Platinum

Bangun Personal Branding via Medsos

Ipong Suhardiyanto
14 October 2026
.
Bangun Personal Branding via Medsos

Dr. Sumbo Tinarbuko.

Oleh Dr. Sumbo Tinarbuko


FAKTA membuktikan. Ternyata tidak sedikit yang salah mengartikan pemahaman dari merek diri atau jamak dilafalkan sebagai personal branding. 

Mereka mengira sekadar upaya untuk tampil mempesona di ruang publik atau ruang publik virtual. Bahkan ada yang beranggapan sebagai siasat untuk mendongkrak jumlah perolehan follower di medsos.  

Padahal kenyataannya, banyak yang terjerembab dalam kubangan yang sama. Mengapa demikian? Karena mereka sejatinya terjebak dalam gaya hidup paritas. 

Mereka secara mentah-mentah mencontek kepribadian idolanya. Semangatnya hanya meng-copy-paste. Yang muncul dalam tayangan personal branding sekadar meniru gaya orang lain.

Mereka menampilkan dirinya secara tidak konsisten. Mereka tidak sanggup menunjukan nilai dirinya.  

Mereka lebih mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas diri pribadi. Bahkan tidak jarang mereka menampilkan sosok yang berbeda dari kenyataan hidup dan kehidupannya sehari-hari. 

Dengan demikian, ketidaksesuaian penampakan visual dirinya. Dengan kenyataan kehidupan sehari-harinya.  Akan melahirkan mosi tidak percaya. 

Peristiwa ketidakpercayaan semacam itu, dalam konteks personal branding, menjadi susah untuk diperbaiki.

Keinginan Disukai

Dimanakah letak kesalahannya? Masalah utamanya tertuju pada dua pilihan pokok. Antara tampil selaras dengan selera publik. Atau rela menjadi diri sendiri. 

Dilema semacam ini menjadi faktor penyebab yang mengaburkan keaslian personal branding. Sebagai sebuah representasi jati diri seseorang. Siapakah mereka? Insan manusia yang sedang menjalankan proses personal branding lewat medsos.

Demikian pula sebaliknya. Bagi mereka yang personal brandingnya sudah terbentuk secara kokoh dan konsisten. Serta memiliki banyak follower. Mengakibatkan kebebasan berekspresi atas diri pribadi seringkali bertabrakan dengan tanggung jawab sosial. 

Apa yang disampaikannya di depan publik. Tidak dengan serta merta menjadi milik pribadi. Cara berpikir dan gaya bicaranya harus menjadi teladan bagi warga masyarakat dan warganet.

Pada titik ini, pelaku personal branding harus dapat menjalankan keseimbangan diri. Ia harus senantiasa menghadirkan dirinya sebagai pribadi yang baik. 

Mengedepankan sopan santun dan andhap asor. Hidup bersahaja, mampu menginspirasi siapa pun. Berdampak positif dan bertanggung jawab atas perilaku yang dijalankannya. Serta tutur kata yang diucapkannya. 

Artinya, pelaku personal branding yang sejati bukanlah pola penciptaan sosok baru. Melainkan penampilan jatidiri pribadi secara konsisten dan terarah.

Untuk itu, para pelaku personal branding harus mengedepankan tiga pilar utama. Meliputi: keaslian, konsistensi, dan kebermanfaatan. 

Diksi keaslian dipahami sebagai upaya mengedepankan rasa kepercayaan. Hal ini penting menjadi fondasi utama dari bangunan personal branding. 

Pada titik ini, orang lebih mempercayai ketidaksempurnaan yang dihadirkan secara jujur. Ketimbang kesempurnaan semu yang direkayasa dan dipercantik sedemikian rupa.

Selanjutnya diksi konsistensi dihadirkan demi membangun sebuah ingatan yang baik. Artinya, eksistensi personal branding  senantiasa menghadirkan nilai lebih. Juga keunikan yang menjadi penanda visual seseorang. Kemunculannya selalu diulang secara terus menerus dan berkesinambungan. Sehingga kehadirannya membentuk ciri khas yang mudah dikenali oleh siapa pun. 

Diksi kebermanfaatan direkatkan dalam tubuh orang yang sedang menjalankan proses personal branding. Hal itu dilakukannya demi menjaga keberlangsungan dan keberlanjutannya. 

Tafsir dari diksi kebermanfaatan ini. Dimaksudkan untuk mengajak orang lain alias followernya secara sukarela mengikuti dirinya. 

Apa kepentingannya? Tentu saja agar para follower memperoleh energi positif. Bentuknya? Berupa gelombang gagasan, bunga-bunga inspirasi atau hembusan angin segar wawasan pengetahuan. 

Hal ini menjadi penegasan sangat hakiki yang menyatakan proses membangun personal branding via medsos. Bukan sekadar flexing status sosial. Bukan pula sekadar pamer kehadiran sebagai representasi unjuk paras rupawan di medsos.

Langkah Sederhana
 
Membangun personal branding alias merek diri di medsos. Dapat digerakkan lewat jalan yang sangat sederhana, gampang dan cespleng.  

Seperti apa wujud gerakannya? Pertama, temukan dan kenali kelebihan serta keunikan diri pribadi. Dari sana akan didapatkan nilai lebih. Hal itu menjadi keunikan diri pribadi dari seseorang yang sedang membangun proses personal branding. 

Kedua, wajib menentukan pesan utama dari setiap unggahan di medsos. Ketiga, menampilkan gaya visual yang khas, alami, dan konsisten dalam setiap postingan di medsos. 

Keempat, wajib melakukan kontrol ketat sebelum mengunggah sebuah konten di medsos. Pilih dan pilah setiap konten yang akan dibagikan kepada warganet di medsos. 

Mengapa hal ini harus dilakukan? Semuanya itu perlu dikerjakan demi mengejar asas kebermanfaatan. Tidak menimbulkan kerugian kepada para pihak. Tidak memunculkan peristiwa sosial berupa miskomunikasi. Maupun disinformasi atas sebuah konten yang dibagikan di medsos.  
 
Harus diakui bersama, sesungguhnya medsos dihadirkan sebagai media sosial yang bersifat netral. 

Masalahnya kemudian muncul ketika medsos dijadikan medium politik. Atau diselewengkan menjadi media untuk menyebarluaskan energi negatif. 

Energi negatif menjadikan medsos sebagai lokomotif untuk menyebarluaskan berita bohong. Medsos diposisikan sebagai corong untuk mengumandangkan  informasi yang dapat memicu perkelahian digital.

Sudah saatnya membangun personal branding via medsos dengan menorehkan jejak digital yang membangun energi positif. Meninggalkan jejak peradaban digital yang mengedepankan kebermanfaat. Mengutamakan kebaikan bagi sesama insan manusia. 

Mengapa hal itu harus dilakukan? Sebab membangun personal branding via medsos. Sejatinya berurusan dengan bagaimana caranya membangun citra baik yang terpercaya. Serta bagaimana memproduksi makna yang memiliki nilai baik dalam perspektif baik yang sebaik-baiknya. 


*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual

Dilarang

Baca Juga