita-cita dan kesungguhan hati. Doa agar anak-anak ini kelak tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang cerdas, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat.

Ketika upacara berakhir dan santri-santri kecil mulai meninggalkan pendopo, sisa sinar matahari senja memantul di wajah-wajah mereka. Ada semangat yang sulit dijelaskan, semacam keyakinan bahwa peradaban besar memang selalu tumbuh dari tempat-tempat sederhana, dari hati-hati yang ikhlas belajar mengaji.

Dari Condongcatur, pesan Hari Santri tahun ini bergema: bahwa menjaga kemerdekaan dan membangun peradaban dunia tidak hanya tugas para pemimpin, tapi juga anak-anak kecil yang kini dengan penuh semangat menuntun lidah mereka melafalkan ayat-ayat suci. Mereka adalah santri, penjaga nurani bangsa, penyalur cahaya bagi masa depan.

Dilarang

Baca Juga