Platinum

Merti Dusun Gejayan 2025: Merawat Warisan, Menyatu dalam Kebersamaan

Wijatma T S
25 August 2025
.
Merti Dusun Gejayan 2025: Merawat Warisan, Menyatu dalam Kebersamaan

Suguhan tari kontemporer pada puncak acara Merti Dusun, di Bale Sembrama Buddhayah. (PM-atm)

Patmamedia.com (SLEMAN) – Sejak akhir Juli lalu, suasana Padukuhan Gejayan berubah semarak. Bendera merah putih berkibar di setiap sudut, warga lintas usia sibuk kerja bakti, dan aroma kebersamaan begitu terasa. Semua itu menuju satu tujuan: Merti Dusun Gejayan 2025, sebuah tradisi tahunan yang tidak hanya melestarikan budaya leluhur, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan baru bagi warganya.

Dengan tema “Guyub Rukun Nglestari Budaya, Nyawiji Kanggo Tuwuhe Ekonomi Masyarakat,” rangkaian acara berjalan hampir sebulan penuh. Ada tirakatan, doa bersama, kerja bakti, kirab budaya, bazar UMKM, hingga puncaknya wayang kulit semalam suntuk. “Kegiatan ini menyatukan sejarah, spiritualitas, seni, ekonomi, dan nasionalisme dalam satu tarikan napas kebudayaan,” tutur Dukuh Gejayan, Nuryanto, S.Pd., M.IP.

Sabtu lalu (23/8), jalan dusun dipadati warga. Kirab Budaya yang ditunggu-tunggu akhirnya digelar. Prajurit kakung-putri, gunungan lanang-wadon, dan alunan gamelan Kaprajuritan Kesultanan Yogyakarta mengiringi pusaka dusun yang diboyong dari kediaman sesepuh, LN Tri Jaka Pratistha. Warga menunduk hormat, suasana haru terasa saat pusaka berhenti di Bale Sembrama Buddhayah. 

“Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tapi panduan hidup untuk masa kini dan masa depan,” ungkap Dukuh Nuryanto.

Sejarah panjang Gejayan seakan hadir kembali lewat Merti Dusun. Nama-nama besar seperti Bendoro Pangeran Hangabehi, Panembahan Brajamusti, hingga Kyai Joyoilani dikenang dalam doa dan kirab. 

“Peristiwa masa lalu, dari perang gerilya hingga spiritualitas, menjadi fondasi kuat bagi warga Gejayan,” jelas R. Purwita, juru kunci makam Wasono Loyo.

Bupati Sleman Harda Kiswaya yang hadir pada puncak acara menyerahkan wayang kulit kepada dalang muda Ki Gading Pawukir. Pesannya sederhana namun dalam: “Mari kita jaga budaya ini. Wayang bukan hanya hiburan, tapi sarana membangun karakter bangsa.”

Tak hanya budaya, denyut ekonomi rakyat pun terasa. Lebih dari 50 pelaku usaha lokal ikut meramaikan bazar UMKM. Dari jajanan tradisional, kerajinan, hingga busana, semua dipajang dengan bangga. 

“Lewat Merti Dusun, warga Gejayan bukan sekadar penonton, tapi pelaku ekonomi,” kata Lien Setyawati, koordinator UMKM.

Minggu (24/8) siang, anak-anak riang menyimak lakon Romo Tambak dari dalang Ki Kiswan Dwinaeka. Malam harinya, Ki Gading Pawukir menghadirkan lakon Pendadaran Pendidikan Pandawa Kurawa bersama sinden muda Lintang Kairo dan Elisa Orcarus Alaso. Ratusan warga bertahan hingga dini hari, larut dalam pesan moral dan hiburan khas wayang kulit.

Di balik suksesnya, ada kerja keras panitia yang dipimpin H. Muhammad Kurniawan, S.T., dengan dukungan warga dan dana gotong royong lebih dari Rp161 juta. Semua dikelola transparan untuk mewujudkan acara akbar tanpa hambatan.

Merti Dusun Gejayan 2025 adalah cermin bagaimana sebuah dusun bisa berdikari lewat budayanya. Ia bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi ruang bagi warga untuk pulang, mengenang leluhur, membangun ekonomi, dan menanamkan kebanggaan identitas.

“Ini bukan akhir, melainkan awal untuk menjadikan Gejayan lebih dikenal, lebih berdaya, dan lebih membanggakan,” pungkas Ketua Panitia, Muhammad Kurniawan. (atm)

Dilarang

Baca Juga