Platinum

Pembacaan Teks Toponimi Padukuhan Sleman Digelar di Rumah Budaya Berkeyogyaan

Wijatma T S
10 January 2025
.
Pembacaan Teks Toponimi Padukuhan Sleman Digelar di Rumah Budaya Berkeyogyaan

Beni Kusumawan dan Dany Kencana Putra membacakan naskah toponimi. (PM-ist)

Sleman — Pembacaan teks toponimi padukuhan dari buku Toponimi Seri 1, 2, dan 3 terbitan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman (Kunda Kabudayan Sleman) berlangsung pada Jumat (10/1/2025) di Rumah Budaya Berkeyogyaan, Sendangadi, Mlati. Acara ini digelar sebagai upaya untuk memperkenalkan sejarah asal-usul terbentuknya padukuhan kepada masyarakat luas.  

Dalam acara tersebut, teks toponimi dibacakan oleh Beni Kusumawan, seorang aktor sekaligus wartawan dan penulis naskah sandiwara. Ia membacakan teks dari *Toponimi Seri 1* yang mengisahkan terbentuknya Padukuhan Mancasan, Ambarketawang, Gamping. Pembacaan dilanjutkan oleh Dany Kencana Putra yang membacakan teks dari Toponimi Seri 2 tentang asal-usul Padukuhan Beteng, Tridadi, Sleman, serta teks dari Toponimi Seri 3 mengenai sejarah Padukuhan Mlati Krajan, Sendangadi, Mlati.

Harjuna PH, pemilik Rumah Budaya Berkeyogyaan, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa acara ini bertujuan untuk lebih membumikan pengetahuan tentang toponimi padukuhan di Sleman.  

"Kami ingin masyarakat semakin mengenal asal-usul padukuhan tempat mereka tinggal. Banyak kisah, mitos, dan kronologi sejarah yang menarik di balik nama-nama padukuhan ini. Pengetahuan ini penting untuk melestarikan budaya lokal," ujar Harjuna PH.

Acara tersebut dihadiri oleh seluruh anggota komunitas seni Srandhoel Raos Ngayogyan, tokoh masyarakat, warga sekitar, serta khalayak umum.  

Setelah sesi pembacaan teks, acara dilanjutkan dengan sarasehan dan diskusi yang membahas lebih dalam sejarah dan budaya padukuhan di Kabupaten Sleman. Para peserta tampak antusias mengikuti diskusi yang membahas berbagai mitos dan kisah menarik di balik nama padukuhan di Sleman.  

Acara ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan sejarah dan budaya lokal agar tidak hilang oleh arus modernisasi. (*)

Dilarang

Baca Juga