Platinum

Sinau Pancasila untuk Merawat Persatuan

Nadi Mulyadi
22 August 2026
.
Sinau Pancasila untuk Merawat Persatuan

Suasana dalam dialog Sinau Pancasila yang digelar di RM Ingkung Grobog Yogyakarta, Sabtu 22 Agustus 2026. (PM-Nadi M)

*SIARAN PERS*

Patmamedia.com  (YOGYAKARTA) – Persatuan Indonesia tidak cukup dijaga dengan semboyan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap saling menghargai, menghindari ujaran kebencian, serta membangun komunikasi yang sehat di tengah masyarakat. Nilai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila perlu terus disemai agar keberagaman tidak menjadi sumber perpecahan.

Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika yang digelar Badan Kesbangpol DIY di Rumah Makan Ingkung Grobog Yogyakarta, Sabtu (22/8). Kegiatan menghadirkan Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto ST MSi, Retno Dwi Hastuti dari Forum Pembaruan Kebangsaan Indonesia, serta akademisi Kurniasari Pratiwi SPsi MA. Acara dimoderatori Ketua PWI DIY sekaligus Ketua Yayasan Bumi Warta Pancasila, Drs Hudono SH.

Eko Suwanto menegaskan pentingnya menghidupkan kembali semangat Sinau Pancasila sebagai upaya memahami nilai dasar negara melalui sejarah dan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan, tetapi harus menjadi pedoman dalam membangun persatuan.

Ia juga mengingatkan pentingnya belajar dari sejarah perjuangan para pendiri bangsa. Keberagaman Indonesia sejak awal telah menjadi bagian penting dalam membangun Republik. Karena itu, dialog dan keterbukaan harus terus dirawat agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik.

Perhatian Eko terhadap sejarah kemudian mengarah pada gagasan Yogyakarta sebagai Kota Republik. Ia mengingatkan bahwa Yogyakarta pernah menjadi ibu kota negara pada 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949.

Sejarah tersebut dinilai penting untuk terus ditelusuri dan didokumentasikan. Jangan sampai generasi mendatang mengetahui Yogyakarta hanya sebagai kota budaya dan pariwisata, tetapi lupa bahwa kota ini pernah menjadi pusat perjuangan mempertahankan Republik.

Sementara itu, Retno Dwi Hastuti menekankan pentingnya masyarakat menghindari ujaran kebencian yang berpotensi memecah persatuan. Menurutnya, keberagaman harus dirawat dengan membangun sikap saling menghormati dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memperuncing perbedaan.

Kurniasari Pratiwi menyoroti tantangan persatuan di era media sosial. Dengan jumlah pengguna media sosial yang disebut mencapai sekitar 180 juta orang, ruang digital telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Media sosial mampu mempercepat komunikasi, tetapi sekaligus dapat memicu konflik apabila disalahgunakan.

Ia mengingatkan bahwa teknologi yang semula diharapkan menjadi sarana connecting people justru dapat berubah menjadi disconnecting people. Orang yang secara fisik berdekatan bisa semakin tidak saling mengenal karena terlalu sibuk dengan perangkat digital.

Menurut Kurniasari, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama dalam penggunaan gawai oleh anak-anak. Penyebaran nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika harus dilakukan sejak dini dengan pendekatan yang sesuai perkembangan anak.

Melalui Sinau Pancasila, para pembicara mendorong agar ruang pendidikan, keluarga, media dan masyarakat bersama-sama membangun budaya komunikasi yang sehat. Dengan demikian, keberagaman tidak sekadar diterima, tetapi menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan Indonesia.(*)

Dilarang

Baca Juga