Platinum

Pengajian Kliwonan Condongcatur: Dakwah Wayang Sentuh Hati, Kritik Sosial Mengalir

Wijatma T S
23 April 2026
.
Pengajian Kliwonan Condongcatur: Dakwah Wayang Sentuh Hati, Kritik Sosial Mengalir

Da’i Patroli menghidupkan punakawan, menyisipkan tawa, menyentil nurani, dan mengajak pulang hati yang mulai menjauh. (PM-ist)

DI BAWAH temaram lampu pendopo Cepit, Rabu malam (22/4/2026), suasana terasa berbeda. Angin pelan membawa gema sholawat, menyusup ke sela-sela hati lebih dari 350 jamaah yang duduk bersila, larut dalam keheningan yang khidmat. Di tempat itu, Pengajian Malam Kamis Kliwonan bukan sekadar rutinitas, ia telah menjelma menjadi ruang pulang bagi batin yang lelah.

Sejak 2015, ketika Reno Candra Sangaji mulai mengemban amanah sebagai Lurah Condongcatur, pengajian ini tumbuh menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Malam itu, seperti biasa, ia membuka acara dengan menyampaikan kabar, harapan, dan pesan sosial, sebuah dialog sederhana namun hangat, yang membuat warga merasa didengar dan dilibatkan.

Selepas itu, lantunan mujahadah yang dipimpin Mbah Kyai Muhammad Naim dari Selomartani mengalir syahdu. Dzikir demi dzikir mengisi udara, menenangkan riuh pikiran, seolah mempersiapkan hati untuk menerima sesuatu yang lebih dalam.

Dan benar saja, malam itu menghadirkan kejutan yang tak biasa.

Di hadapan jamaah, Ustadz A.T. Maulana, yang akrab disapa Dai Patroli, tidak sekadar berceramah. Ia “menghidupkan” wayang. Layar sederhana, tokoh-tokoh yang bergerak, dan suara yang mengalir penuh ekspresi, menjadikan dakwah terasa begitu dekat. Tidak ada jarak antara mimbar dan jamaah, semuanya larut dalam cerita.

Melalui lakon yang dibawakannya, kritik sosial hadir tanpa terasa menghakimi. Tentang miras yang merusak masa depan generasi muda. Tentang judi yang menggerogoti harapan keluarga. Hingga kisah-kisah pertobatan yang sederhana, namun begitu nyata, tentang manusia yang jatuh, lalu perlahan menemukan jalan pulang.

“Dakwah melalui media wayang ini adalah upaya kita mendekatkan agama dengan budaya,” tuturnya, di sela pertunjukan. “Masalah sosial bukan hanya urusan aparat, tapi juga tanggung jawab iman kita.”

Jamaah terpaku. Sesekali tawa pecah, saat kritik disampaikan dengan jenaka. Namun di balik tawa itu, ada perenungan yang diam-diam tumbuh.

Malam semakin larut, namun tak satu pun beranjak. Hingga mendekati pukul 23.30 WIB, mereka tetap bertahan, seolah enggan melepas suasana yang telah menenangkan sekaligus menyadarkan.

Kemeriahan malam itu juga tak lepas dari peran banyak tangan. Grup hadroh Nuruttajdid dari Tegalturi Karangasem Gempol menghadirkan sholawat yang rancak. Banser Condongcatur berjaga memastikan keamanan. Remaja Masjid Antik Soko 7 hingga GARFA Kapanewon Depok turut ambil bagian, menghadirkan kehangatan gotong royong yang terasa nyata.

“Di Condongcatur ada lebih dari 40 grup hadroh yang kami giliran tampil,” ungkap Reno. “Remaja juga kami libatkan untuk melayani jamaah. Ini bukan hanya pengajian, tapi ruang kebersamaan.”

Di tengah arus modernitas yang kerap menjauhkan manusia dari akar budayanya, malam itu justru menghadirkan jawaban sederhana: bahwa agama dan budaya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan beriringan, saling menguatkan, bahkan menjadi solusi atas persoalan sosial yang kian kompleks.

Pengajian Malam Kamis Kliwonan di Condongcatur telah membuktikan satu hal, bahwa dakwah yang menyentuh bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling dekat dengan hati.

Dilarang

Baca Juga