.
Dr. Sumbo Tinarbuko (PM-Dok pribadi)
Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko
FABRIKASI artikel ilmiah dipahami sebagai produksi artikel ilmiah. Harus diterbitkan di jurnal ilmiah terindeks Scopus atau Sinta.
Artikel ilmiah itu wajib dibuat dan dituliskan demi memenuhi persyaratan administratif bagi seorang dosen. Terutama dosen yang mau mengurus kenaikan pangkat. Juga menjadi salah satu syarat untuk meraih tunjangan sertifikasi dosen (serdos). Serta tunjangan kinerja dosen (tukin)
Kewajiban itu juga berlaku bagi dosen agar dapat menggugurkan syarat dharma penelitian dari tridharma perguruan tinggi. Dengan luaran hasil penelitian yang dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah terindeks Scopus atau Sinta.
Ideologi Menindas
Sudah menjadi rahasia umum ketika fabrikasi artikel ilmiah bukan untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Keberadaannya justru diposisikan menjadi mesin penggilas. Dilengkapi pula dengan ideologi menindas bagi dosen yang berkarya di ranah akademik di dalam industri pendidikan tinggi.
Realitas sosial mencatat fakta yang mengejutkan. Apakah itu? Di belakang nama mentereng jurnal ilmiah Scopus. Ternyata tersembunyi mekanisme yang mengubah dosen menjadi pekerja paksa. Bahkan bukan sekadar buruh SKS.
Pada titik ini, ilmu pengetahuan menjadi produk dagangan. Yang lebih mengerikan lagi di balik ideologi menindas. Terbukti
kebebasan berpikir lewat modus ideologi menindas diubah menjadi kewajiban membayar.
Artinya, dosen yang mengirimkan artikel ke jurnal ilmiah terindeks Scopus harus membayar sejumlah uang. Kepada siapa? Kepada pihak penerbit jurnal ilmiah terindeks Scopus. Hal itu menjadi representasi wajah baru penjajahan intelektual di jagat akademik.
Sang penjajah itu tidak menjajah tanah air secara fisik. Mereka menjajah secara halus. Mereka membuat aturan terkait dengan kualitas intelektual seorang dosen lewat standar penilaian karya ilmiah.
Mereka menentukan nilai atas kualitas artikel ilmiah. Ujungnya, mereka menentukan mahar berwujud uang sebagai syarat dimuatnya artikel ilmiah yang dibuat para dosen.
Ideologi menindas ini bekerja secara sistematis layaknya sebuah pabrik. Bahan bakunya berwujud ide, data serta pemikiran dari dosen dan peneliti.
Produksi akhirnya dijual sebanyak dua kali. Dijual kepada siapa? Tentu saja ditawarkan kepada penulis agar artikelnya terbit. Dijual juga kepada pembaca yang ingin membaca dan mensitasi artikel itu. Siapa yang diuntungkan? Secara kasatmata keuntungan atas pembayaran artikel ilmiah mengalir deras ke rekening pemilik modal.
Pada sudut ini, dosen dan peneliti diposisikan hanyalah sebagai buruh akademik. Selain tentu saja buruh SKS. Mereka wajib membayar mahar agar diizinkan masuk ke dalam pabriknya sendiri.
Hakikat Ilmu
Fabrikasi artikel ilmiah menjadi jalan tol menuju fabrikasi nilai. Tafsirnya, artikel ilmiah yang ditulis para dosen. Oleh penerbit jurnal ilmiah terindeks Scopus dijadikan barometer kualitas pemikiran seorang dosen.
Padahal realitas sosial memaparkan bukti otentik. Apa itu? Ditemukan banyak artikel ilmiah yang ditulis sekadar memenuhi angka kredit. Dari sini terlihat adanya arus pergeseran hakikat ilmu pengetahuan.
Masalah lain yang muncul berupa ketergantungan pada standar asing. Apa maksudnya? Terkikisnya hakikat ilmu akibat dari penentuan lolos tidaknya artikel ilmiah ditentukan pihak asing.
Artinya, apa yang dianggap bernilai atas sebuah artikel ilmiah ditentukan oleh pihak luar. Apa dampaknya? Sebagai pihak yang terjajah, terpaksa para dosen yang menulis artikel ilmiah wajib mengikuti template penulisan artikel ilmiah.
Dosen dan peneliti wajib menyesuaikan tema, metode, referensi, dan tata tulis penulisan artikel ilmiah. Bahkan cara berpikirnya pun mesti menyesuaikan diri dari pihak penerbit jurnal ilmiah terindeks Scopus.
Selain itu, terjadi ketidakadilan akses. Hal itu muncul ketika dosen sebagai penulis harus membayar sejumlah uang. Anehnya lagi, pembaca yang ingin membaca dan mensitasi artikel itu juga harus membayar.
Modus kejahatan akademik seperti itulah yang menjadi ciri khas penjajahan intelektual. Dosen dan peneliti yang menciptakan nilai lewat artikel ilmiah. Mereka justru dipungut upeti atas hasil karyanya sendiri.
Penerbit tidak menulis. Tidak meneliti. Tidak mengumpulkan data. Tetapi justru merekalah yang meraih keuntungan sangat besar.
Dosen dan peneliti yang bekerja berdarah-darah harus membayar jerih payahnya sendiri. Semuanya itu terpaksa mereka lakukan agar karya tulisnya dapat diterbitkan di jurnal ilmiah terindeks Scopus.
Fabrikasi terjadi ketika artikel ilmiah diposisikan bagaikan produksi barang dan jasa. Bukan didudukan dalam format karya ilmiah yang benar dan bermanfaat bagi khalayak luas.
Melainkan sekadar memenuhi selera pasar penerbit asing. Seperti inilah bentuk penjajahan akademik yang paling halus. Apa dampaknya? Sang penjajah akademik pelan namun pasti merusak atmosfir akademik. Mereka dengan sangat halus dan sopan, menguasai aset pikiran sebuah bangsa. Melalui apa? Lewat standar nilai yang mereka ditentukan secara sepihak.
Apa yang akan terjadi kemudian? Jelas kemandirian akademik sulit terwujud. Manakala standar pengakuan atas kualitas akademik lembaga pendidikan tinggi. Serta takaran intelektualitas seorang dosen sepenuhnya ditentukan pihak asing.***
*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta.