Ziarah ke Makam Bupati Pertama Sleman: Mengenang Jejak Pengabdian KRT Pringgodiningrat
Wijatma T S
09 May 2025
.
Makam KRT Pringgodiningrat. (PM-kus)
Patmamedia.com (SLEMAN) — Di bawah langit pagi yang teduh dan berselimut embun tipis, derap langkah rombongan Pemerintah Kabupaten Sleman menyusuri jalan setapak menuju pemakaman umum Karongan, Jogotirto, Berbah, pada Rabu pagi, 7 Mei 2025. Hari itu, bukan sekadar langkah fisik yang mereka tapaki, melainkan juga langkah batin dalam menelusuri jejak sejarah, mengenang jasa, dan merajut kembali benang-benang pengabdian yang telah ditanam sejak masa kemerdekaan.
Ziarah ini bukan sekadar agenda rutin menjelang Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-109 yang akan diperingati pada 15 Mei mendatang. Ia adalah wujud penghormatan mendalam terhadap sosok yang menjadi tonggak awal berdirinya pemerintahan di Sleman: Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat. Beliau adalah Bupati pertama Sleman, menjabat sejak tahun 1945 hingga 1957—masa penuh gejolak dan perjuangan dalam membangun pemerintahan yang baru saja merdeka.
Rombongan dipimpin oleh Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum, Eka Suryo Prihantoro, S.Si., M.Kom. Bersama para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Panewu Berbah, serta staf terkait, mereka berjalan dengan hati penuh takzim. Setibanya di kompleks pemakaman keluarga trah Mangunjaya, mereka disambut hangat oleh Romo Suryo Putro, cucu dari KRT Pringgodiningrat, dan dr. Dini Trees Harjanti, cicit beliau yang kini meneruskan semangat pengabdian sebagai Kepala Puskesmas Pakem.
Dalam suasana hening yang sarat rasa hormat, Eka menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Bupati Sleman. Namun, keterwakilan yang hadir membawa pesan yang tak kalah tulus.
"Mohon izin, Bapak Bupati tidak dapat hadir secara langsung. Namun kami datang dengan penuh hormat untuk mengenang jasa besar beliau. Semoga semangat beliau menginspirasi kita semua untuk terus membangun Sleman menjadi lebih baik," ucap Eka, suaranya terdengar haru, menggambarkan rasa syukur dan kekaguman kepada sang tokoh.
Romo Suryo Putro, dengan senyum lembut dan mata yang menyimpan kenangan panjang, menceritakan kisah leluhurnya. Makam KRT Pringgodiningrat, tutur beliau, terletak di pemakaman khusus keluarga Mangunjaya, tempat para leluhur dari Mangunjaya I hingga IV bersemayam. Nama muda beliau adalah RM Yasir, yang secara silsilah seharusnya menjadi Mangunjaya V. Namun, karena menikahi putri dari Sultan Hamengkubuwono VII, beliau memperoleh gelar kehormatan KRT Pringgodiningrat dari Keraton Yogyakarta. Maka, gelar Mangunjaya berhenti sampai di generasi keempat.
Ziarah ini menguak pula sisi lain kehidupan KRT Pringgodiningrat yang jarang tersentuh publik. Bahwa sebelum memimpin Sleman, beliau telah lebih dulu menorehkan pengabdian di wilayah lain. Ia menjabat sebagai Bupati Gunungkidul (1929–1935), kemudian Bupati Kulonprogo (1935–1945). Pengabdiannya merentang di tiga kabupaten, sebuah jejak panjang yang menandakan keteguhan, keluhuran budi, dan semangat persatuan.
Tak jauh dari pusara beliau, berdiri sebuah nisan kecil yang menyimpan kisah mistis—makam bayi kembar R. Suyono dan R. Sujono. “Konon makam ini wingit,” tutur Romo Suryo lirih, seolah membawa hadirin ke dalam lorong waktu yang menyatu antara sejarah dan cerita tutur, antara fakta dan kearifan lokal. Diyakini, kisah makam bayi kembar inilah yang menjadi asal usul penamaan dusun Karongan, tempat peristirahatan terakhir sang bupati.
Suasana ziarah pagi itu terasa begitu dalam dan menyentuh. Tidak ada suara nyaring, tak ada hiruk-pikuk. Hanya desir angin yang membawa harum bunga tabur, suara doa yang lirih, dan hati-hati yang khusyuk mengenang perjuangan orang-orang terdahulu.
Di bawah naungan pohon-pohon tua yang diam menyaksikan zaman, semangat KRT Pringgodiningrat seolah hidup kembali. Ia hadir di antara kita, menyapa dengan tenang, seakan berkata: “Lanjutkan perjuangan ini. Rakyat Sleman adalah keluarga besar yang harus dijaga dengan kasih dan keteladanan.”
Ziarah itu tak lagi sekadar seremoni. Ia menjelma menjadi pengingat tentang akar, tentang jati diri, dan tentang pengabdian yang tak lekang oleh waktu. Sebab sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin untuk masa depan.(Kus)