.
KGPAA Mangkunagoro X, foto bersama para penari dan Direktur The Japan Foundation usai pertunjukan. (PM-Esti)
Patmamedia.com (SOLO) — “Semoga semua puas dan senang dengan pagelaran Ryukyu Buyo tadi? Indah, bukan?” ucap Restu Imansari Kusumaningrum kepada para hadirin -- seusai pertunjukan Tari Tradisional Okinawa Ryukyu Buyo yang berlangsung memukau di Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran, Solo, Rabu (23/7/2025).
Pagelaran istimewa ini merupakan hasil kolaborasi antara Bumi Purnati Indonesia—lembaga seni pertunjukan yang didirikan oleh Restu pada tahun 2007—dengan The Japan Foundation, Jakarta, yang secara konsisten mempromosikan seni budaya Jepang di berbagai negara. Kali ini, misi budaya tersebut diwujudkan dalam bentuk pertunjukan tari dan musik teater klasik dari Okinawa, sebagai bagian dari upaya diplomasi budaya di kawasan Asia Timur.
Melalui tarian, menurut Restu, publik tidak hanya menyaksikan keindahan visual, tetapi juga menyelami kekayaan nilai historis dan artistik yang terkandung dalam tradisi Ryukyu Buyo. “Kami berharap pagelaran ini dapat menjadi inspirasi kreatif bagi para seniman Indonesia untuk saling menjalin relasi lintas budaya, menyuarakan keindahan dan kekayaan tradisi, serta membangun jembatan peradaban yang kokoh antara dua bangsa,” ungkapnya dengan semangat.
Saat ditanya oleh patmamedia.com tentang kemungkinan pertunjukan serupa digelar di Yogyakarta, Restu menjawab tegas, “Tentu! Itu sudah dalam rencana. Yogyakarta adalah Kota Budaya yang sangat penting dalam peta seni pertunjukan Indonesia.”
Dalam sambutannya, KGPAA Mangkunagoro X turut menegaskan pentingnya pertukaran budaya lintas negara. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya memperluas wawasan seni masyarakat, tetapi juga mempererat hubungan antarbangsa. “Ini menjadi sumber inspirasi, khususnya bagi generasi muda, untuk terus mencintai dan menjaga warisan budaya sebagai identitas bangsa,” ujar beliau.
Warisan Kerajaan Ryukyu
Pertunjukan Ryukyu Buyo ini merupakan penjelajahan artistik terhadap sejarah panjang Kerajaan Ryukyu yang berdiri sejak abad ke-15 di kepulauan Okinawa, wilayah selatan Jepang. Di masa kejayaannya, kerajaan ini menjalin hubungan budaya dan dagang secara ekspansif dengan berbagai negara Asia, termasuk Tiongkok, Korea, Vietnam, Thailand, Malaysia, hingga Nusantara.
Kebijakan luar negeri yang terbuka ini melahirkan proses asimilasi budaya yang memperkaya khazanah kesenian Ryukyu. Salah satu buktinya adalah kemiripan tangga nada dalam musik Ryukyu dengan musik tradisional Indonesia—sebuah cerminan harmoni antarperadaban.
Delapan sekuen tarian yang dipentaskan malam itu membentangkan narasi perjalanan zaman, mulai dari era feodal yang patriarkal hingga kehidupan sosial modern yang lebih terbuka.
- Yuchidaki — Para penari perempuan membawa potongan bambu yang menghasilkan bunyi ritmis untuk menyucikan ruang dan memohon berkah.
- Kashiaki — Tarian domestik tentang perempuan yang menenun, mengurus rumah, dan menantikan suami yang merantau.
- Inimajin — Para penari membawa bulir padi sebagai simbol doa atas hasil panen melimpah dan kemakmuran negeri.
- Meenuhama — Tarian oleh para pemuda yang merayakan hidup dan memanjatkan harapan akan usia panjang dan kesehatan.
- Wakasashu-zei — Pertunjukan anak laki-laki dengan properti alat perang, melambangkan peran laki-laki sebagai penjaga perbatasan dan pertahanan.
- Tari Kehidupan Modern — Menampilkan relasi laki-laki dan perempuan yang lebih bebas, menggambarkan kegembiraan dalam keseharian masa kini.
- Tarian Kedekatan Remaja — Suasana penuh kehangatan: saling bertukar sapu tangan, mencuci rambut di mata air, hingga bermain bersama dengan riang.
- Hama Chiduri — Penutup puitis yang menyentuh hati. Mengisahkan seorang pengelana yang dilanda rindu kampung halaman saat melihat burung-burung kecil bermain di pantai yang bermandikan cahaya bulan.
Diplomasi Kreatif
Pertunjukan berakhir pukul 21.00 WIB dengan tepuk tangan panjang dari hadirin yang memadati pendopo. Malam itu, suasana begitu istimewa: lampu-lampu antik menyala hangat, dan para tamu tampil berbusana anggun. Hadir pula Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunagoro X beserta kerabat, yang menyaksikan keseluruhan pertunjukan dengan penuh perhatian dan apresiasi.
Pagelaran ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari kerja besar diplomasi budaya antara Indonesia dan Jepang. Penyelenggaraan berikutnya di Yogyakarta tentu sangat ditunggu, karena akan menjadi momentum penting dalam merawat pertukaran budaya dan memperluas jangkauan diplomasi kreatif di Asia.***