Platinum

Bincang-Bincang Pendidikan dalam Pameran Hamemayu Hayuning Sarira

Nadi Mulyadi
03 August 2025
.
Bincang-Bincang Pendidikan dalam Pameran Hamemayu Hayuning Sarira

Dalam suasana obrolang yang hangat namun serius, Zuhartina, S.Pd menekankan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak. (PM-Nadi)

Patmamedia.com (Yogyakarta) — Untuk menyemarakkan Pameran Serat Holistik Kehidupan Susilawati Susmono bertajuk “Hamemayu Hayuning Sarira” di Gedung Saraswati, Museum Negeri Sonobudoyo, Yogyakarta, panitia menggelar acara bincang-bincang seputar dunia pendidikan.

Acara berlangsung pada Sabtu sore, menghadirkan tiga narasumber dari Podcast SSO (Susilawati Susmono Official), yaitu: Zuhartina, S.Pd (Ketua Yayasan Tunas Sejati), Ki Nanang Rekto Wulanjaya, S.Pd., M.Si (Anggota Pembina Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa), dan dr. Risa Rianita (Kepala Galeri Susilawati Susmono, Bangka)

Diskusi dimoderatori  Ki Bambang Widodo, S.Pd., M.Pd. (Pj. Kepala Museum Serat Holistik Kehidupan Susilawati Susmono), mengangkat tema: “Apakah Masih Halu? Dunia Terus Berjalan, Siapkanlah Dirimu.”

Pendidikan Dimulai dari Rumah:

Zuhartina, S.Pd menekankan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Menurutnya, suasana rumah yang kondusif, penuh kasih sayang, serta komunikasi yang baik dapat menanamkan nilai moral, agama, dan budi pekerti sejak dini.

“Pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga. Ini menjadi benteng pertama anak dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif dari lingkungan luar,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, dalam menghadapi generasi Z dan Alpha, orang tua harus menerapkan pola asuh yang lembut namun tegas, layaknya “tarik ulur seperti bermain layangan”. Terlalu mengekang bisa berakibat fatal, anak bisa menjadi liar atau justru minder karena kurang bersosialisasi.

Di sisi lain, pendidikan formal berperan menciptakan ruang belajar yang mendorong pengembangan potensi anak. Sedangkan masyarakat turut berkontribusi terhadap pembentukan aspek akal, hati, dan perilaku anak secara menyeluruh.

Sedangkan Ki Nanang Rekto Wulanjaya menguatkan pandangan tersebut dengan mengangkat konsep Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: keluarga, perguruan (sekolah), dan masyarakat.

Sebagai cucu dari pendiri Tamansiswa itu, Ki Nanang juga menekankan pentingnya pendekatan Tri-Nga (Ngerti, Ngrasa, Nglakoni) dalam pembelajaran yang memerdekakan jiwa. “Orangtua dan guru harus menjadi teladan. Pendidikan itu seharusnya menyenangkan, penuh kelembutan dan keindahan budi, seperti taman yang indah,” katanya.

Ia juga menyinggung soal bahaya penyalahgunaan napza. Menurutnya, adiksi kerap berakar dari pengalaman pengasuhan yang kering dari kasih sayang dan apresiasi. Pencegahan hanya bisa dilakukan melalui sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Narasumber ketiga, dr. Risa Rianita, memaparkan bagaimana Galeri Susilawati Susmono di Bangka digunakan untuk pengabdian masyarakat, khususnya terapi bagi korban penyalahgunaan napza.

“Kami melakukan terapi qalbu melalui karya-karya Susilawati Susmono, seperti tari, puisi, dan lagu ‘Kosongkan’. Hasil riset menunjukkan bahwa karya-karya ini dapat menggugah kesadaran dan mengenalkan potensi diri yang selama ini terpendam,” jelas dr. Risa, yang juga pengurus Galeri Susilawati Bangka.

Ia menambahkan, pendekatan seni terbukti efektif dengan tingkat kekambuhan yang rendah, sehingga para terapis terdorong untuk terus melakukan terapi ini secara rutin.

Harapan untuk Generasi Muda:

Acara ini ditutup dengan pesan optimisme bagi generasi muda. Diharapkan, anak-anak bangsa mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk berkarya secara positif, menemukan jati diri, dan mengisi kemerdekaan dengan prestasi yang bermakna menuju Indonesia Emas.

Sebagai penutup, panitia memberikan doorprize kepada empat orang penanggap, salah satunya adalah Ki Sutikno, mantan dosen Ketamansiswaan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.***
 

Dilarang

Baca Juga