Platinum

Dion, Anak Sleman yang Menembus Timnas: Dari Lapangan Kampung ke Panggung Asia

Wijatma T S
02 November 2025
.
Dion, Anak Sleman yang Menembus Timnas: Dari Lapangan Kampung ke Panggung Asia

Dion (kanan) tetap 'cool' ngobrol dalam suasana hangat walau duet Host Rizki Kopong dan Hermin 'ngakak'. (PM-Jatmo)

SLEMAN – Di tengah gegap gempita sepak bola nasional yang kian kompetitif, nama Dominikus Dion muncul sebagai salah satu sosok muda yang mencuri perhatian. Bukan karena sensasi atau sorotan media, melainkan karena perjalanan panjangnya , dari lapangan tanah di Sleman Utara hingga mengenakan jersey Garuda di dada.

Dion, panggilan akrabnya, bukanlah pemain dengan postur menjulang atau tenaga luar biasa. Ia sendiri mengakui tubuhnya tak sebesar pemain lain. Namun, ada satu hal yang membuatnya berbeda: ngotot, berani, dan tak pernah takut kalah.

“Saya cuma berusaha menunjukkan kemampuan terbaik. Nggak mikir banyak di lapangan, yang penting berani dulu,” ujarnya dengan senyum malu-malu di depan duet Host Rizki Koponx dan Hermin ketika proses produksi podcast Kopi Pait besutan PWI Sleman.

Dari Lapangan Kampung ke Akademi PSS

Sejak kecil, Dion sudah tak bisa jauh dari bola. Orang tuanya mendukung penuh mimpinya meski tahu jalan menuju profesional tak mudah. Ia tumbuh di lingkungan yang mencintai sepak bola, Sleman, tempat klub PSS menjadi kebanggaan warga.

Langkahnya dimulai dari SSB di Sleman Utara. Seleksi demi seleksi ia ikuti: mulai dari seleksi tingkat daerah, ASTARA, hingga akhirnya menembus EPA (Elite Pro Academy) PSS Sleman. Di sinilah karakternya terbentuk.

“Seleksi itu berat, banyak teman yang gagal. Tapi saya selalu bilang ke diri sendiri: kalau mau jadi pemain sungguhan, harus berani ambil risiko,” kenangnya.

Meniti dari Akademi ke Tim Senior

Perjalanan Dion tak berhenti di akademi. Ia kemudian menembus PSS U-16, lalu U-18, hingga mendapat kesempatan trial di tim senior PSS Sleman tahun 2021. Dari sekian banyak pemain muda yang mengikuti seleksi, hanya dua yang diterima: Dion dan kiper Syafaat.

Namun, jalan menuju tim utama tak semulus yang dibayangkan. Dion sempat tak mendapat menit bermain dan akhirnya dipinjamkan ke Persipa Pati di Liga 2. Justru di klub inilah ia menunjukkan kematangan permainan dan daya juang luar biasa sehingga dipercaya jadi anggota tim inti.

Musim berikutnya, pelatih Wagner Lopes memanggilnya kembali ke Sleman. Kesempatan itu tak disia-siakan. Dion menjalani debut Liga 1 saat PSS menghadapi Semen Padang laga di PTIK Jakarta, masuk di menit ke-80 pada posisi Back Kanan. Sejak saat itu, namanya mulai dikenal suporter Super Elja sebagai salah satu pemain muda potensial.

Panggilan Timnas dan Lompatan Besar

Titik balik karier Dion datang ketika namanya masuk dalam panggilan Timnas Indonesia U-23. Awalnya, ia hanya mendapat telepon informal dari asisten pelatih Zulkifli Syukur. Tak lama kemudian, surat resmi menyusul , Dion dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan jelang turnamen internasional di Tiongkok.

Rasa gugup bercampur haru menyelimuti dirinya. “Meskipun waktu itu masih tahap seleksi, saya sudah merasa bangga banget. Bisa pakai seragam timnas, itu mimpi semua pemain,” katanya.

Dion akhirnya lolos ke skuad utama berisi 23 pemain, bahkan tampil sebagai starter di semifinal melawan Thailand dan di final melawan Vietnam.

Meski Indonesia belum berhasil meraih juara, pengalaman itu menjadi momen tak terlupakan. Ia sempat melakukan kesalahan kecil di semifinal, namun justru itulah yang membuatnya semakin kuat.

“Rasanya malu, tapi juga belajar banyak. Di timnas, kita bukan cuma main bola, tapi juga bawa nama bangsa,” ucapnya pelan.

Kini Dion kembali memperkuat PSS Sleman, klub yang membesarkannya. Ia tetap sederhana dan tak banyak berubah. Saat pemain seusianya sibuk memburu popularitas, Dion memilih fokus berlatih dan melanjutkan pendidikannya.

Beberapa klub Liga 1 sempat meliriknya, tapi ia memutuskan bertahan di Sleman. “Bagi saya, membela PSS itu seperti membela rumah sendiri,” katanya.

Pesan untuk Generasi Muda

Dion menyadari, banyak anak muda bermimpi menjadi pemain profesional seperti dirinya. Ia ingin perjalanannya menjadi inspirasi bahwa jalan menuju puncak selalu dimulai dari dasar, dari latihan, disiplin, dan keberanian menghadapi kegagalan.

“Kalau mau jadi pemain profesional, harus fokus. Latihan keras, jangan lupakan sekolah, dan tetap rendah hati,” pesannya.

Dion adalah cermin bahwa mimpi besar tidak butuh tubuh besar. Di lapangan, yang lebih penting adalah hati yang berani, kepala yang dingin, dan tekad yang tak pernah padam. Dari Sleman untuk Indonesia, Dion membuktikan bahwa darah lokal pun bisa berkibar di panggung nasional.

Dilarang

Baca Juga