Platinum

Tak Mau Sepak Bola Sleman Mundur, Wahyudi Kembali Bertarung Rebut Kursi Ketua Askab

Ipong Suhardiyanto
19 February 2026
.
Tak Mau Sepak Bola Sleman Mundur, Wahyudi Kembali Bertarung Rebut Kursi Ketua Askab

Penyerahan dokumen persyaratan calon ketua askab Wahyudi Kurniawan kepada panitia seleksi (pansel) asprov PSSI DIY. (Foto: Ipong S)

Parmamedia.com (SLEMAN) – Wahyudi Kurniawan kembali mencalonkan diri dalam pemilihan Ketua Askab PSSI Sleman periode 2026–2030. Usai menyerahkan berkas pencalonan di kantor Asprov PSSI DIY, Rabu (18/2), Wahyudi menegaskan komitmennya untuk melanjutkan roadmap pembinaan sepak bola Sleman melalui program jangka pendek, menengah, dan panjang yang telah dirancang selama 15 tahun.

"Hari ini perjalanan itu telah memasuki tahun ke-12. Artinya, masih ada tiga tahun strategis yang harus kita optimalkan bersama agar fondasi yang telah dibangun benar-benar kokoh dan berkelanjutan,” ujar Wahyudi.

Ia menegaskan, pengelolaan sepak bola profesional tidak semata berorientasi bisnis. Di dalamnya terdapat mandat pembinaan generasi muda untuk membangun sportivitas dan prestasi. Dalam konteks daerah, sepak bola juga menjadi bagian dari kebanggaan (pride) masyarakat.

Menurutnya, sepak bola tidak boleh dikelola secara dadakan atau sekadar menjadi agenda musiman. Dibutuhkan visi dan misi yang jelas, serta tahapan pengembangan yang terukur dan konsisten.

“Ada tujuan besar yang ingin kita capai, dengan strategi, program, dan target yang terukur. Semua itu disusun dengan merujuk pada Statuta FIFA, PSSI, serta RPJMD Kabupaten Sleman. Kemudian disinergikan dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari sponsor, klub, SSB, sekolah, pengurus, hingga para pecinta sepak bola, sehingga terbentuk ekosistem sepak bola Sleman yang profesional,” tambahnya.

Wahyudi juga menekankan, sepak bola merupakan ruang pembelajaran karakter. Di dalamnya, anak-anak bangsa diasah untuk menjunjung sportivitas, fair play, kreativitas, kerja sama tim, dan persaudaraan. Kompetisi, kata dia, adalah wahana pembentukan karakter (character building), integritas (integrity), dan penjagaan kehormatan (pride).

"Berkiprah di sepak bola berarti membangun manusia. Siapa pun yang terlibat, termasuk saya sendiri, harus diingatkan bahwa mengurus bola harus dijauhkan dari mentalitas arogan, nepotisme, kepentingan politik sesaat, serta sikap mencari keuntungan pribadi maupun kelompok,” tegasnya.

Menanggapi isu-isu yang berkembang terkait pergantian kepengurusan Askab PSSI Sleman, Wahyudi berharap proses pemilihan pengurus periode 2026–2030 berjalan secara fair dan alamiah.

Proses suksesi, menurutnya, tidak boleh diwarnai praktik-praktik tidak terhormat seperti saling menjegal dengan memanfaatkan kekuasaan, sogok-menyogok, maupun cara-cara lain yang bertentangan dengan nilai sepak bola.

“Hal-hal seperti itu jelas merusak marwah sepak bola Sleman yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengurus mendatang menghadapi tugas besar, yakni menyempurnakan pengembangan sepak bola Sleman sekaligus menyiapkan regenerasi kepemimpinan secara baik dan elegan.

“Kepemimpinan bukan sekadar soal figur, melainkan kesinambungan visi. Tongkat estafet Askab harus berada di tangan orang-orang yang memahami potensi, kultur, dan karakter sepak bola Sleman,” tutup Wahyudi..

Dalam pencalonannya kali ini, Wahyudi mengaku telah menyiapkan sejumlah langkah strategis apabila kembali dipercaya memimpin Askab PSSI Sleman periode 2026–2030.

grafis: muh sugiono 

Dengan komitmen tersebut, Wahyudi berharap kesinambungan pembinaan sepak bola Sleman dapat terus terjaga dan semakin berdaya saing di masa mendatang.***

Editor: Muh Sugiono 

Dukungan

Baca Juga