.
Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta (PM-Dok pribadi)
Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko
JEJAK peradaban budaya visual milik insan manusia yang memiliki talenta khusus selalu meninggalkan prasasti tertulis.
Wujudnya dalam bentuk karya penciptaan seni dan perancangan desain. Beberapa di antaranya tercatat rapi pada goresan dinding gua di Maros?Pangkep.
Ukiran batu hitam berupa pahatan relief di dinding candi yang tersebar di seantero Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Ada pula lipatan kain batik tulis halus hasil goresan canting untuk menorehkan motif batik yang adiluhung. Di sampingnya juga tersaji batik cap dan batik printing yang juga memiliki pembeli tersendiri.
Semua jejak peradaban budaya visual yang tercatat di atas, diakui masyarakat dunia. Mereka menyebutnya dengan julukan warisan tak benda.
Kerangka Baru
Sudah menjadi rahasia umum setiap kali terjadi proses penciptaan karya seni dan perancangan karya desain senantiasa menghasilkan bahasa visual yang unik dan menarik.
Bahasa visual itu mewakili cara berpikir setiap entitas manusia. Bahasa visual merepresentasikan proses produksi nilai. Bahasa visual juga mengandung tantangan zaman yang harus dirangkul sebagai modal sosial.
Ketika tantangan zaman harus dijawab lewat bahasa visual. Pada titik ini, hadirnya teknologi digital bersama internet, suka tidak suka, mulai mengubah alat produksi seni dan desain. Dari sana muncul transformasi karya penciptaan seni dan karya perancangan desain.
Hasil transformasi visual itu diakui semua pihak. Keberadaannya selalu memproduksi makna serta pengetahuan seni dan desain yang baru. Buah dari transformasi visual itu senantiasa menggendong unsur novelty.
Dampak visual atas hasil transformasi karya penciptaan seni dan karya perancangan desain mempengaruhi perilaku insan manusia. Sambungan dari dampak visual itu mengubah pola penyebaran serta fungsi karya penciptaan seni dan karya perancangan desain bagi warga masyarakat maupun warganet.
Terpenting dalam konteks budaya digital, transformasi visual ini, tidak hanya berkaitan dengan tren dan gaya hidup saja. Ada energi besar yang muncul dari mata air transformasi visual atas karya penciptaan seni serta perancangan karya desain.
Energi besar itu jamak disebut dengan proses pergeseran fundamental. Secara teoritis dapat dipahami sebagai tahapan membentuk konstruksi baru. Kerangka anyar bagi terbentuknya peradaban budaya digital masyarakat modern.
Dengan demikian, berdasarkan kerangka anyar itu, karya penciptaan seni dan karya perancangan desain bukan sekadar karya dekorasi atau ekspresi individu. Bukan juga representasi sebuah karya seni yang hanya berfungsi sebagai penghias ruang publik atau ruang privat.
Sebaliknya, keberadaan karya penciptaan seni dan karya perancangan desain bersalin wajah secara signifikan.
Sekarang diposisikan sebagai alat tukar ekonomi. Didudukan sebagai sokoguru infrastruktur budaya. Lalu dipasang menjadi representasi jembatan identitas visual warga masyarakat dan warganet pada era budaya digital.
Budaya Digital
Harus dipahami bersama, hadirnya budaya digital membawa multi dampak visual terhadap identitas insan manusia. Multi dampak itu berujung pada dua arus utama. Pertama, arus positif. Arus kebaikan serta arus kemudahan. Kedua, arus negatif dan kejelekan.
Multi dampak visual dalam konteks arus positif, tampak dari fasilitas internet. Prasarana digital yang dapat diakses dengan mudah dan bebas merdeka tanpa batas.
Arus positif lainnya berupa fasilitas canggih yang dimanfaatkan sebagai modal digital.
Keberadaannya digunakan untuk mengekalkan ide berkelindan di benak dan sanubari para seniman. Baik seniman yang bergerak pada bidang seni visual. Berkarya di ranah seni pertunjukan. Berkreasi lewat seni multimedia interaktif maupun para desainer yang merancang berbagai produk desain.
Arus positif era budaya digital terbukti memperkaya diksi dan frasa bahasa visual. Diyakini memantik proses kawin silang antar mazhab seni tradisional dengan seni modern dan kontemporer.
Proses kolaborasi membentuk kombinasi baru yang sedang berlangsung atas beragam mazhab seni itu dinilai memiliki daya tarik dahsyat. Apalagi jika semuanya itu dialihwahanakan lewat media komunikasi digital. Semakin terlihat josss!
Harus juga diingat. Di balik arus positif tersembul arus negatif. Hal ini yang perlu diwaspadai bersama.
Manakala pembaca laman patmamedia.com tidak sanggup bermain cantik di dalam mengarungi budaya digital. Mereka akan terbelit kemudian terjerembab di tanah budaya digital tanpa mampu bergerak sedikitpun.
Agar pengguna fasilitas digital yang digerakan internet dan pendukung budaya digital tidak jatuh dalam pelukan arus negatif. Perlu berani mengedepankan prinsip serta sikap untuk senantiasa menyaring dan menyesuaikan diri dengan kepribadian Indonesia.
Hal itu merupakan strategi jitu agar ciri khas karya cipta seni rupa. Karya penciptaan seni pertunjukan, seni multimedia interaktif dan karya perancangan desain (desain grafis, desain komunikasi visual, desain produk, desain interior) selalu selaras bersama getaran jiwa budaya nusantara milik bangsa Indonesia.
Penerapan strategi jitu seperti itu merepresentasikan peran strategis penciptaan karya seni dan perancangan karya desain modern. Dampak visual atas penerapan strategi itu mengejawantah menjadi konstruksi kokoh penyangga identitas visual bangsa Indonesia.
Dari sana dapat dipahami bersama. Sejatinya transformasi penciptaan karya seni dan karya perancangan desain era budaya digital. Sesungguhnya bukanlah mengganti teknik bahkan menghapus segala sesuatu yang berbau tradisional dan manual. Kemudian serta merta menggantikannya dengan teknologi digital berbasis internet. Akan tetapi, secara sadar, wajib memadupadankan keduanya dalam wajan besar budaya nusantara made in Indonesia. Hasilnya terbukti telah tercatat menjadi jejak peradaban manusia modern era budaya digital. ***
*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta