Platinum

Di Bawah Langit Jogja, Sri Sultan HB X Menyapa Massa dengan Alunan Gamelan

Wijatma T S
30 August 2025
.
Di Bawah Langit Jogja, Sri Sultan HB X Menyapa Massa dengan Alunan Gamelan

Sri Sultan Hamengkubuwono X di tengah massa yang bergejolak di Mapolda DIY. (PM-Dok. Pemkot Jogja)

MALAM di Yogyakarta biasanya ramah, penuh cahaya lampu kota yang menenangkan. Namun dini hari Sabtu (30/8/2025), halaman Mapolda DIY justru dipenuhi ribuan massa yang masih bertahan. Suasana tegang terasa kental: suara orasi bersahutan, wajah-wajah letih masih bertahan hingga melewati tengah malam.

Sekitar pukul 01.00 WIB, keheningan sejenak tercipta ketika rombongan Sri Sultan Hamengku Buwono X tiba. Tidak sendiri, Sultan hadir bersama putra-putri beliau—Gusti Condro, Gusti Hayu, dan KPH. Yudhanegara. Ada pula Kapolda DIY, Bupati Sleman, serta jajaran Muspida. Namun yang paling menarik perhatian, Sultan meminta agar perjumpaan dengan massa ditemani oleh kelompok Jaga Warga dari Condongcatur dan Maguwoharjo.

Langkah sederhana itu seolah menegaskan: pertemuan ini bukan sekadar urusan protokol, tapi ruang kebersamaan.

Tak lama kemudian, sebuah mobil Polda berhenti di sisi lapangan, membawa sound system yang mulai mengalunkan Gendhing Manggala. Nada gamelan Jawa yang mengalun pelan membelah riuh orasi, mengalir seperti doa, menenangkan hati yang panas. Massa yang tadinya berdiri rapat, perlahan menoleh, seakan tersadar bahwa Jogja memang tumbuh dari tradisi damai, bukan pertikaian.

Dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, Sultan membuka ucapannya dengan rasa duka. Ia menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang menjadi korban dalam rangkaian aksi.

"Saudara-saudaraku semua, baik mahasiswa, teman-teman Ojol, maupun warga Jogja yang hadir di sini, saya menghargai apa yang anda lakukan. Apa yang anda lakukan ini adalah bagian dari tumbuhnya demokrasi di Jogja. Saya pun sepakat dengan itu," ujarnya.

Ucapan itu disambut hening. Tidak ada teriakan, hanya keheningan singkat yang terasa dalam.

Sultan kemudian mengingatkan, demokrasi di Jogja seharusnya tumbuh lewat cara-cara beradab. “Kenapa selalu ada korban dalam membangun demokrasi? Jogja adalah tempat pendidikan, yang menghargai hak warganya. Mari kita jadikan demokrasi ini ruang dialog, bukan kekerasan,” katanya lirih, seolah berbicara sebagai seorang ayah yang menasihati anak-anaknya.

Tak berhenti memberi pesan, Sultan menawarkan diri menjadi jembatan aspirasi. “Kami siap memfasilitasi dialog dengan pemerintah pusat. Bisa saya lakukan langsung, atau melalui surat yang anda ajukan,” tambahnya.

Usai berbicara, Sultan tak segera kembali ke dalam. Ia justru berjalan perlahan, menyalami para anggota Jaga Warga yang sejak malam menjaga keamanan. Tangan demi tangan dijabat, ucapan terima kasih disampaikan dengan tulus. Adegan itu sederhana, namun sarat makna—pemimpin yang tidak berdiri jauh dari rakyatnya, tetapi menunduk, merangkul, dan menguatkan.

Hingga menjelang subuh, massa masih bertahan. Baru pukul 07.07 WIB, aparat gabungan akhirnya menghalau mereka pulang agar jalan kembali normal. Tetapi gema pesan Sultan tetap tertinggal, mengalun bersama gamelan yang sempat meredam riuh malam itu: bahwa Jogja selalu punya cara damai untuk menjaga marwah demokrasi. (was)

Dilarang

Baca Juga