Blangkon Beji: Warisan Turun-Temurun yang Menjejak hingga Dunia
Wijatma T S
05 December 2025
.
Muhammad Khoirudin, saat ini jadi perajin tertua di dusun Beji tengah merapikan potongan kain dijadikan Blangkon. (PM-Jatmo)
SLEMAN — Di antara persawahan dan jalan kampung yang tenang di Kalurahan Sidoarum, Godean, Sleman, terdapat sebuah dusun kecil yang menyimpan jejak panjang tradisi Jawa. Namanya Dusun Beji, satu-satunya kampung yang dikenal sebagai sentra kerajinan blangkon, penutup kepala khas Jawa yang tak lekang oleh waktu. Bukan sekadar kerajinan, blangkon di sini adalah napas sejarah yang diwariskan turun-temurun sejak masa pendudukan Jepang.
Di Beji, kepiawaian merangkai kain batik menjadi blangkon sudah seperti darah yang mengalir dari generasi ke generasi. Semua bermula dari Sumoprawiro, sang leluhur sekaligus perajin pertama di dusun itu. Dari tangannya, keterampilan merapikan lipatan, memahat bentuk kepala, hingga menentukan sudut tekukan batik diturunkan kepada anak, cucu, hingga cicitnya. Kini, tercatat ada 14 perajin yang mayoritas masih merupakan keturunan langsung.
Salah satunya adalah Muhammad Khoirudin, lelaki berusia lebih dari 75 tahun yang masih setia duduk bersila di ruang kerjanya, merapikan potongan kain. Jemarinya tidak lagi sekuat dulu, namun ingatannya terhadap masa awal ia belajar membuat blangkon justru semakin tajam.
“Sejak umur 16 tahun saya belajar dari Pakde Sumoprawiro,” tuturnya pelan, seolah kalimatnya membawa kembali suasana masa lalu yang penuh disiplin dan dedikasi.
Setiap blangkon buatan Beji memiliki ciri khas yang sulit dilupakan: rapi, halus, dan nyaman dipakai. Tak perlu label, para pecinta busana tradisional akan tahu hanya dengan mengenakannya. Keistimewaan itu pula yang membuat nama Beji meluas hingga dikenal pesohor dan keraton.
Raffi Ahmad, salah satu artis papan atas Indonesia, pernah memesan 275 blangkon dari dusun ini. Bahkan Keraton Yogyakarta tercatat menjadi pelanggan setia sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
“Waktu itu saya yang menerima pesanan untuk utusan Raffi Ahmad,” kenang Khoirudin sambil tersenyum.
Harga blangkon Beji pun beragam. Dari Rp75.000 untuk standar sederhana hingga jutaan rupiah jika dibuat dari batik berkualitas tinggi. Pasarnya tidak hanya pedagang Pasar Beringharjo atau abdi dalem keraton, tetapi juga para dalang, pelaku budaya, hingga kolektor luar negeri.
Menembus Dunia Lewat Daring
Arif Sukarahmawan, salah satu perajin muda di Beji, melihat geliat lain di tengah pasar lokal yang semakin sempit. “Sekarang banyak yang sudah daring. Pesanan dari luar kota bahkan luar negeri makin sering,” ujarnya. Blangkon Beji kini dikirim ke Malaysia, Suriname, hingga negara lain tempat masyarakat Jawa bermukim.
Ruang digital menjembatani tradisi dengan masa depan. Orang-orang yang merantau bisa memesan blangkon hanya lewat layar ponsel, sementara para perajin bisa mempertahankan mata pencaharian tanpa bergantung pada penjualan konvensional semata.
Namun, di balik peluang itu tersimpan problem yang membuat masa depan kerajinan ini terasa rapuh.
Tantangan Besar: Regenerasi dan HKI
Yang paling dikhawatirkan para perajin adalah penurunan minat generasi muda. Tidak banyak anak desa yang mau belajar membuat blangkon. “HKI dan regenerasi adalah tantangan terbesar. Anak-anak muda belum tertarik terjun ke kerajinan ini,” ungkap Arif.
Selain itu, hingga kini belum ada Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang melindungi karya mereka. Identitas blangkon Beji berisiko ditiru, bahkan diklaim pihak lain.
Padahal pemerintah membuka kesempatan luas untuk hal itu. Kabid Usaha Mikro Dinas Koperasi UKM Sleman, Sri Wahyuni Budiningsih, menuturkan bahwa setiap tahun pemda menyediakan kuota gratis bagi pelaku usaha yang ingin mendaftarkan HKI.
“Yang paling cepat memanfaatkan program biasanya anak muda, karena mereka aktif mengakses informasi. Sayangnya banyak pelaku UMKM tradisional belum banyak terjangkau,” jelasnya. Ia menambahkan, penerbitan HKI kini jauh lebih cepat dari sebelumnya, tidak lagi menunggu hingga dua tahun.
Sri berharap para perajin blangkon Beji mengambil langkah perlindungan hukum atas karya mereka sebelum terlambat.
Menjaga Api Warisan
Dusun Beji bukan sekadar penghasil blangkon. Ia adalah penjaga identitas budaya Jawa. Di tengah arus modernitas yang mengikis tradisi, Beji berdiri kokoh membawa jejak masa lalu agar tetap hidup. Namun tradisi tak akan bertahan tanpa penerus.
Jika generasi muda mulai duduk di tikar-tikar kerja, jika kain batik kembali dilipat dan dijahit dengan tangan-tangan segar, mungkin seratus tahun ke depan Blangkon Beji masih akan dikenakan, tidak hanya di panggung budaya, tapi di kepala siapa saja yang bangga menjadi bagian dari warisan ini.
Karena Beji bukan hanya dusun. Ia adalah sejarah yang masih berdenyut. (Jatmo)