.
Bupati Harda Kiswaya meninjau penempatan bak penampung air. (PM-ist)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Warga Padukuhan Gemawang, Kalurahan yang selama ini menghadapi tantangan ketersediaan air bersih kini memiliki solusi baru yang berkelanjutan.
Bupati Sleman Harda Kiswaya meresmikan Program Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan berbasis panen air hujan dan mata air dengan teknologi Reverse Osmosis (RO), Jumat (19/6).
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara PT Hutama Karya (Persero), Yayasan Kinarya Anak Bangsa, Sekolah Vokasi UGM, dan Pemerintah Kabupaten Sleman.
Fasilitas penyaringan air modern itu ditempatkan di Padukuhan Gemawang untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga RT 04/RW 05.
Kepala Unit Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PT Hutama Karya (Persero), Dianita Saraswati, mengatakan program ini menjadi bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung penyediaan air bersih bagi masyarakat sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim yang berdampak pada ketersediaan sumber air.
“Fasilitas penyaringan air modern ini ditempatkan di Padukuhan Gemawang, khususnya untuk mengaliri kebutuhan warga di wilayah RT 04/RW 05. Program ini terwujud berkat kolaborasi erat lintas sektor antara PT Hutama Karya (Persero), Yayasan Kinarya Anak Bangsa, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), serta Pemerintah Kabupaten Sleman,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Bupati Sleman Harda Kiswaya menegaskan perubahan kondisi lingkungan menuntut masyarakat untuk beradaptasi melalui pemanfaatan teknologi yang tepat guna.
“Hari ini kita harus menyadari bahwa sumber daya air di daerah kita, khususnya di Sleman, sudah berubah. Mata air tidak lagi seperti dulu. Namun, hari ini kita semua bisa mewujudkan solusi melalui teknologi RO, sehingga air bersih yang aman bahkan dapat diolah langsung dari air hujan,” kata Harda.
Menurutnya, kehadiran teknologi RO yang memanfaatkan panen air hujan menjadi langkah inovatif untuk menjaga ketahanan air bersih masyarakat di tengah ketidakpastian iklim.
Harda juga memberikan apresiasi kepada PT Hutama Karya (Persero) dan Yayasan Kinarya Anak Bangsa yang telah berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ia mengaitkan program tersebut dengan filosofi Jawa “Sapa nandur bakal ngundhuh” atau siapa menanam akan memetik hasil.
“Ketika kita menanam kepedulian terhadap lingkungan dan menjaga sumber air hari ini, maka yang akan dipetik oleh generasi mendatang adalah keberlanjutan kehidupan dan kesehatan yang lebih baik,” tuturnya.
Lebih jauh Harda menekankan, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari berdirinya fasilitas fisik, tetapi juga dari keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan merawat sarana yang telah dibangun. (atm)