.
Penampilan Dramatic Reading. (PM-Kus)
SUASANA ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (30/9/2025), sore itu berbeda. Alunan tembang dolanan bocah mengalun manis, namun bukan dari suara anak-anak seperti biasanya. Sekelompok ibu-ibu anggota Paguyuban Kembang Adas dengan penuh semangat melantunkan tembang “Padang Bulan”, “Gotri Nogosari”, hingga “Cungkup”. Tembang yang akrab di telinga generasi tempo dulu itu seakan menghadirkan kembali keceriaan masa kecil yang lama terlupakan.
Itulah salah satu suguhan dalam peringatan ulang tahun ke-9 Paguyuban Kembang Adas. Sebuah komunitas budaya yang sejak sembilan tahun silam terus konsisten nguri-uri tradisi Jawa lewat karya sastra, seni pertunjukan, hingga kegiatan pelestarian budaya.
Paguyuban ini lahir dan tumbuh berkat sosok budayawan senior, Furtunata Sri Kaswami Rahayu. Perempuan kelahiran Wonosari, Gunungkidul, 19 Desember 1942 ini akrab disapa Cicit Kaswami. Dengan usianya yang kini 83 tahun, kiprahnya di dunia budaya Jawa masih terus menyala.
Cicit Kaswami dikenal sebagai penulis cerita cekak, novel, geguritan, hingga naskah pagelaran. Karyanya tak berhenti di tulisan; ia juga piawai dalam dramatic reading dan pementasan drama panggung. Dedikasinya menjadikan dirinya bukan sekadar “senior” dalam usia, tapi juga dalam kiprah budaya.
Sebagaimana pakem pagelaran Jawa tempo dulu, acara ulang tahun dimulai dengan tembang panembrama Kinanti Purbo Kastawa. Suasana khidmat semakin lengkap dengan penampilan tari tradisional dari Sanggar Tari Sajiwa, yang membuka jalan menuju acara puncak.
Paguyuban Kembang Adas tak hanya merayakan dengan hiburan, tetapi juga mengajak hadirin untuk menyelami akar budaya Jawa. Pembacaan nukilan dari antologi cerkak dan geguritan berjudul Kembang Setaman—buku terbaru yang diluncurkan bertepatan dengan ulang tahun ini, menjadi salah satu penegasan bahwa mereka masih produktif dalam berkarya.
Ratu Kelangan Wahyu: Membawa Penonton ke Abad ke-7
Puncak acara adalah Dramatic Reading berjudul “Ratu Kelangan Wahyu”. Pagelaran ini mengajak penonton memasuki dunia kisah Kerajaan Kebangsren pada abad ke-7 Masehi, dengan tokoh utama seorang raja lalim bernama Ri Malang.
Berbeda dengan drama pada umumnya, dramatic reading tak menuntut pemain menghafal naskah. Naskah dibacakan, tetapi dengan intonasi, ekspresi, dan ucapan yang kuat sesuai karakter. Hasilnya, suasana pertunjukan tetap hidup, bahkan mampu menghipnotis penonton untuk larut dalam cerita.
Ulang tahun ke-9 Paguyuban Kembang Adas membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan dengan cara yang segar dan kreatif. Tembang dolanan anak, yang dulu dimainkan di halaman rumah atau sawah, kini dipentaskan dengan format berbeda—oleh para ibu yang ingin kembali bernyanyi seperti anak-anak.
Kehangatan itu berpadu dengan pembacaan sastra dan dramatic reading yang menghadirkan napas baru dalam seni pertunjukan. “Apa yang kami lakukan hanyalah upaya kecil untuk menjaga warisan budaya Jawa agar tetap hidup di tengah masyarakat,” demikian semangat yang tercermin dari perjalanan paguyuban ini.
Sembilan tahun bukanlah waktu singkat. Paguyuban Kembang Adas sudah membuktikan diri sebagai ruang bertumbuhnya sastra, seni, dan tradisi. Dengan semangat nguri-uri budaya, mereka masih terus menapaki jalan panjang, memastikan tembang, geguritan, hingga cerita Jawa tak hanya tinggal dalam buku sejarah, tetapi juga hidup di hati generasi berikutnya.
Editor: Wijatma