Platinum

Perjalanan di Balik Kemegahan Masjid Nurul Alamin Majegan

Muh Sugiono
20 April 2025
.
Perjalanan di Balik Kemegahan Masjid Nurul Alamin Majegan

Suasana Masjid Nurul Alamin sesaat setelah diiresmikan penggunaannya oleh Bupati Sleman H Harda Kiswaya SE,MSi pada Minggu 20 April 2025 (PM-Muh Sugiono)

Patmamedia.com (SLEMAN )– Ratusan warga Dusun Majegan Tegal Randu Pandowoharjo, Sleman, menyambut dengan suka cita peresmian Masjid Nurul Alamin oleh Bupati Sleman, H. Harda Kiswaya, 

“Ini masjid paling megah yang pernah saya lihat di wilayah ini. Tapi ingat, perjuangan sesungguhnya setelah masjid berdiri  adalah memakmurkannya,” pesan bupati usai menggunting pita peresmian, Minggu pagi (20/4/2025).

Tidak banyak yang mengetahui jika nama "Nurul Alamin" dulunya hanyalah nama sebuah kelompok pengajian yang digagas oleh para pemuda dan pemudi Remaja Islam Majegan. Kegiatannya sederhana namun penuh semangat—mulai dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), peringatan hari besar Islam (PHBI), kegiatan sosial-keagamaan, hingga ragam aktivitas selama bulan Ramadan.

"Namun karena kala itu belum ada masjid, shalat tarawih pun dilakukan secara bergiliran dari rumah ke rumah," kenang Mujiono SP dalam laporan yang dibacakannya. Mujiono merupakan ketua takmir di masa pembangunan masjid tersebut sebelum kemudian digantikan Sengganadadi.

Bangunan Masjid Nurul Alamin lama sebelum dibongkar dan diganti masjid baru yang megah. (foto:dok. Mujiono SP)

Disebutkan, kerinduan warga untuk memiliki masjid sendiri perlahan tumbuh menjadi sebuah harapan bersama. Hinggba sekitar tahun 1996-1997, kabar baik datang: dari seorang warga bernama Harjo Mantono yang  berniat mewakafkan sebagian tanah miliknya untuk lokasi masjid. Meskipun tanah tersebut berupa lahan rendah (ledokan) yang butuh banyak urug, warga menyambutnya dengan rasa syukur dan semangat tinggi.

Kelompok Pengajian Nurul Alamin, bersama pemuda, tokoh dukuh, LPMD, dan lembaga setempat, bergerak cepat membentuk panitia pembangunan masjid. Pada Jumat, 23 Oktober 1998, bertempat di rumah Mbah Mitro (yang saat itu berfungsi sebagai musholla), panitia resmi dibentuk dengan susunan ketua Hartono, wakil ketua Joko Sutarjo, sekretaris Mujiono, dan pengurus lainnya.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh almarhum Bapak Drs. H. Ahmad Sukardi dari Temon Pandowoharjo pada Jumat, 4 Syawal 1419 H (22 Januari 1999). Dengan penuh gotong royong, berdirilah sebuah masjid sederhana yang sangat dinantikan, berdiri di atas tanah wakaf seluas 351 m², dengan bangunan utama berukuran 8 x 8 meter dan biaya pembangunan saat itu sebesar Rp 48.952.000.

Seiring waktu, fungsi masjid berkembang pesat. Namun, bangunan lama mulai terasa tak lagi memadai. Masjid sering kebanjiran saat musim hujan, bahkan pada 12 Maret 2016 terjadi banjir besar karena elevasi lantai masjid yang sejajar dengan jalan. Maka muncul gagasan untuk renovasi total, bukan sekadar perbaikan biasa.

Takmir masjid merancang pembangunan masjid baru dua lantai, lengkap dengan talud, pagar keliling, sarana ibadah dan fasilitas pendukung seperti ruang pendidikan, tempat wudhu, kamar mandi, gudang, perpustakaan, hingga sekretariat. Biaya yang dibutuhkan tidak sedikit: ditaksir mencapai Rp 2,5 miliar.

Tahap pertama dimulai pada 15 Maret 2018 dengan pengurugan lokasi di utara masjid lama. Tanah urug berasal dari proyek renovasi rumah Ir. Pramana (Mas Adit) di Majegan. Lalu pada 3 Juni 2018, dibentuklah Panitia Renovasi Total dengan susunan lengkap: Ketua Senggonodadi, Wakil Ketua H. Hartono dan Heru Sutopo, Sekretaris Giyarno, Bendahara Marsana, dan sejumlah seksi teknis lainnya.

Untuk mengamankan lokasi masjid yang berbatasan langsung dengan sungai, pembangunan talud dan pagar keliling dimulai Agustus hingga November 2018. Setelah itu, keluarga Bapak/Ibu Harjo Mantono kembali mewakafkan tambahan tanah seluas 313 m² di sebelah utara masjid. Maka total tanah wakaf pun menjadi 664 m². Melihat perubahan ini, keputusan diambil untuk membangun masjid satu lantai saja, agar lebih efisien dan sesuai kondisi, dengan anggaran baru sekitar Rp 1,7 miliar (tidak termasuk talud dan pagar).

Proses terus berlanjut. Pada 2019, dilakukan pengurugan tambahan dengan tanah dari proyek pembangunan Jalan Pandowoharjo. Talud sisi utara dibangun dengan tinggi hingga 7-10 meter karena lokasi sangat dalam. Namun setelah itu, pembangunan sempat terhenti. Alasannya bukan teknis, melainkan pandemi.

Wabah COVID-19 yang diumumkan mulai 2 Maret 2020 membuat seluruh aktivitas masyarakat terganggu. Fokus masyarakat beralih ke upaya pencegahan virus, dan proses pembangunan masjid pun ikut tertunda. Butuh waktu dua tahun hingga pembangunan bisa dilanjutkan kembali.

Akhirnya, pada Ahad, 21 Agustus 2022, pembangunan kembali masjid dimulai secara resmi dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Sleman. Sejak saat itu, semangat gotong royong warga kembali menyala.

Dana pembangunan dikumpulkan dari berbagai sumber: swadaya warga, bantuan pemerintah, donasi dari instansi dan lembaga swasta, serta para dermawan yang tidak mengikat. Panitia terus menghadapi berbagai dinamika dan tantangan. Namun berkat rahmat Allah SWT, keteguhan takmir, dan semangat kebersamaan warga, masjid baru hasil renovasi total akhirnya dapat terwujud.

Masjid baru ini memang belum selesai seluruhnya. Beberapa fasilitas pendukung masih dalam tahap penyempurnaan. Namun sejak masjid lama dibongkar pada Jumat, 5 Juli 2024, masjid baru sudah bisa digunakan untuk aktivitas ibadah sehari-hari dalam suasana yang jauh lebih nyaman dan layak.***

Dilarang

Baca Juga