Condongcatur Jadi Role Model Demokrasi Inklusif, Ketua DPRD: 'Jadikan DPR Rumah Bersama'
Wijatma T S
22 July 2025
.
Ketua DPRD Sleman, Y. Gustan Ganda, S.T dan Ketua KPU Sleman, Ahmad Baehaqi, S.Ag., menjadi narasumber pada Seminar Pemahaman Demokrasi dan HAM di Kantor Kalurahan Condongcatur, Selasa (22/7). (PM-ist)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Kalurahan Condongcatur, Sleman, tampaknya tengah melangkah lebih maju dalam penguatan nilai-nilai demokrasi. Hal ini terlihat dari pelaksanaan Seminar Pemahaman Demokrasi dan HAM bertema “Kolaborasi Masyarakat dan Kalurahan dalam Menciptakan Demokrasi yang Inklusif dan Berkelanjutan” yang digelar Selasa (22/7) di ruang Wacana Loka Kantor Kalurahan Condongcatur.
Kegiatan ini digagas Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman dan diikuti 50 peserta dari unsur tokoh masyarakat, agama, pemuda, perempuan, Lembaga Kalurahan (LPMK, PKK, Karangtaruna), Satlinmas, hingga perwakilan disabilitas.
Seminar ini menghadirkan narasumber penting: Ketua DPRD Sleman, Y. Gustan Ganda, S.T dan Ketua KPU Sleman, Ahmad Baehaqi, S.Ag.
Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, S.IP., M.IP., menyambut baik pelaksanaan seminar tersebut dan menyampaikan strategi Kalurahan Condongcatur dalam membangun sistem demokrasi yang tidak hanya prosedural, tetapi juga menyentuh aspek substansial masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Kesbangpol Sleman, Sigit Herutomo, S.H., M.A.P., menekankan pentingnya kolaborasi antara warga dan pemerintah desa.
“Diharapkan, Kalurahan Condongcatur dapat menjadi contoh model kalurahan yang mengedepankan tata kelola inklusif, transparan, dan berkelanjutan, demi memperkuat pilar demokrasi,” ungkapnya.
Ia juga memaparkan berbagai inisiatif Pemkab Sleman dalam membangun demokrasi inklusif, seperti program pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kapasitas melalui pendidikan politik.
Dalam sesi pertama, Ketua DPRD Sleman, Y. Gustan Ganda, S.T., menyoroti pentingnya keterlibatan seluruh lapisan masyarakat dalam proses demokrasi. Ia menggarisbawahi bahwa diskriminasi dalam peraturan dan minimnya ruang dialog antara rakyat dan wakilnya masih menjadi tantangan besar.
“Maka dari itu, peran tokoh masyarakat dan agama sangat penting sebagai jembatan suara rakyat kepada wakilnya,” katanya.
“Jadikan DPR/DPRD rumah bersama, bukan milik segelintir orang saja dan perkuat kolaborasi dengan semua pihak,” tegas Gustan, disambut tepuk tangan peserta.
Ia juga menyerukan penyusunan regulasi yang adil dan melibatkan semua pihak agar tercipta demokrasi yang manusiawi dan inklusif.
Ketua KPU Sleman, Ahmad Baehaqi, S.Ag, dalam paparannya mengulas pentingnya kualitas partisipasi pemilih di tingkat kalurahan. Menurutnya, keberhasilan pemilu bukan hanya soal pelaksanaan teknis, tetapi juga bagaimana masyarakat terlibat secara sadar dan aktif.
“Partisipasi ini mencerminkan sejauh mana masyarakat yang telah memenuhi syarat berperan serta dalam proses demokrasi dengan memberikan suara mereka,” jelasnya.
“Pemilu adalah musyawarah besar bangsa Indonesia. Suara rakyat adalah suara pemilu,” pungkas Baehaqi.
Ia menegaskan, penyelenggaraan Pemilu yang jujur dan adil membutuhkan integritas semua pihak: penyelenggara, pemerintah, peserta, hingga masyarakat sipil. (atm)