Platinum

Menjaga Nyala Tradisi di Tengah Badai Modernitas

Danang Dewo Subroto
09 October 2025
.
Menjaga Nyala Tradisi di Tengah Badai Modernitas

Denting suara gamelan dari para pengrawit serasa oase di tengah gegap gempita budaya modern yang melanda gerasi muda. (PM-Danang D)

Patmamedia.com (SLEMAN) - Di sudut sebuah desa di lereng Merapi, suara gamelan  terdengar sayup dari pendapa tua. Beberapa anak muda tampak belajar menabuh dengan ragu, sementara di pojok lain, seorang kakek tersenyum menyaksikan. “Sing penting ana sing nerusake,” gumannya pelan. Yang penting ada yang meneruskan. Ucapan sederhana itu seolah menjadi penegasan, bahwa menjaga kebudayaan tradisional kini bukan lagi perkara mudah, tetapi perjuangan di tengah arus besar modernitas.

Di zaman serba cepat seperti sekarang, segalanya bisa diakses dalam genggaman. Dunia digital hadirkan dengan segala kemudahan, tetapi juga membawa gelombang besar yang kerap menenggelamkan nilai-nilai tradisi. Generasi muda, terutama generasi Z dan Alfa, tumbuh dalam budaya global yang gemerlap. Mereka lebih fasih menyebut istilah “content creator” ketimbang memahami makna “tembang dolanan”. Bahasa daerah perlahan memudar dari percakapan rumah, sementara tata krama dan unggah-ungguh mulai dianggap kuno.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, tetapi tanda krisis identitas budaya. Akar-akar yang dahulu menghidupi kehidupan masyarakat kini mulai mengering. Tradisi yang seharusnya menjadi sumber nilai, semangat, dan kebijaksanaan, semakin tersisih oleh budaya instan yang lebih menarik secara visual namun miskin makna.

Salah satu penyebabnya adalah peran keluarga dan pendidikan yang mulai melemah dalam pewarisan budaya. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya pembentukan karakter anak kepada sekolah dan media digital. “Yang penting anaknya bahagia dan sukses,” begitu alasan yang sering terdengar. Padahal, kebahagiaan tanpa jati diri ibarat rumah tanpa pondasi — tampak kokoh, tetapi mudah runtuh ketika diterpa badai.

Sayangnya, lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi benteng terakhir pelestarian budaya juga belum sepenuhnya berperan. Kurikulum budaya sering kali hanya menjadi formalitas, tanpa ruh dan rasa. Banyak guru muda yang tidak memiliki pemahaman mendalam tentang kebudayaan lokal, bahkan ada yang merasa malu untuk mengajarkannya. Akibatnya, pelajaran budaya menjadi sekadar teori tanpa praktik, tanpa makna, tanpa jiwa.

Padahal, kebudayaan tradisional bukan hanya tarian dan busana adat. Ia adalah cermin moral dan karakter bangsa yang berisi nilai gotong royong, tenggang rasa, andhap asor (rendah hati), serta rasa hormat terhadap sesama. Nilai-nilai ini yang selama berabad-abad menjaga harmoni masyarakat. Jika nilai itu hilang, maka hilang pula akar yang mengikat bangsa ini pada kepribadian aslinya.

Namun, masih ada harapan. Di berbagai tempat, muncul komunitas muda yang mencoba menghidupkan kembali tradisi dengan cara kreatif. Ada yang membuat konten karawitan di media sosial, ada pula yang menggabungkan macapat dengan musik modern. Langkah-langkah kecil itu membuktikan bahwa kebudayaan tradisional bisa tetap hidup tanpa kehilangan rohnya, asalkan dikemas dengan cara yang relevan bagi zaman.

Kebudayaan tidak harus tinggal di museum atau hanya tampil di panggung upacara resmi. Ia harus hidup dalam keseharian  dalam cara kita menyapa orang tua, dalam kesantunan berbicara, dalam kepekaan terhadap lingkungan dan sesama. Pelestarian budaya bukan sekadar upaya mempertahankan masa lalu, tetapi menjaga arah masa depan agar tidak kehilangan pijakan.

Tanggung jawab menjaga tradisi bukan hanya milik para budayawan atau sesepuh, melainkan tanggung jawab bersama. Orang tua menjadi teladan di rumah, guru menjadi penerang di sekolah, dan generasi muda menjadi penjaga yang penuh kreativitas di tengah arus modernitas.

Jika kita berhenti memeliharanya, maka lambat laun kita akan kehilangan jati diri sebagai manusia Jawa, manusia Nusantara  yang menghormati leluhur, menyatu dengan alam, dan menegakkan nilai budi pekerti.

Kebudayaan bukanlah peninggalan masa lalu, melainkan pondasi masa depan. Jangan sampai anak cucu kita hanya mengenal lagu dolanan dari YouTube, tanpa pernah mendengar nyanyian lembutnya dari bibir ibu sendiri. Sebab di sanalah akar kebudayaan itu hidup — dalam kehangatan, dalam rasa, dalam laku sederhana sehari-hari.***

Dilarang

Baca Juga