Open House Halal Bihalal Condongcatur, Ruang Tanpa Sekat yang Menyatukan Warga
Wijatma T S
22 March 2026
.
Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, bersama warga masyarakat menyatu tanpa sekat. (PM-ist)
Oleh: Jatmo
DI SEBUAH pendopo sederhana bernama Cepit, di sudut Condongcatur, kebersamaan menemukan rumahnya.
Minggu, 22 Maret 2026, sejak pagi buta, langkah demi langkah warga mulai berdatangan ke Joglo Cepit Soropadan. Mereka datang tanpa undangan resmi, tanpa jarak, tanpa rasa sungkan. Anak-anak berlarian dengan tawa ringan, remaja bercengkerama penuh semangat, sementara para orang tua saling menyapa hangat seolah tak pernah terpisah waktu.
Di sanalah, Lurah Condongcatur, Dr. Reno Candra Sangaji, membuka pintu rumahnya, dan lebih dari itu, membuka ruang hati untuk siapa saja.
Open house halal bihalal ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah cerita panjang tentang kedekatan yang dirawat sejak 2016. Berawal dari gagasan sederhana: menghadirkan pemimpin yang bisa dijangkau, yang duduk sejajar dengan warganya. Sejak itu, setiap hari kedua Syawal, Pendopo Cepit selalu menjadi titik temu ribuan cerita.
Tak ada kursi kehormatan, tak ada batas antara lurah dan rakyat. Semua duduk bersama, berjabat tangan, saling memaafkan. Yang dulu tak saling kenal, kini menjadi akrab. Yang dulu berjarak, kini terasa dekat.
“Sejak saat itu, tradisi ini terus berjalan… guyub rukun tumbuh bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai budaya yang hidup,” tutur Reno di sela menyambut tamu.
Memasuki tahun ke-10, suasana terasa lebih istimewa. Lebih dari seribu mangkuk bakso disiapkan, menu yang selalu dinanti. Sejak dini hari, relawan bergerak tanpa pamrih. Mereka memasak, menata, dan menyambut dengan senyum tulus. Aroma bakso, teh hangat, dan jajanan khas lebaran berpadu dengan gelak tawa yang memenuhi pendopo.
Namun, yang paling mengenyangkan bukanlah hidangan itu.
Yang mengenyangkan adalah rasa diterima.
Di tengah suasana hangat, halal bihalal menemukan maknanya yang paling dalam: melebur salah, meruntuhkan ego, dan merajut kembali hubungan yang mungkin sempat retak. Di sini, permintaan maaf tak hanya diucapkan, tetapi dirasakan.
Pendopo Cepit seakan menjadi saksi hidup perjalanan itu. Ia melihat bagaimana Condongcatur tumbuh bukan hanya sebagai wilayah administratif, tetapi sebagai keluarga besar. Tempat di mana tokoh masyarakat, pemuda, komunitas, hingga warga sederhana bertemu dalam kesetaraan.
Pada sesi pagi, para pamong kalurahan hadir bersama keluarga. Dalam kesempatan itu, Reno mengingatkan bahwa syawalan adalah ruang untuk merendahkan hati.
“Karena setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kesalahan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pamong yang selama ini “momong dan ngemong” masyarakat dengan segala dinamika yang ada, seraya memohon doa agar amanah kepemimpinan dapat dijalankan dengan lancar, demi pelayanan dan kesejahteraan warga.
Hingga sore hari, arus manusia tak pernah surut. Dari pukul 07.00 hingga 18.00 WIB, Pendopo Cepit terus dipenuhi wajah-wajah yang datang dan pulang dengan perasaan yang sama: hangat.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak pertama kali digelar. Dari sebuah ide sederhana, kini menjadi tradisi yang dirindukan. Bukan karena hidangannya, bukan pula karena acaranya, melainkan karena rasa yang ditinggalkan.
Rasa bahwa kita tidak sendiri.
Dan di hari kedua Syawal itu, di Pendopo Cepit, semua diingatkan kembali: setelah kembali suci, yang paling penting bukanlah siapa kita, tetapi bagaimana kita saling merangkul, dan berjalan bersama sebagai satu keluarga besar Condongcatur.