.
Dr. Sumbo Tinarbuko. (PM-dok. Pribadi)
Oleh Dr. Sumbo Tinarbuko
MEDSOS sejatinya citra cermin diri pribadi. Sebagai bagian dari cermin diri pribadi, warganet ketika membaca unggahan konten. Atau saat warganet memposting tulisan komentar di medsos. Mereka harus teliti dan cermat.
Mengapa demikian? Karena jika warganet membaca tayangan konten dan komentar di medsos dilakukan secara serampangan dan tergesa-gesa.
Apalagi ditambah dengan baper (bawa perasaan) yang cenderung emosional. Atau marah akibat dendam kesumat. Maka saat warganet melihat unggahan konten lalu menuliskan komentar di medsos pun nadanya pasti emosional.
Mereka juga cenderung merendahkan sang pengunggah konten atau penulis kolom komentar. Bahkan tidak jarang menantang perkelahian digital dalam forum virtual kepada sesama warganet yang dianggapnya musuh.
Ketika wajah digital di medsos berhasil dibekukan mesin algoritma. Pemilik akun dan pengguna medsos menjadi terfragmentasi berdasarkan wajah digital yang sudah mereka buat.
Mereka menduga medsos telah memberikan ruang publik digital yang sangat luas. Hal itu memungkinkan warganet berbicara dengan siapa saja. Di mana saja, tanpa dibatasi ruang, jarak dan waktu.
Namun, warganet tidak menyadari akan kedigdayaan mesin algoritma yang terlihat bagaikan padang sabana ruang yang luas.
Sedikit warganet yang memiliki kesadaran akan kiprah mesin algoritma. Keberadaan mesin algoritma yang menjadi nyawa medsos tidak otomatis menjadi ruang yang baik. Kualitas ruang digital yang dibekukan mesin algoritma itu tergantung pada kualitas para warganet yang mengunggah konten, menuliskan kata dan kalimat di kolom komentar.
Citra Cermin
Jujur harus diakui bersama, perkelahian antar komentar di medsos bukanlah masalah sepele. Fenomena ini merupakan citra cermin sekaligus realitas sosial budaya digital yang diugemi, dimitoskan dan dipercaya warganet.
Peristiwa perkelahian antar komentar di medsos menjadi jejak digital. Di dalamnya menorehkan tapak algoritma. Ia bekerja untuk mendokumentasikan bagaimana warganet mampu berkomunikasi dan menghargai perbedaan dengan sesama warganet lainnya. Dari sana dapat dinilai bagaimana warganet memperlakukan sesama warganet di ruang publik virtual.
Hal lain yang menyebabkan terjadinya perkelahian antar komentar. Ditengarai akibat rendahnya literasi dan belum memadainya edukasi digital.
Keterbatasan literasi digital yang dimiliki warganet. Ditambah dengan minimnya kemampuan membaca secara kritis. Serta upaya memahami latar belakang konteks unggahan tulisan di kolom komentar. Menyebabkan perkelahian antar komentar susah dipadamkan.
Pendeknya, ketika teks dan konteks dari tulisan komentar atas unggahan konten di medsos tidak didudukan dalam barisan yang sama. Pada titik itu muncullah jurang miskomunikasi dan disinformasi yang sangat lebar. Ujungnya tercipta perpecahan jalinan patembayatan sosial di dalam kehidupan jagat medsos.
Sebaliknya manakala warganet membaca tayangan berbagai konten yang beterbangan di medsos dengan dilandasi kesadaran tinggi. Mau memahami dan mencerna isi konten dengan teliti.
Hampir dipastikan, ruang publik digital bernama medsos, dapat dijadikan sebagai wahana komunikasi visual yang menawan hati. Sekaligus sebagai medium untuk membangun jaringan sosial secara dahsyat. Selain itu dapat juga medsos diposisikan sebagai media digital tidak berbayar.
Sebagai media digital tidak berbayar, apa yang bisa diharapkan dari dirinya? Tentu saja dapat digunakan serta dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan verbal sekaligus pesan visual secara bersamaan.
Kandungan kedua pesan itu seyogyanya bersifat edutainment. Bermuatan konten edukasi dalam tayangan kemasan hiburan. Hal itu dapat juga disebut dengan julukan konten edutainment yang bermuatan pesan verbal dan pesan visual. Di dalamnya mengedepankan sisi pendidikan namun disampaikan dalam format hiburan yang mengasyikan.
Dekonstruksi Sosial
Keberadaan konten edutainment diyakini mampu menjadi galah pengungkit dekonstruksi sosial. Dalam konteks ini, semua pihak harus bergerak bersama. Diawali dari pengguna, pemilik akun, aktivis medsos dan pemerintah.
Apa langkah konkritnya? Setiap kali warganet akan menulis satu komentar guna merespon unggahan konten di medsos. Harus disadari dengan kesadaran penuh, jejak digital yang ditinggalkan akan membentuk wajah algoritma komentar di medsos.
Artinya warganet secara individu maupun dalam gerakan bersama wajib berbondong-bondong menorehkan berbagai garis komentar di medsos dengan nada positif. Beragam garis komentar itu oleh mesin algoritma akan dibentuk menjadi wajah digital positif yang bertengger di medsos.
Dengan hadirnya wajah digital positif di medsos. Diharapkan dapat menekan jumlah perkelahian antar komentar di medsos.
Berdasarkan hal itu, sudah saatnya medsos dikembalikan fitrahnya seperti sedia kala. Medsos harus diputar balik menjadi media sosial tempat ririungan warganet. Diposisikan ulang sebagai ruang publik virtual milik siapapun.
Medsos sudah waktunya dibangun kembali menjadi wahana kelas tanpa dinding. Dimanfaatkan guna menampung berbagai persebaran ilmu pengetahuan. Kontennya berisi unggahan live diskusi yang bermartabat. Ditayangkan berbagai talkshow yang menawan. Diputar karya musik yang merak ati. Serta dihadirkan berbagai pergelaran karya seni yang keren.
Lewat gerakan dekonstruksi sosial di medsos. Pengguna dan pemilik akun medsos dapat menjadikan kolom komentar bukan lagi sebagai lapangan tempat berlangsungnya perkelahian virtual.
Kolom komentar di medsos sebaiknya disusun ulang menjadi ruang publik untuk diskusi virtual. Ruang bersama untuk menjalin jaringan sosial yang bermartabat bagi seluruh warganet yang terlibat di dalamnya.
*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta