Bedah Buku “Salah Kaprah Aksara Jawa”: Saat Aksara Tua Bicara di Dunia Digital
Nadi Mulyadi
29 October 2025
.
Para peserta diskusi dan narasumber acara bedah buku Salah Kaprah Aksara Jawa. (PM-Nadi M)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Aksara Jawa ternyata masih punya tempat di hati banyak orang, termasuk di kalangan jurnalis. Itu tampak dalam acara Bedah Buku “Salah Kaprah Aksara Jawa” yang digelar di Rumah Makan Puri Mataram, Drono, Sleman, Selasa (28/10/2025).
Buku karya Sukron Arif Muttaqin, S.E., M.A.P. (anggota DPRD Sleman) dan Setyo Amrih Prasojo, S.S. (Kasi Bahasa dan Sastra Kundho Kebudayaan DIY) ini dibedah dalam suasana santai tapi penuh makna. Sekitar 50 peserta hadir, sebagian besar jurnalis, ikut menyimak dan berdiskusi aktif.
Acara dibuka oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman, Dra. Savitri Nurmala Dewi, M.A. yang menekankan pentingnya literasi budaya di tengah era serbadigital.
“Aksara Jawa bukan sekadar simbol. Ia adalah cermin identitas dan bagian dari peradaban lokal yang harus terus dihidupkan,” ujar Savitri.
Diskusi menghadirkan tiga pembicara utama: Sukron Arif Muttaqin, Setyo Amrih Prasojo, dan Hudono, S.H., Ketua PWI DIY. Bertindak sebagai moderator adalah Bagus Eko Nur Saputro, S.I.P.. Sesi tanya jawab berjalan seru, karena banyak peserta yang menaruh minat pada isu pelestarian aksara di dunia modern.
Menurut Sukron Arif, buku “Salah Kaprah Aksara Jawa” ditulis untuk meluruskan berbagai kesalahan umum yang sering terjadi dalam membaca maupun menulis aksara Jawa.
“Aksara Jawa memiliki nilai sejarah dan filosofi tinggi. Jangan sampai hanya menjadi pajangan di dinding sekolah. Ia harus dijaga, dipelajari, dan diadaptasi agar tetap hidup di tengah laju teknologi,” kata politisi dari Fraksi PKB itu.
Sementara Setyo Amrih Prasojo menyoroti persoalan sistemik dalam dunia pendidikan. Tantangan terbesar, katanya, bukan sekadar minat anak muda, tapi juga minimnya tenaga pendidik yang benar-benar menguasai bahasa dan aksara Jawa.
“Guru yang bisa mengajarkan aksara Jawa jumlahnya sangat terbatas. Itu berpengaruh besar pada regenerasi dan pembelajaran di sekolah,” jelasnya.
Dari sisi media, Hudono mengingatkan pentingnya peran jurnalis dan media massa dalam menjaga eksistensi budaya lokal.
“Insan pers punya peran besar untuk terus mengampanyekan penggunaan bahasa dan aksara Jawa. Lewat pemberitaan, edukasi publik, dan kreativitas konten, kita bisa membuatnya tetap hidup,” ujarnya.
Acara yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ini menjadi ajang refleksi, bahwa semangat kebangsaan tak hanya diukur dari kata-kata, tapi juga dari bagaimana generasi kini menjaga warisan budaya. Termasuk, lewat aksara yang nyaris terlupakan.***