.
Dr. Sumbo Tinarbuko
Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko
Sensasi komedi satir Pandji Pragiwaksono mencapai puncak kejayaan algoritma di media sosial. Hal itu terjadi ketika ia berhasil menghadirkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai objek penderita industri tawa yang dibangunnya.
Sensasi komedi Pandji lewat pabrik tawa menggoreskan tanda dan makna yang menjadi jejak digital. Ketika fenomena itu dibaca dengan pendekatan teori semiotika. Sebuah ilmu yang membincangkan tanda dan makna. Memunculkan berbagai tafsir makna konotasi. Salah satunya mencatat pemahaman makna konotasi yang merujuk pada proses disparitas karakter Generasi Milenial, Gen Z dan Alpha.
Algoritma Pandji
Jujur harus diakui, realitas media sosial menorehkan catatan itu. Jejak digital aksi panggung stand-up komika Pandji menggapai pelabuhan popularitas tertinggi. Statistik kegetopannya menunjukkan garis vertikal mentok di puncak. Hal itu terjadi karena ia sukses melontarkan komedi guyonan bergaya komika yang sarkas dan tajam menusuk hati. Bahkan dalam konteks kritik sosial, ia berani meroasting beberapa nama pejabat. Salah satu yang cukup fenomenal adalah roastingan bertajuk Gibran ngantuk.
Frasa Gibran yang ngantuk dianggap sangat lucu. Apalagi ketika diucapkannya berulang-ulang. Tambah lucu lagi manakala Pandji memainkan suaranya dalam berbagai nada dan intonasi. Akibatnya, bagi media sosial, frasa yang diucapkannya memasuki wilayah orbit “duweeerr”, lucu banget, lucu ful. Dampak sosialnya: panggung tempat pementasannya bergetar. Gelak tawa membahana di dalam gedung pertunjukan maupun media sosial.
Atas peristiwa itu, jagat maya media sosial memotret sekaligus merekam jejak digital bertebarannya like, share dan komentar yang beragam. Pada titik ini, algoritma Pandji di media sosial meroket lewat tuturan frasa "Gibran ngantuk".
Di sisi lain, jagat semiotika komunikasi visual menuliskan algoritma Pandji sebagai tanda baru pada ranah media sosial dan jagat komedi stand-up. Tanda, kode dan simbol bermunculan dalam alunan gelombang makna beragam. Makna konotasi yang beterbangan di medsos menambah ketebalan volume algoritma Pandji. Hal itu tampak digambarkan lewat celotehan frasa "Gibran ngantuk".
Beberapa makna konotasi dalam perspektif semiotika komunikasi visual menarik dicatat. Bentuk perwujudan penampakan visualnya muncul bergulung tiada henti. Di antaranya.Gibran sebagai Wakil Presiden dikonotasikan sebagai pejabat publik hemat bicara. Ekspresi wajahnya dingin tanpa ekspresi.
Secara psikologis dan spiritual, Gibran terlihat lebih tenang, teguh, dan bertanggung jawab pada penugasan dari Presiden. Ia senang bertindak dan berkarya nyata ketimbang berkata-kata tanpa guna. Ia senantiasa menjalankan lakuning Pandita: menep, madhep, mantep, nderek kersaning Gusti Allah.
Sebaliknya, Pandji dikonotasikan sebagai pribadi yang boros berkata-kata. Apa pun dikomentari, dibahas, dikritik dan dicelathu (dicacat). Hal itu tercatat rapi dalam algoritma Pandji. Juga tertera pada statistik adsense media sosial miliknya.
Apa pun yang menurut “keyakinan saya” (baca: Pandji) kurang tepat alias tidak relevan akan menjadi objek kritik yang dipanggungkan. Atas pilihan pekerjaan yang dilakoni Pandji, ia harus bersedia menyandang selempang budaya nyinyirisme.
Ideologi Nyinyir
Berdasarkan fenomena itu, Pandji dikokohkan dan ditokohkan sebagai representasi generasi mengeluh serta melenguh. Generasi pemilik ideologi menyalahkan bahkan mengutuk sang gelap. Mereka menjadi bagian dari subkultur Gen Z dan Alpha. Mereka dinilai enggan mencari jalan keluar secara win-win atas keberadaan jagat raya yang tidak selaras dengan harapannya.
Anak muda generasi nyinyir ini secara heroik meneriakkan jargon hebat. Geng serta kelompok ini senantiasa memaksakan kehendaknya lewat ideologi nyinyir yang dikumandangkan Pandji: ‘menurut keyakinan saya’. Hal itu dianggap perwujudan adagium berisik bersama-sama dinilai merupakan representasi intelektualitasnya. Demikian juga sikap senantiasa mengeluh atas keadaan dan kondisi apapun, dianggap merupakan wujud peduli lingkungan dan negeri tercinta.
Pada titik ini, sensasi komedi Pandji menempati singgasana oposisi biner. Secara semiotika komunikasi visual, Gibran dikonotasikan sebagai pelakon protagonis. Sebaiknya Pandji harus menelan pil pahit pada posisi pemain yang memerankan antagonis.
Kuasa Kata-kata
Makna konotasi lain yang lebih menyakitkan harus dipeluk erat oleh Pandji. Ia bahkan dicasting sebagai pion sekaligus brand ambassador atas kapitalisme industri komedi stand-up. Sebuah industri panggung kelucuan yang mempermainkan kuasa kata-kata sebagai representasi tontonan tawa.
Pendeknya, kehadiran kuasa kata-kata semakin menambah ketebalan makna konotasi negatif pada dirinya. Pandji menjadi tokoh sentral. Ia mengoperasionalkan budaya menyindir, nyinyir dan sarkasme di panggung komedi stand-up.
Semua sensasi komedi stand-up yang dipanggungkannya itu sengaja dilakoni Pandji secara sadar. Ia rela menyerahkan jiwa raganya pada lubang jebakan Batman. Sebuah perangkap materialisme dari gurita kapitalisme global industri tontonan. Modusnya dengan menebarkan tenunan jaring kuasa kata-kata. Wujudnya berupa cuan dolar. Muaranya demi mengejar kemaslahatan hidup enak dan nyaman, dalam standar kelayakan kehidupan modern.
Pertanyaannya kemudian, apakah rintisan komedi stand-up yang diangankannya berhasil diwujudkan oleh Pandji? Jawabannya jelas berhasil. Terbukti Pandji terkenal, populer dan kaya raya. Semuanya itu ia peroleh lewat peran operator, sutradara, arsitek sekaligus pelakon terlaris dari industri tontonan kuasa kata-kata. Dalam konteks kapitalisme modern, apakah yang dilakukan Pandji itu sah hukumnya? Silakan pembaca menjawabnya sesuai hati nurani masing-masing. Sepakat? ***
*) Dr. Sumbo Tinarbuko adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta