.
Dr. Sumbo Tinarbuko: Mudik sebagai Ritual Kultural. (PM: grafis)
Oleh Dr. Sumbo Tinarbuko
FENOMENA kembali ke udik, atau yang lebih dikenal sebagai mudik, diposisikan sebagai peristiwa sakral bagi sebagian besar masyarakat di Kepulauan Nusantara. Para pelaku mudik senantiasa menantikan momentum Lebaran dalam konteks perayaan Idul Fitri. Tujuannya jelas, yaitu merawat rasa rindu kepada orang tua, kerabat inti, hingga trah keluarga besar.
Pelepasan rindu ini kerap diwujudkan melalui ritual sungkeman sebagai representasi sikap bakti kepada orang tua, keluarga inti, serta kerabat besar. Dampak sosial-budaya yang kasatmata, salah satunya, adalah tradisi pulang kampung yang diyakini mampu menyegarkan kembali jiwa dan raga yang sebelumnya terkuras oleh rutinitas pekerjaan di perantauan.
Pulang mudik merupakan representasi budaya lokal yang hingga kini tetap terjaga sebagai kekuatan spiritual masyarakat. Dalam konteks perayaan Idul Fitri di Nusantara, fenomena ini menyerupai perjalanan kembali ke asal-usul kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Tanah kelahiran dan kampung halaman senantiasa dirindukan dalam suasana yang fitri, indah, nyaman, dan membahagiakan.
Wisata Mudik sebagai Perjalanan Menyenangkan
Di era budaya layar dan digital, tradisi mudik mengalami transformasi konsep. Muncul gagasan baru yang dikenal sebagai wisata mudik. Konsep ini semakin populer seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya liburan dalam kerangka pariwisata.
Secara teoretis maupun praktis, wisata mudik dimaknai sebagai perjalanan yang menyenangkan selama libur Idul Fitri. Dalam konteks ini, mudik tidak sekadar pulang kampung, tetapi juga dimanfaatkan sebagai momentum berwisata.
Dengan demikian, wisata mudik merupakan perpaduan antara agenda pulang kampung dan aktivitas rekreasi. Kegiatan wisata dapat dilakukan sepanjang perjalanan maupun setelah tiba di kampung halaman.
Jejak digital menunjukkan bahwa para pemudik kerap mengunjungi berbagai destinasi menarik di daerah asal, seperti pantai, pegunungan, hutan, danau, hingga sungai. Mereka juga mengunjungi situs sejarah dan bangunan heritage, mencicipi kuliner lokal di pusat gastronomi desa, menikmati seni pertunjukan, serta membeli karya seni visual sebagai oleh-oleh.
Tradisi mudik Lebaran memiliki akar yang kuat dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Fenomena ini tidak sekadar perjalanan fisik, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan saat bertemu kembali dengan keluarga besar. Momen tersebut diisi dengan pertukaran cerita, pengalaman hidup, serta refleksi atas perjuangan di perantauan.
Bagi banyak orang, khususnya Generasi Milenial dan Generasi Z, wisata mudik menjadi pilihan yang menarik. Mereka tidak hanya menjalankan kewajiban sosial, tetapi juga melakukan ngrabuk nyawa, yakni memupuk kembali energi jiwa dan raga saat pulang ke kampung halaman.
Fenomena ini turut mendorong perkembangan destinasi wisata di desa. Momentum mudik sekaligus menjadi indikator bergeraknya ekonomi kerakyatan, di mana berbagai produk lokal diserap oleh para pelancong.
Dampak Ekonomi Pariwisata
Fenomena mudik dan wisata mudik memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat desa. Ketika ratusan ribu pemudik kembali ke kampung halaman, permintaan terhadap transportasi lokal, kuliner, penginapan, dan cinderamata meningkat tajam. Kondisi ini membuka peluang keuntungan ekonomi yang besar selama libur Lebaran.
Di sisi lain, tren wisata mudik menciptakan peluang pengembangan sektor pariwisata desa. Hasil dari aktivitas ekonomi ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan fasilitas publik, memperbaiki kualitas destinasi wisata, serta memperkuat branding dan promosi daerah.
Dengan demikian, perputaran ekonomi dalam wisata mudik menghasilkan dua manfaat utama. Pertama, kepuasan dan pengalaman berharga bagi para pelancong. Kedua, peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal yang mengelola destinasi wisata.
Tantangan dan Dampak Negatif
Meski membawa banyak keuntungan, fenomena mudik dan wisata mudik tidak lepas dari konsekuensi. Hukum sebab-akibat menghadirkan berbagai tantangan, seperti kemacetan lalu lintas di jalur menuju destinasi wisata.
Selain itu, muncul pula persoalan lingkungan, seperti penumpukan sampah plastik, sisa makanan, genangan air kotor, hingga sampah visual berupa reklame komersial dan politik yang dipasang sembarangan di ruang publik.
Untuk itu, diperlukan kesiapsiagaan dari perangkat desa, Satpol PP, serta pemerintah daerah dan kabupaten dalam mengantisipasi dampak tersebut. Penanganan yang tepat menjadi penting agar momentum mudik dan wisata mudik tidak justru menjadi promosi buruk yang menggema di media sosial.***
*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta