Platinum

Boyongan Manten Satu RW, Warga Iringi Pengantin Jalan Kaki Penuh Haru dan Gembira

Wijatma T S
15 June 2025
.
Boyongan Manten Satu RW, Warga Iringi Pengantin Jalan Kaki Penuh Haru dan Gembira

Sukirman (kiri), orangtua pengantin wanita mendampingi mempelai berdua.(PM-ist)

Di tengah gemerlap tren pernikahan modern yang serba glamor dan mewah, sepasang pengantin di Kayen, Condongcatur, Sleman justru menghadirkan nuansa berbeda yang hangat dan membumi.

Ada yang unik dan menghangatkan hati dari prosesi pernikahan pasangan Dian Ramadhani Samudera Wijaya (28) dan Yan Ardiyanto (33) di Kayen, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Tradisi Boyongan Manten, yang biasanya melibatkan iring-iringan kendaraan atau karnaval adat, kali ini berlangsung sederhana namun sarat makna, dilakukan dengan berjalan kaki karena jarak rumah mempelai perempuan ke mempelai pria hanya sekitar 200 meter.

Warga satu RW pun larut dalam suasana haru sekaligus meriah. Iring-iringan dimulai dari rumah Dian di RT 07 menuju rumah Yan di RT 08, keduanya masih berada di lingkungan RW 45. Tradisi ini menjadi istimewa karena tak hanya mengusung adat Jawa yang kental, tapi juga memperlihatkan kehangatan komunitas yang solid.

“Ini bukan sekadar prosesi, tapi juga simbol penghormatan kami kepada keluarga besar dan warga sekitar. Kami ingin tetap membawa nilai-nilai budaya, meski secara fisik hanya berpindah RT,” ujar Sukirman, ayah dari mempelai perempuan sekaligus Ketua RW 45, dengan mata berkaca-kaca.

Rombongan membawa 17 macam oleh-oleh khas Boyongan Manten seperti wajik ketan, bakpia, salak, peyek, telur asin, hingga emping dan lapis legit. Tangan-tangan warga yang membawa sesaji ini ikut melambangkan semangat gotong-royong dan doa restu.

Yan Ardiyanto, mempelai pria yang merupakan putra dari pensiunan tentara Bapak Marsudi dan Ibu Suwarni, menyambut kedatangan mempelai perempuan dengan penuh haru. Sebagai anak kedua, sama seperti Dian, prosesi ini menjadi babak penting dalam hidup mereka, terutama karena mereka memilih tetap dekat dengan keluarga besar.

Sebelumnya, akad nikah dan resepsi pasangan ini telah dilangsungkan di Gedung Serbaguna Kalurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, pada 1 Juni 2025. Namun tradisi boyongan hari ini menjadi momen yang paling membekas bagi warga sekitar.

“Jarang-jarang bisa lihat manten diarak jalan kaki di dalam kampung seperti ini. Malah jadi meriah dan akrab,” ujar, Wasana, seorang warga sembari tersenyum sambil merekam prosesi dengan ponselnya.

Tradisi Boyongan Manten bukan hanya soal adat dan simbol perpisahan, tapi juga tentang menjaga jalinan antar-keluarga dan komunitas. Dan di RW 45 ini, nilai-nilai itu hidup, sederhana, namun menyentuh hati.(atm)

Dilarang

Baca Juga