.
Audiensi Kepala BPS Sleman dengan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan di ruang rapat Wabup Sleman. (PM-ist)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Kabupaten Sleman berhasil mencatat penurunan kemiskinan terbesar di DIY, dengan angka 6,71 persen pada Maret 2025, lebih rendah dibanding sebelum pandemi.
Angka ini menjadi penurunan paling tajam dalam beberapa tahun terakhir, jauh melampaui capaian 2023–2024 yang hanya 0,06 poin.
Dengan pencapaian tersebut, Sleman menjadi daerah dengan penurunan kemiskinan tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Hal itu terungkap dalam audiensi kepala BPS Kabupaten Sleman dengan wakil bupati yang juga Ketua TKPK Kabupaten Sleman, Danang Maharsa, SE, Jumat (3/10).
Audiensi itu dilakukan untuk menyampaikan keterangan rinci tentang pemaknaan angka-angka dari hasil survei.
Danang menyambut gembira hasil itu. Ia menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat.
“Kita harus terus berinovasi dengan program-program yang tepat sasaran agar angka kemiskinan di Kabupaten Sleman semakin kecil,” ujarnya.
Capaian ini bahkan membuat Sleman berhasil menurunkan tingkat kemiskinan ke level yang lebih rendah daripada sebelum pandemi COVID-19. Pada 2019, angka kemiskinan tercatat 7,41%.
Pandemi sempat membuat jumlah warga miskin melonjak, namun tren penurunan baru benar-benar signifikan terlihat pada 2025.
Secara nominal, jumlah penduduk miskin di Sleman tahun ini sebanyak 89.280 jiwa. Namun, menurut Danang, angka tersebut bisa lebih rendah bila hanya menghitung warga ber-KTP Sleman.
“Jika yang dihitung hanya warga yang ber-KTP Sleman, bisa jadi angkanya lebih rendah,” jelasnya.
Untuk mempertahankan prestasi tersebut, Danang meminta percepatan revitalisasi Tim Penanggulangan Kemiskinan (TPK) di tingkat kapanewon, kalurahan, hingga padukuhan. Ia menegaskan, peran TPK sangat vital karena mereka yang paling memahami kondisi riil warganya. (atm)*