HUT Sleman

Asyiknya Menyusur Jalan Inspeksi Selokan Mataram Sampai Ancol

Muh Sugiono
17 July 2023
.
Asyiknya Menyusur Jalan Inspeksi Selokan Mataram Sampai Ancol

Saluran pembagi aliran selokan di ujung barat Selokan Mataram di dekat Jembatan Ancol. (PM-Muh Sugiono)

MINGGU PAGI (16/7/2023)  saya berangkat gowes sendirian, sekaligus berniat mengunjungi rumah seorang kawan di daerah Minggir, Sleman, melewati Jalan Inspeksi Selokan Mataram. Di tengah jalan saya berubah pikiran setelah sadar , ternyata perjalanan itu mengasyikkan. Rencana ke rumah kawan pun sekeika batal, berganti  keinginan untuk menjajal sebuah petualangan baru,  menyusuri selokan sampai ke hulu aliran di Sungai Progo.

Sepintas seperti tak ada yang istimewa melihat aliran Selokan Mataram yang membelah sebagian wilayah Yogyakarta itu. Tapi, setelah benar-benar menyusurinya ternyata banyak  pengalaman luar biasa yang saya temukan. Menikmati sawah menghijau yang membentang,  kesibukan para  petani dan para gembala kerbau bekerja di pagi buta,  menjadi pemandangan menarik yang bisa dilihat sepanjang Jalan Selokan dari ujung barat di Kali Progo Dusun Ancol, Magelang sampai ujung timur di Sungai Opak, Kalasan, Sleman.  Pada hari kerja biiasa, jalan kembar yang mengapit aliran selokan itu akan dipenuhi lalu lintas kendaraan .para pelajar dan mahasiswa yang berangkat kuliah.

 

Pukul 05.00 pagi itu saya genjot pelan-pelan pedal sepeda gunung yang saya kendarai itu keluar kampung menuju Jalan Selokan Mataram. Pandangan mata langsung disapa hamparan sawah di sekitar Pedusunan Pundong, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati. Tempat ini juga sering digunakan  beberapa mahasiswa pecinta alam berlatih mendayung kano. 

Mulai dari garis start tadik saya melaju ke arah barat, membelakangi terbit matahari yang memerah di ufuk timur.  Menyusuri saluran irigasi bersejarah ii pagi hari sangat menyegarkan. Selain sinar matahari yang terasah hangat di kulit, juga banyak aktivitas masyarakat agraris yang bisa dilihat.

Sampai di Dusun Barongan yang berjarak sekitar 7 kilometer dari garis start, saya  harus melewati jalan kecil dan licin agar tak tergelincir. Di kanan-kiri selokan, tampak pintu air terbuka mengoncori sawah penduduk sekitar. Seorang  penggembala bebek tampak berlarian di atas pematang, menghalau piaraannya agar tak  mendekati tanaman padi yang sedang menguning.

Sampai di Kali Krasak yang membentuk cerukan sedalam 6 meter, tiba-tiba selokan menghilang. Kemana? Ternyata  selokan dialirkan melewati bawah tanah dan naik lagi di seberang. Sifat air yang selalu rata, rupanya sengaja dimanfaatkan untuk melintasi rintangan Kali Krasak ini. Mengagumkan.

Kekaguman saya memuncak begitu sampai di Dusun Ngluwar, Magelang. Di tempat ini  lagi-lagi aliran Selokan Mataram lenyap. Beberapa saat saya kebingunan untuk menemukan kembali selokan, bahkan sempat mengira telah sampai ke hulu aliran. Dari seorang warga akhirnya saya tahu, ternyata selokan yang saya cari itu menerobos tanah melewati terowongan di bawah rumah-rumah penduduk desa.

Sembari melanjutkan perjalanan, terbayang di benak bagaimana para kakek moyang kita dulu mengerjakan itu dengan peralatan amat sederhana. Dua kilometer kemudian barulahsaya sampai di hulu Selokan Mataram. Sebuah  bendungan kecil bernama Bendung Karang Talun membentang di tengah  Sungai Progo. Air dari bendungan itulah yang kemudian mengalir ke Selokan Mataram.

Dari Jembatan Ancol di atas bendungan itu, saya menyaksikan  derasnya aliran Sungai Progo yang juga sering digunakan sebagai arena arung jeram. Setiap sore atau hari libur, tempat itu juga  banyak dikunjungi para remaja sebagai tempat rekreasi yang murah dan menyenangkan.

Selokan sepanjang 30 kilometer ini dibangun sebagai taktik mendiang Sri Sultan HB IX menghindarkan rakyat dari kewajiban menjadi romusha di masa penjajahan Jepang. Saluran yang semula bernama Kanal Yoshiro itu sekarang dikenal sebagai Selokan Mataram dan  masih berfungsi sebagai urat nadi yang mengairi belasan ribu hektar sawah.

Menikmati keindahan alam pedesaan sambil  mengenang sejarah. Sebuah petualangan baru, juga  bagi Anda yang sehari-hari hidup di kota.*  

 

Dilarang

Baca Juga