.
Peserta sosialisasi GASBRO di Aula Dekranasda, Kamis (12/3/26). (PM-Was)
Patmamedia.com (SLEMAN) — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus memperkuat upaya menciptakan lingkungan sehat dengan menyosialisasikan Gerakan Keluarga Sehat Bebas Asap Rokok (GASBRO) dan penguatan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).
Kegiatan ini digelar di Aula Dekranasda Sleman, Kamis (12/3/2026), dan dihadiri perwakilan pemerintah kalurahan, sejumlah lurah, serta agen perubahan (agent of change) GASBRO di Kabupaten Sleman.
Langkah tersebut diambil sebagai respons atas masih tingginya angka konsumsi rokok di Indonesia.
Berdasarkan data nasional, jumlah perokok aktif di Tanah Air mencapai lebih dari 68,9 juta orang, yang berdampak pada meningkatnya kasus kanker paru dan berbagai penyakit tidak menular lainnya.
Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan dan Tata Kelola Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman, Cahya Prihantama menjelaskan, strategi utama yang ditempuh adalah memperkuat kolaborasi lintas tingkatan, termasuk melalui dukungan regulasi di tingkat kalurahan.
“Langkah penting untuk dilakukan adalah melindungi kelompok rentan, terutama ibu hamil dan anak-anak agar tidak merokok di dalam rumah, serta meniadakan kebiasaan merokok di dalam ruangan,” ujarnya.
Selain upaya pencegahan, Cahya juga mengajak masyarakat yang ingin berhenti merokok untuk memanfaatkan layanan konseling Upaya Berhenti Merokok (UBM) yang tersedia di puskesmas.
Hal senada disampaikan dokter spesialis paru RSUD Sleman, dr. Bheti Yuliana Fitrianingsih, SpP. Ia menegaskan bahwa Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat perokok.
Menurutnya, seluruh produk tembakau, baik rokok konvensional maupun rokok elektronik, mengandung zat toksik seperti nikotin, tar, dan logam berat yang berbahaya bagi kesehatan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan perokok aktif, tetapi juga masyarakat sekitar melalui paparan asap rokok tangan kedua (second-hand smoke) dan residu yang menempel pada lingkungan (third-hand smoke).
“Penyakit kronis seperti kanker paru dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) kini menjadi ancaman nyata yang memberikan beban kesehatan besar. PPOK sendiri telah menjadi penyebab kematian nomor tiga di dunia,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk melakukan skrining perilaku merokok serta pemeriksaan fungsi paru secara rutin guna mendeteksi gangguan kesehatan sejak dini.
Langkah tersebut perlu dibarengi dengan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) agar tercipta lingkungan yang lebih sehat dan mendukung upaya pencegahan penyakit. (atm)