Tumpeng, Beasiswa, dan Doa-doa Kecil di Usia 79 Condongcatur
Wijatma T S
26 December 2025
.
Lurah Reno bersama penerima beasiswa. (PM-
SLEMAN - Di bawah pendopo Kalurahan Condongcatur, Kamis malam itu (25/12/2025), waktu seolah berjalan lebih pelan. Tidak ada gemerlap panggung besar atau pesta pora. Yang ada hanyalah tumpeng sederhana, wajah-wajah penuh harap, dan doa-doa kecil yang dipanjatkan bersama.
Malam Tirakatan Hari Jadi ke-79 Kalurahan Condongcatur menjadi ruang sunyi yang hangat—tempat syukur dirawat dan masa depan dititipkan. Di usia yang hampir delapan dekade, Condongcatur memilih merayakan perjalanan panjangnya dengan memberi, bukan sekadar mengenang.
Sebanyak 54 anak sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA duduk berdampingan dengan orang tua mereka. Mata mereka berbinar ketika nama-nama dipanggil satu per satu. Beasiswa diserahkan, bukan hanya sebagai bantuan biaya pendidikan, tetapi sebagai pesan diam-diam: kalian penting, kalian harapan.
Malam itu, tumpeng dipotong sebagai simbol syukur atas kanugrahan Tuhan Yang Maha Esa. Potongan pertama diserahkan Lurah Condongcatur kepada Jagabaya, sebuah gestur kecil yang sarat makna tentang estafet pengabdian. Setelahnya, beasiswa diberikan secara simbolis: siswa SD oleh Lurah Condongcatur, siswa SMP oleh Panewu Depok, dan siswa SMA oleh Danramil 11 Depok. Para orang tua pun menerima paket sembako, pengakuan bahwa pendidikan anak tak pernah lepas dari keteguhan keluarga di belakangnya.
Dalam sambutannya, Lurah Condongcatur, Dr. Reno Sangaji, S.IP., M.IP., mengajak hadirin menengok ke belakang tanpa kehilangan arah ke depan. Usia 79 tahun, katanya, bukan sekadar angka, melainkan jejak panjang perjuangan para pendahulu.
“Keberhasilan ini tidak lepas dari perjuangan para pendahulu kita yang telah merintis. Kita hari ini melanjutkan dan menyempurnakan dengan berbagai program dan kebijakan, untuk kemudian menyerahkan estafet kepada penerus,” tuturnya.
Ia berharap, beasiswa yang rutin diberikan di 18 padukuhan Condongcatur mampu menjadi suluh kecil yang menyalakan semangat belajar anak-anak. Bukan hanya untuk mengejar prestasi, tetapi juga untuk meraih mimpi-mimpi mereka dengan kepala tegak.
Doa yang sama disampaikan Panewu Depok, Djoko Muljanto, SP, yang turut hadir bersama jajaran Muspika Kapanewon Depok, BPKal, pamong kalurahan, purna tugas pamong beserta ahli waris, lembaga kalurahan, dan tokoh masyarakat.
“Ndherek mangayubagyo lan mahargyo petongatan Hari Jadi ke-79 Kalurahan Condongcatur. Semoga tambah maju, mandiri, dan sejahtera dengan semangat nyawiji, guyub rukun, kerta raharja,” ucapnya.
Bagi Panewu Depok, malam tirakatan bukan hanya seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi. Di sanalah capaian prestasi dirayakan, dari tingkat kapanewon hingga nasional, sekaligus menjadi cermin untuk menatap pekerjaan rumah yang belum selesai di penghujung 2025.
Ketika acara formal usai, suasana mencair. Semua yang hadir menikmati sego gudangan ayam jowo, duduk bersama tanpa sekat jabatan. Percakapan ringan, tawa kecil, dan kebersamaan menjadi penutup malam tirakatan yang bersahaja namun bermakna.
Di usia 79 tahun, Condongcatur tidak berteriak tentang kemajuan. Ia membisikkan harapan lewat beasiswa, berbagi lewat sembako, dan menyatukan warganya lewat tirakatan. Dari pendopo sederhana itu, doa-doa dipanjatkan agar Condongcatur terus tumbuh dan berkembang, maju, aspiratif, kreatif, inovatif, dan selalu dekat dengan seluruh lapisan masyarakat.
Karena di sanalah sejatinya sebuah kalurahan hidup: pada manusia-manusia yang saling menguatkan, dari generasi ke generasi.