.
Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D, memberikan potongan tumpeng kepada Dirut RSA UGM, Dr. dr. Darwito, S.H., Sp.B. Subsp. Onk (K) pada peringatan HUT ke-14 RSA UGM. (PM-Jatmo)
Patmamedia.com (SLEMAN) — Direktur Utama Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), Dr. dr. Darwito, S.H., Sp.B. Subsp. Onk (K), menegaskan bahwa keberadaan RSA UGM bukan untuk menyaingi rumah sakit lain di Yogyakarta, melainkan menjadi pelengkap layanan kesehatan yang masih sangat dibutuhkan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Darwito dalam sambutannya pada peringatan HUT ke-14 RSA UGM, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, tingginya kebutuhan layanan kesehatan terlihat dari banyaknya pasien yang datang dari luar daerah.
“Pasien kami tidak hanya dari Jogja, tetapi juga dari Jawa Tengah bagian selatan, wilayah Pantura, bahkan dari Jawa Timur,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan data yang ada, pasien kecelakaan dari jalur Pantura banyak yang langsung dirujuk ke RSA UGM untuk penanganan ortopedi.
Selain itu, layanan penyakit jantung juga menunjukkan respons cepat, seperti pasien dari Magelang yang dapat ditangani dalam satu hari dan langsung pulang.
Rawat Jalan Capai 3.000 Pasien per Hari
Meningkatnya jumlah pasien rawat jalan yang kini mencapai 2.500 hingga 3.000 pasien per hari mendorong RSA UGM untuk memperluas fasilitas layanan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuka poli khusus bagi civitas akademika Universitas Gadjah Mada dengan mekanisme dan prosedur khusus.
Saat ini, telah tersedia enam poliklinik khusus civitas akademika dan direncanakan akan berkembang hingga 10 poli.
Selain itu, penyakit jantung menjadi kasus terbanyak di RSA UGM. Untuk mengantisipasi hal tersebut, manajemen menambah dua kamar operasi jantung terbuka lengkap dengan ICU dan ICCU.
Penambahan sumber daya manusia juga telah dilakukan dan direncanakan mulai Mei mendatang operasi jantung sudah dapat dilakukan secara optimal.
Poli Spesialis 24 Jam dan Warmindo Biogas
RSA UGM juga mulai membuka poli spesialis 24 jam sejak bulan ini. Untuk mendukung layanan tersebut, koperasi membuka Joglo Kumbakarna yang menyediakan layanan warmindo 24 jam.
Menariknya, warmindo ini menggunakan bahan bakar biogas hasil pengolahan sampah rumah tangga oleh tim teknik kimia.
Inovasi ini menjadi bagian dari rencana RSA UGM untuk mengembangkan konsep Green Hospital.
“Teknologi ini bisa diduplikasi di daerah sebagai alternatif pemecahan masalah sampah,” jelas Darwito.
Konsep Green Hospital ini nantinya juga melibatkan fakultas teknik dan fakultas kedokteran gigi, termasuk pengembangan poli gigi 24 jam.
Rencana Bangun Tower 100 Kamar VIP
Ke depan, RSA UGM juga berencana membangun tower baru dengan 100 kamar VIP. Langkah ini diambil karena tingginya permintaan layanan VIP di Yogyakarta yang masih terbatas.
Meski demikian, Darwito menegaskan, pelayanan di RSA UGM tidak membedakan latar belakang ekonomi pasien.
“Prinsip kami adalah periksa dulu, operasi dulu, bayar belakangan. Semua pasien mendapatkan pelayanan yang sama,” pungkasnya. (atm)