Platinum

Danrem 072/Pamungkas Ajak Generasi Muda Lestarikan Wayang Kulit

Wijatma T S
01 August 2026
.
Danrem 072/Pamungkas Ajak Generasi Muda Lestarikan Wayang Kulit

Danrem) 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono (tengah). (PM-dok.Penrem972Pmk)

Patmamedia.com (SLEMAN) – Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono mengajak generasi muda ikut menjaga dan melestarikan wayang kulit sebagai warisan budaya adiluhung bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Danrem saat menghadiri pagelaran wayang kulit dalam rangka memperingati HUT ke-61 Batalyon Infanteri (Yonif) 403/Wirasada Pratista di Markas Komando (Mako) Yonif 403/Wirasada Pratista, Sleman, Jumat (31/7/2026).

Pagelaran seni tradisional tersebut berlangsung meriah dan terbuka untuk masyarakat umum. Dalang kondang asal Sleman, Ki Sancoko Hadi Prayitno, membawakan lakon “Wahyu Eka Bawana”.

Hadir dalam kegiatan itu Kasrem 072/Pamungkas, para Kasi Korem 072/Pamungkas, Dandim 0732/Sleman, Ka Korum 403/WP, jajaran Forkopimda Kabupaten Sleman, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, tokoh masyarakat serta sejumlah tamu undangan.

Dalam sambutannya, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono mengapresiasi perjalanan Yonif 403/Wirasada Pratista yang telah memasuki usia 61 tahun. 

Menurutnya, usia tersebut menunjukkan kematangan sekaligus panjangnya jejak pengabdian satuan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Selama enam dekade, Yonif 403/Wirasada Pratista telah membuktikan diri sebagai satuan yang tangguh, disiplin, dan profesional dalam menjaga kedaulatan wilayah NKRI,” ujar Yuniar.

Ia juga menyampaikan bahwa prajurit Yonif 403/WP saat ini tengah mengemban tugas negara di Provinsi Papua demi menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa.

Selain menjadi bagian dari peringatan HUT satuan, pagelaran wayang kulit tersebut merupakan tradisi tahunan Yonif 403/WP setiap menyambut HUT yang jatuh pada 1 Agustus.

Sebagai satuan yang bermarkas di Daerah Istimewa Yogyakarta, Yonif 403/WP dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk turut menjaga kekayaan seni dan budaya lokal.

Yuniar mengingatkan, wayang kulit bukan sekadar hiburan. Kesenian tradisional tersebut juga mengandung refleksi kehidupan dan falsafah yang dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat.

“Wayang bukan sekadar pertunjukan, melainkan media refleksi dan falsafah hidup. Menjadi tugas kita bersama untuk terus melestarikannya,” tegasnya.

Ia menilai pelestarian budaya menjadi semakin penting di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi. Generasi muda diharapkan tidak justru menjauh dari budaya sendiri.

Menurut Yuniar, menjadi hal yang ironis apabila wisatawan asing justru antusias mempelajari wayang, gamelan, dan tari tradisional, sementara generasi muda Indonesia semakin acuh terhadap warisan budaya tersebut.

Wayang kulit sendiri telah diakui UNESCO pada 7 November 2003 sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Sementara itu, lakon “Wahyu Eka Bawana” yang dipentaskan Ki Sancoko Hadi Prayitno mengandung simbol tentang kasepuhan, kepemimpinan, serta penyatuan energi kebaikan untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan di bumi.

Danrem menilai pesan moral tersebut relevan dengan kehidupan prajurit TNI maupun masyarakat. 

Menurutnya, kejayaan dan ketenteraman wilayah hanya dapat diwujudkan melalui kesatuan tekad, keikhlasan dalam berbakti serta kepemimpinan yang berlandaskan moralitas.

Pagelaran wayang kulit tersebut sekaligus menjadi ruang silaturahmi antara prajurit TNI dan masyarakat Sleman. 

Warga dan prajurit membaur menikmati pertunjukan budaya dalam suasana penuh keakraban.

Kegiatan itu menjadi gambaran nyata Kemanunggalan TNI dengan Rakyat, sekaligus menegaskan bahwa TNI lahir dari rakyat, bekerja untuk rakyat dan senantiasa hadir di tengah-tengah rakyat. (atm/Penrem072Pmk)

Dilarang

Baca Juga